Modul B.Indo XI.Semester 3

Posted on May 21, 2011

0


MODUL

DISUSUN OLEH:

LILIS  RUSENYWATI

Tema 1

Ilmu pengetahuan dan teknologi

  1. A.          MENDENGARKAN INFORMASI DARI BERBAGAI SUMBER DALAM DISKUSI ATAU SEMINAR

            Setelah mengikuti pembelajaran ini diharapkan siswa dapat: (1) mencatat pokook-pokok isi uraian/penjelasan teman, (2) merangkum isi pembicaraan teman, (3) menuliskan tanggapan pribadi kepada teman dalam bentuk memo.

Pernahkan Anda menghadiri suatu diskusi panel atau seminar? Diskusi panel atau seminar merupakan salah satu forum resmi untuk membicarakan dan membahas suatu hal atau masalah. Dalam diskusi atau seminar terdapat dua unsure yang berperan aktif menghidupkan seminar, yaitu narasumber atau pemakalah dan peserta diskusi.

Hall terpenting yang harus diperhatikan seorang peserta diskusi adalah memahami materi atau bahasan yang disampaikan oleh pemakalah atau narasumber. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengidentifikasikan informasi yang disampaikan dalam seminar. Mengidentifikasikan informasi  di sini dapat diartikan sebagai proses mendengarkan dan menuliskan ide-ide penting atau pokok-pokok pikiran. Selanjutnya, hasil proses identifikasi tersebut dapat diisajikan dalam bentuk simpulan berupa tulisan tulisan rangkuman diskusi panel atau seminar. Lewat susunan paragraph-paragraf singkat berupa rangkuman tersebut. Diharapkan orang yang membacanya dapat memahami materi diskusi secara keseluruhan.

Mengikuti sebuah diskusi atau seminar akan lebih terasa memuaskan jika kita aktif di dalamnya, baik sebagai narasumber maupun sebagai peserta yang aktif bertanya dan mmennanggapi setiap informasi yang disampaikan narasumber. Agar kita dapat aktif dalam sebuah diskusi, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, di anataranya sebagai berikut.

  1. 1.      Menentukan (mencatat) Aspek Kebahasaan

Satu hal yang paling berpengaruh dalam diskusi adalah keterampilan menggunakan bahasa dalam memengaruhi pendengar. Keterampilan yang dimaksud, seperti: penggunaan kosakata, ungkapan, dan perumpamaan.

  • Kosakata

Seorang  pembicara hendaknya mempergunakan kosakata yang tepat, kosakatabaku, dan efektif yang langsung mengungkapkan pikiran dan perasaannya. Bandingkan kosakata dalam kedua pernyataan berikutt!

  1. a.    Kebiasaan siswa mengerjakan ulangan secara tidak jujur tentu saja merugikan diri-sendiri
  2. Kebiasaan siswa mencontek ketika ulangan akan menghambat kemandiriannya.
  • Perumpamaan

Untuk menghidupkan ide dan perasaan, seorang pembicara dalam diskusi atau seminar dapat menggunakan perumpamaan. Ia dapat membuat perbandingan ide atau perasaan pendengar. Contoh:

  1. a.  Mereka seperti terbangun dari tidur yang panjang ketika mengetahui bahwa sikap bermalas-malasan telah mengantarkan mereka kepada kondisi hidup yang menderita saat ini.
  2. Mereka baru menyadari bahwa sikap bermalas-malasan telah mengantarkan mereka kepada kondisi hidup yang menderita saat ini.
  3. c.   Kita bukannya kerbauu yang dicocok hidungnya. Kita adalah manusia bebas yang sepantasnya menentukan sikap hidup sendiri.
  4. Kita bukannya orang yang selalu menuruti kemauan orang lain. Kita adalah manusia bebas yang sepantasnya menentukan sikap hidup sendiri.
  1. 2.      Mengungkapkan Isi Informasi

Isi informasi yang disampaikan narasumber dapat kita temukan dengan menangkap pokok pikiran atau gagasan utama informasi tersebut terlebih dahulu. Baruu setelah itu kita dapat mengungkapkan isi informasii yang disampaikan.

Berikut ini contoh materi yang dapat dijadikan materi atau bahan diskusi panel atau seminar.

PEMBERDAYAAN SAMPAH

SEBAGAI UPAYA PENGURANGAN

PENCEMARAN LINGKUNGAN

 

BAB I

PENDAHULUAN

Dampak kegiatan manusia terhadap lingkungan luar biasa besarnya. Banyak kegiatan manusia yang mengganggu keseimbangan lingkungan. Salah satu masalah yang ditimbulkan adalah sampah.

Sampah merupakan masalah terbesar saat ini. Banyak sampah yang berceceran di jalan-jalan. Sampah yang berceceran bisa masuk ke dalam selokan. Sampah ini akan menyumbat aliran air. Akibatnya air akan meluber ke mana-mana karena air ini  tidak sampai ke tempat penyerapan.

Untuk mengatasi masalah itu, diperlukan pengelolaan lingkungan agar masalah sampah ini dapat teratasi tanpa menimbulkan dampak negatif. Upaya pemanfaatan, penataan, pemeliharaan, pengawasan, pengendalian, pemulihan, dan pengembangan lingkungan dalam melaksanakan pembangunan berwawasan lingkungan untuk kepentingan generasi sekarang dan mendatang perlu diadakan mulai sekarang.

Salah satu caranya adalah sampah yang masih berguna bisa diolah lagi menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi kita semua melalui proses daur ulang. Misalnya dengan dibuat kompos, biogas, hiasan, dan bahan lain yang lebih bermanfaat. Untuk mengelola sampah-sampah ini pemerintah kabupaten dapat memberdayakan  organisasi yang sudah ada ataupun mengelolanya dalam bentuk home industri.

BAB II

PEMBERDAYAAN SAMPAH SEBAGAI UPAYA PENGURANGAN

 

PENCEMARAN LINGKUNGAN

Sampah yang sering disebut dengan limbah bisa dikatakan sebagai sesuatu yang terbuang, tidak mempunyai nilai, tidak berharga atau tidak dipakai lagi, kotor dan mengakibatkan pencemaran di lingkungan. Pencemaran sampah ini akan membentuk  gas yaitu H2S  yang berbau busuk.  H2S ini terbentuk karena adanya proses penguraian bahan organik, yaitu  pada waktu pembusukan sampah. Gas tersebut merupakan zat pencemar yang terdapat di banyak tempat.

Oleh karena itu, penanggulangannya harus mendapatkan prioritas utama. Akan tetapi, umumnya, pemerintah dan masyarakat hanya memperhatikan limbah industri. Sampah organik  ataau limbah domestik sudah dianggap biasa, sehingga masalahnya kurang mendapat perhatian.

Pemerintah Kabupaten Rembang dalam hal ini Departemen Kesehatan dan Departemen Pekerjaan Umum merupakan organisasi yang seharusnya ikut memperhatikan kondisi ini, terutama yang berkaitan dengan program air bersih.

Masalah air bersih merupakan masalah yang utama di Kabupaten Rembang. Sementara itu, kemelaratan dan  kemampuan pengadaan air bersih ini merupakan masalah keseharian yang terjadi di Kabupaten Rembang. Jadi, penggunaan air yang sudah tercemar pun dianggap sudah biasa dan lazim di masyarakat Kabupaten Rembang. Apalagi berfikir untuk menanggulangi pencemaran ini, merupakan pemikiran sangat terbatas dan hampir mustahil.

Ditambah lagi dengan rendahnya pendidikan sumber daya manusia di Kabbupaten Rembang menyebabkan banyak orang tidak menyadari adanya pencemaran, baik di kota maupun di desa. Orang menjadi terbiasa menggunakan air yang tercemar untuk masak, mandi dan gosok gigi.

Jumlah limbah akan terus bertambah dengan naiknya jumlah penduduk, sedangkan kemampuan untuk penjernihan air dan pembuangan sampah sangat terbatas.

Solusi Pengelolaan Sampah

Untuk mengurangi dampak pencemaran air oleh sampah, maka sampah  harus dipisahkan atau dikelompokkan menurut jenis senyawanya, yaitu limbah organik, limbah anorganik, dan limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) agar lebih mudah untuk diproses. Tetapi yang sering ditangani adalah limbah organik dan limbah anorganik. Sementara limbah B3 tidak dibicarakan di makalah ini.

Penanganan limbah organik dapat melalui proses daur ulang terlebih dahulu dan ada yang tanpa melalui proses daur ulang. Misalnya saja limbah organik yang melalui proses daur ulang yaitu dengan dibuat kompos, biogas dan bahan lain yang lebih bermanfaat. Sedangkan limbah organik yang tanpa melalui proses daur ulang yaitu  serbuk gergaji kayu yang dapat digunakan untuk bahan bakar.

Untuk penanganan limbah anorganik juga dapat dimanfaatkan melalui proses daur ulang dan secara langsung atau tanpa proses daur ulang. Bahan yang merupakan limbah anorganik yang diproses melalui proses daur ulang antara lain berupa kaleng aluminium, besi baja, pecahan botol, toples dari kaca, botol, gelas, atau ember plastik yaitu diolah dengan proses pembakaran ataupun penghancuran.

Untuk limbah anorganik yang dimanfaatkan secara langsung misalnya botol ataupun gelas plastik bekas yang dapat dibuat sebagai mainan anak-anak, tempat menanam tanaman, atau hiasan yang lainnya. Limbah organik yang telah dimanfaatkan secara langsung,  bisa memiliki nilai jual yang tinggi.

Bagi orang desa, cara yang dilakukan untuk mengatasi masalah ini adalah dengan melakukan daur ulang secara tradisional yaitu dengan menggunakan limbah untuk makanan ternak ikan. Contohnya: sisa makanan dapat diolah sedemikian rupa sehingga dapat dimanfaatkan untuk makanan ternak (ayam, bebek, burung)  ataupun makanan ikan.

Sedangkan di daerah perkotaan, daur ulang sampah khususnya sampah padat dilakukan dengan pengumpulan bahan yang terbuat dari plastik, kaleng bekas, kertas dan lain-lain. Tetapi itu hanya sebagian kecil limbah dan sebagian besar tertumpuk secara mencemari lingkungan. Limbah yang menumpuk mencemari lingkungan inilah yang seharusnya dimanfaatkan. Dengan demikian, pencemaran di lingkungan sekitar dapat teratasi.

Sampah padat juga bisa digunakan sebagai bahan bakar untuk pembangkit listrik. Ada juga sampah padat yang digunakan sebagai bahan pembuat kompos dan digunakan untuk bahan bangunan.

Limbah cair  dapat diolah menjadi biogas. Bahan baku biogas bisa berasal dari kotoran hewan, sisa makanan ataupun campuran keduanya. Biogas juga merupakan sumber energi yang tidak merusak lingkungan.

Selain mengelompokkan sampah, pencemaran juga dapat diatasi dengan pengelolaan lingkungan yaitu usaha untuk  memelihara dan memperbaiki mutu lingkungan agar kebutuhan dasar dapat terpenuhi dengan baik.

Sampah atau limbah yang dibuang secara sembarangan seperti di sungai, di selokan ataupun di tempat-tempat yang seharusnya tidak digunakan untuk pembuangan sampah, akan mengakibatkan hal-hal yang seharusnya tidak terjadi, misalnya banjir.

Banjir akan datang biasanya saat musim penghujan. Air hujan yang seharusnya meresap ke dalam tanah melalui celah-celah yang dilewatinya malahan meluber ke mana-mana karena celah-celah itu tersumbat oleh sampah-sampah. Bencana ini semoga dapat menyadarkan masyarakat terhadap betapa pentingnya lingkungan ini dan mengajarkan masyarakat untuk bisa memenfaatkan sampah dengan sebaik-baiknya.

Akibat sampah pun vasilitas air bersih pun menjadi terganggu, karena air yang seharusnya digunakan untuk mandi, masak, dan keperluan lainnya sudah tercemar sampah. Penduduk pun banyak yang sakit, karena bakteri-bakteri parasit yang menyebabkan penyakit menular ke setiap orang.

Penanganan Sampah di Kabupaten Rembang

Usaha yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Rembang untuk mengatasi pencemaran air akibat sampah yaitu dengan menampung limbah ke dalam bak penampungan kemudian di daur ulang melalui tiga tahap yaitu pengolahan primer dengan menyaring kotoran kasar, pengolahan sekunder dengan menambah bakteri aerobik, dan yang terakhir yaitu pengolahan lanjutan dengan memberi desinfektan.

Pemerintah pusat atau pemerintah daerah setempat juga bisa melakukan usaha untuk mengatasi pencemaran ini dengan membentuk organisasi yang terdiri dari pemuda-pemudi yang sudah tidak sekolah, organisasi yang berada di desa-desa setempat ataupun yang lainnya untuk memanfaatkan sampah-sampah yang masih bisa didaur ulang.

Pemerintah pusat atau pemerintah daerah setempat bahkan bisa juga mengadakan sosialisasi atau pngarahan yang bertujuan memberdayakan sampah.

BAB 3

PENUTUP

Simpulan

Sampah merupakan masalah yang paling sulit untuk d iatasi saat ini, terutama pada saat musim penghujan. Sampah dapat menimbulkan banyak masalah, salah satunya yaitu dapat menyebabkan banjir yang berkepanjangan, pencemaran air, uddara, tanah; dan menimbulkan penyakit menular.

Pemberdayaan sampah dapat dilakukan oleh setiap orang ataupun organisasi dengan memaksimalkan manfaat dari masing-masing sampah.

Saran

Seharusnya pemerintah pusat dan pemerintah daerah setempat dapat mengambil keputusan yang tepat untuk mengatasi masalah seperti ini, agar lingkungan tetap terjaga dengan baik.

Pelatihan 1

Setelah menyimak materi bahan untuk diskusi tersebut, kerjakan soal-soal berikut!

  1. Apakah tema materi diskusi yang berjudul Pemberdayaan Sampah Sebagai Upaya Pengurangan  Pencemaran Lingkungan ?
  2. Pokok-pokok pikiran apa sajakah yang terdapat dalam materi diskusi tersebut!
  3. Apa yang menjadi permasalahan dalam materi diskusi tersebut? Dapatkah Anda membuat analisis terkait dengan permasalahan tersebut dan pemecahannya!
  4. Buatlah seluruh rangkuman isi materi diskusi di atas!
  5. Diskusikan hasil rangkuman dengan kelompok Anda!

Kebahasaan

Menentukan Ragam bahasa Baku dan Bahasa Tidak Baku

Ragam bakuadalah ragam yang dilembagakan atau diakui oleh sebagian besar warga masyarakat pemakaianya  sebagai bahasa resmi dan sebagai kerangka rujukan norma bahasa dalam penggunaannya. Ragam tidak bakuadalah ragam yang tidak dilembagakan dan ditandai oleh ciri-ciri  yang menyimpang dari norma ragam baku. Ragam bakudan nonbaku ini dapat tterjadi dalam bentuk kata maupun kalimat. Dalam bentuk kata, kata-kata bakudan nonbaku ini dapat dikenal dari pilihan, ejaan, atau bentuknya. Untuk melihat dan mengetahui bakutidaknya suatu kata, dapat dilihat atau berpedoman pada Kamus Besar Bahasa Indonesia. Berikut ini contoh katabaku dan tidakbaku.

Baku                           Tidak Baku

1. kaidah                                  kaedah  (ejaan)

2. ke mana                               kemana (ejaan)

3. memikirkan                           mikirin (bentuk)

4. berkata                                 ngomong (pilihan)

5. boleh                                    bole  (ejaan)

Pelatihan 2

  1. Carilah kata-kata tidakbakuyang ada dalam wacana tersebut  dan ubahlah menjadi kata-katabaku!
  2. Ubahlah kata-kata tidakbakuberikut menjadi kata-katabaku!
    • Antri
    • Atlit
    • Khabar
    • Kwantitas
    • Feksimmil
    • Charisma
    • Miliarder
    • Tekhnologi
    • Kwatir
    • Erobik
    • Seksama
    • Kongkrit
    • Metoda
    • sekedar
  3. kalimat-kalimat berikut ini merupakan kalimat-kalimat yang tidakbaku, ubahlah kalimat-kalimat tersebut menjadi kalimatbaku!
  1. Semua peserta daripada pertemuan iti sudah pada hadir.
  2. Permintaan para langganan belum ada yang dipenuhi karena persediaannya sudah habis.
  3. Kami menghaturkan terima kasih atas kehadirannya.
  4. Mengenai masalah ketunaan karya perlu segera diselesaikan dengan tuntas.
  5. Bilang dahulu sama saya punya bini.
  6. Bu Erika tidak tahu anaknya sering berantem.
  7. Kepada Bapak kepala Sekolah, waktu dan tempat kami persilakan.
  8. Taufik Hidayat menduduki juara 1 pada kejuaraan All England.
  9. “Halo  Fiki, gimana kabarnya?”
  10. Buat para penumpang diharap supaya membayar dengan uang pas.

B.  MEMPRESENTASIKAN   HASIL  PENELITIAN

Setelah mengikuti kegiatan pembelajaran ini diharapkan siswa dapat: (1) menuliskan pokok-pokok yang akan disampaikan secara berurutan; (2) mengemukakan ringkasan hasil penelitian; (3) menjelaskan proses penelitian dan hasil penelitian dengan kalimat yang mudah dipahami.

    • Menulis Hasil  Penelitian

Sebuah penelitian biasanya disajikan dalam bentuk laporan hasil penelitian. Laporan hasil penelitian dapat berbentuk sederhana dan dapat pula berbentuk kompleks. Laporan berbentuk kompleks adalah laporan yang harus dibuat berdasarkan syarat-syarat penulisan ilmiah yang diorganisasikan dalam bab demi bab sebagai berikut.

Bab  I               Pendahuluan

  1. Latar Belakang Masalah
  2. Perumusan dan Pembatasan Masalah
  3. Tujuan Penelitian
  4. Hipotesis
  5. Landasan Teori
  6. Metode Penelitian

Bab  II             Percobaan

  1. Alat dan Bahan
  2. Prosedur Percobaan
  3. Gambar Peralatan
  4. Hasil Percobaan

Bab  III            Diskusi dan Pembahasan

Bab  IV            Kesimpulan dan Saran

  1. Kesimpulan
  2. Saran

Daftar Pustaka

Sebelum menyusun sebuah laporan penelitian, baik berupa artikel maupun berupa laporan yang kompleks, seorang penulis hendaknya mengikuti langkah-langkah sebagai berikut.

  1. menentukan topic/masalah,
  2. menentukan latar belakang masalah,
  3. menentukan tujuan penelitian,
  4. menenttukan hipotesis
  5. menentukan landasan teori dan metode penelitian,
  6. menganalisis permaslahan,
  7. menulis hasil penelitian/analisis,
  8. menyusun laporan secara lengkap.

Selain itu, penulis laporan juga dituntut untuk memperhatikan hal-hal berikut.

  1. mempunyai kelengkapan data dan fakta,
  2. menggunakan bahasa resmi, bahasa Indonesia,
  3. memiliki kejujuran ilmiah dalam mengungkapkan data dan fakta,
  4. bersikap objektif,
  5. laporan disusun secara logis dan sistematis.

 

 

 

 

Pelatihan 1

Bentuklah sebuah kelompok  yang terdiri atas 3 orang, kemudian kerjakan hal-hal berikut!

    1. Lakukanlah penelitian (observasi) terhadap topic-topik di bawah ini!
  1. Minat Siswa SMA _______________ terhadap Tayangan Infotainment televisi
  2. Minat Siswa SMA _________________ terhadap Kegiatan Ekstrakurikuler Musik
  3. Minat Remaja Kelurahan ______________ terhadap Tayangan Sinetron di Televisi
    1. Susunlah laporan hasil penelitian kelompok Anda tersebut dalam bentuk laporan kompleks (contohnya di bawah ini)!
    2. Diskusikan hasil pekerjaan Anda dengan kelompok lain pada pertemuan bulan berikutnya!
    3. Presentasikanlah hasil laporan Anda!
    • Mempresentasikan hasil Laporan

Baca dan pelajarilah contoh laporan penelitian yang ditulis dalam bentuk kompleks di bawah ini..

MINAT  REMAJA  DI  SURABAYA TERHADAP KESENIAN TRADISIONAL SUATU TINJAUAN KASUS TERHADAP LUDRUK, KETOPRAK,

WAYANG ORANG, DAN WAYANG KULIT

Oleh: Indriati, Yuliati, Woen Lie Hwa

BAB  I

PENDAHULUAN

1.1 Latar   Belakang

Pada masa-masa ini, pengaruh kebudayaan asing amat kuat memengaruhi kebudayaan di Negara kita. Hal tersebut memang tidak dapat kita ingkari lagi. Kenyataannya pun dapat kita lihat dalam kehidupan sehari – hari. Gambaran kita akan lebih jelas lagi jika mengamati berbagai kesenian asing masuk, memengaruhi dan akhirnya banyak diminati di Negara kita ini. Kelompok yang paling peka dalam hal ini adalah kelompok remaja.

Remaja sebagai kelompok individu yang sedang dalam masa pencarian identitas diri, selalu cenderung mencari hal-hal yang baru, yang dapat membuat mereka menjadi orang modern. Mereka tidak ingin ketinggalan zaman, sehingga ada kecenderungan untuk mudah menerima hal-hal yang berbau modern termasuk kesenian asing yang masuk ke negeri kita. Kita dapat menyebutkan contohnya seperti: breakdance, disco, moderndance, dan sebagainya.

Di Surabaya khususnya, jarang sekali kita jumpai pertunjukkan ludruk, ketoprak, wayang kulit/orang berjalan dengan sukses atau banyak peminatnya. Dari penonton yang sedikit itu, jumlah penonton dari kalangan remaja pun dapat dihitung dengan jari. Sebaliknya, jika tontonanitu berupa   breakdance, disco, moderndance, dan sejenisnya, penonton remaja meluap. Mengapa hal itu terjadi? Apakah kondisi ini dapat dijadikan sebagai petunjuk bahwa remaja kita saat ini kurang berminat dengan kesenian tradisional? Apa yang menyebabkan mereka kurang berminat dengan kesenian tradisional?

1.2      Tujuan  Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk:

1.  Mengetahui minat remajaSurabayaterhadap kesenian tradisional terutama     ludruk, ketoprak, wayang kulit, dan wayang orang.

2.   Mengetahui penyebab kurangnya minat remajaSurabayaterhadap            kesenian tradisional.

BAB  II

LANDASAN  TEORI

2.1      Hakikat  Kesenian  Tradisional

Kesenian tradisional adalah kesenian rakyat yang berasal dari kehidupan masa lalu. Kesenian tersebut dituangkan ke dalam bentuk-bentuk pementasan dengan teknik-teknik tertentu dan dengan karakteristik tertentu.

2.1.1           Wayang

Cerita-cerita wayang, baik wayang orang maupuun wayang kulit diambil dari kitab Mahabharata atau Ramayana. Jenis cerita ini sangat terbatas dan tidak dapat menampilkan hal-hal atau cerita-cerita baru yang sesuai dengan perkembangan zaman kini.

2.1.2           Ketoprak

Ketoprak lebih banyak mengambil cerita dari kehidupan masa lalu, terutama yang berhubungan dengan kerajaan-kerajaan, misalnya sejarah suatu kerajaan, legenda rakyat, dan sebagainya. Penokohan dalam ketoprak agak bebas, tidak terpakuu pada perwatakan tertentu seperti wayang. Meskipun demikian,  ketoprak juga masih dibatasi norma-norma yang berlaku pada waktu itu.

2.1.3           Ludruk

Ludruk merupakan bentuk kesenian yang mirip dengan sandiwara, hanya menggunakan bahasa Jawa (biasanya dialek Suroboyoan). Umumnya ludruk menceritakan kehidupan rakyat berupa tragedy, tetapi tidak jarang pula menceritakan drama rumah tangga, bahkan juga legenda. Dalam mengembangkan cerita, ludruk lebih longgar dibandingkan wayang maupun ketoprak.

2.2      Kelompok  Masyarakat Kesenian Tradisional

Masyarakat dapat dikelompokkan sebagai berikuT;

2.2.1            Kelompok  Pendukung

2.2.2            Kelompok Bukan Pendukung

2.2.3            Kelompok Acuh tak Acuh

 

BAB  III

PROSES  PENELITIAN

 

Penelitian ini dilakukan dengan cara menyebarkan angket kepada para remaja diSurabaya. Pengisian angket dilakukan melalui wawancara.

Responden yang terpilih adalah responden yang memenuhi syarat, antara lain: tinggal di Surabaya, pelajar SMP/SMA atau yang telah berumur 13-19 tahun, dan mengerti jenis-jenis kesenian tradisional setempat. Pemilihan respondenn dilakukan secara acak dan tanpa pembatasan jumlah. Meskipun demikian, penyyebarannya tetap merata, meliputi berbagai lapisan remaja, yaitu: pelajar SMP Negeri dan Swasta, pelajar SMA Negeri n Swasta, pelajar SMK negri dan swasta, pelajar SMTK negeri, remaja putus sekolah, dan anggota karang taruna.

3.1      Lokasi  Penelitian

Pengambilan lokasi responden dilakukan secara acak meliputi Kecamatan Tegalsari, Gubeng, Sukolilo, Sawahan, dn Kenjeran.

3.2      Cara  Pengambilan Data

Pengambilan data dilakukan melalui beberapa cara, yaitu angket, wawancara, dan observasi.

3.3      Cara Menganalisis Data

Analisis data dilakukan dengan cara mengelompokkan responden ke dalam tiga kelompok, yaitu kelompok pendukung, bukan pendukung, dan acuh tak acuh. Pengelompokkan tersebut diperoleh dari hasil pertanyaan-pertanyaan angket yang di antaranya terdapat pertanyaan tertutup.

Dari hasil yang didapatkan kemudian diadakan pengelompokkan untuk setiap jenis kesenian tradisional. Kegiatan ini berguna untuk menentukan kelompok terbanyak. Untuk mengambil kesimpulan tentang minat remaja diSurabayaterhadap kesenian tradisional, dapat dilihat dari hasil analisis data. Jika kelompok pendukung lebih banyak daripada kedua kelompok yang lain maka minat remaja tersebut terhadap kesenian yang dimaksud dapat dikatakan besar. Sebaliknya, jika kedua kelompok lain itu yang lebih besar maka  dapat disimpulkan bahwa minat remaja terhadap kesenian tradisional itu kurang atau dapat dikatakan mereka tidak berminat.

 

BAB    IV 

HASIL  PENELITIAN

 

4.1      Hasil  Observasi

Responden: penonton remaja yang hadir menonton pertunjukkan. Observasi atau pengamatan dilakukan pada saat pertunjukkan ketoprak, ludruk, wayang orang, dan wayang kulit berlangsung. Pengamatan dilakukan pada malam hari karena saat pertunjukkan umumnya malam hari. Tujuan pengamatan adalah:

a. menghitung prosentase penonton remaja dari seluruh penonton yang ada.

b. mengamati teknik pertunjukkan dan jalannya cerita

Adapun hasil pengamatan tersebut adalah sebagai berikut.

No

Jenis Kesenian

Tempat

Jumlah Penonton

Jml penonton remaja

Penonton

Ketoprak Lap. Kalibokor 415 39 9,4%
Ludruk
Wayang orang
Wayang kulit

c. Jumlah Penonton

Jumlah penonton setiap pertunjukkan tidak selalu sama. Hal yang  memengaruhinya adalah lokasi, lamanya pertunjukkan, dan judul cerita. Adapun hasil yang didapatkan dari angket tentang kesenian yang disukainya adalah sebagai berikut.

Kesenian yang disukainya:

a.  Kesenian modern                            50,28%

b.  Kesenianntradisional     30,28%

c.  Kesenian lain-lain                           19,44%

4.2      Hasil Angket

a. Angket 1

Angket 1 adalah angket yang pertanyaannya bersifat umum dan terbuka. Angket       ditujukan untukuntuk mengetahui secara umum gambaran tentang kesenian tradisional dibandingkan dengan kesenian lainnya.

b.  Angket 2

Angket ini berisi pertanyaan-pertanyaan yang bersifat tertutup. Angket ditujukan untuk mengetahui secara detail minat responden terhadap kesenian yang diteliti.

4.3      Hasil Wawancara

Berdasarkan hasil wawancara dengan 20 orang remaja diperoleh data sebagai berikut. (1) 8% remaja menyukai kesenian tradisional, (2) 75% remaja menyukai kesenian modern, (3) 17% menyukai kesenian lain. Mereka tidak menyukai kesenian tradisional karena kuno dan hanya cocok untuk orang tua.

4.4      Analisis Data

Pengelompokkan penjawab dibagi menjadi tiga, yaitu kelompok A: kelompok pendukung; B: kelompok bukan pendukun; C: Kelompokmacuh tak acuh. Berdasarkan data selanjutnya dapat dihitung kelompok masyarakat yang termasuk memilih A,B, atau C.

1.  Ludruk

Berdasarkan perhitungan diperoleh hasil:

Opsi A memperoleh skor 3, opsi B memperoleh skor 4, dan Opsi C memperoleh skor 3.

Dengan demikian, kelompok B lebih banyak daripada kelompok A dan C. berarti kelompok bukan pendukung lebih banyak disbanding dengan kelompok pendukung atau kelompok yang acuh tak acuh. Dengan kata lain, peminat (pendukung) kesenian ludruk lebih sedikit dibandingkan kelompok bukan pendukung.

2. Ketoprak

Berdasarkan perhitungan diperoleh hasil:

Opsi A memperoleh skor 3, opsi B memperoleh skor 4, dan opsi C memperoleh skor 3. Hal ini berarti kelompok bukan pendukung (B) dan kelompok acuh tak acuh (C) lebih banyak dibandingkan dengan kelompok yang mendukung (A).

3. Wayang Orang

Berdasarkan perhitungan didapatkan hasil:

Opsi A memperoleh skor 3, opsi B memperoleh skor 5, dan opsi C memperoleh skor 5.

Artinya kelompok bukan pendukung (B) lebih banyak lalu disusul kelompok pendukung (A), kelompok acuh tak acuh paling sedikit.

4. Wayang Kulit

Berdasarkan perhitungan didapatkan hasil: opsi A memperoleh skor 0, opsi B memperoleh skor 5, dan opsi C memperoleh skor 5. Artinya kelompok bukan pendukung  dan kelompok acuh tak acuh sama banyaknya, sedangkan kelompok pendukung (A) tidak ada sama sekali.

BAB  V

PEMBAHASAN

 

Berdasarkan penelitian diperoleh hasil bahwa remajaSurabayakurang berminat terhadap keempat kesenian tradisional tersebut. Hal ini didasarkan pada:

1.  Hasil  Observasi

Persentase jumlah penonton remaja sebagai berikut:

– Ketoprak                             : 8,196%

– Ludruk                 : 14,86%

– Wayang Orang  : 11,66%

– Wayang Kulit     : 10,06%

Persentase di atas termasuk kecil jika dibandingkan dengan jumlah penonton yang bukan remaja.

2. Hasil Angket 1

Pararemaja lebih menyukai kesenian modern, termasuk jenis musik modern. Kesenian tradisional (ludruk, ketoprak, wayang orang, dan wayang kulit) yang menggunakan musik tradisional. Sangat sedikit peminatnya.

3. Hasil Angket 2

Berdasarkan analisis didapatkan hasil sebagai berikut:

a. Ludruk: memiliki kelompok bukan pendukung paling banyak dibandingkan dengan kelompok pendukung dan kelompok acuh tak acuh.

b. Ketoprak: mempunyai kelompok bukan pendukung dan kelompok acuh tak acuh yang paling banyak jika dibandingkan dengan kelompok pendukung.

c.  wayang Orang: mempunyai kelompok bukan pendukung yang sama banyaknya dengan kelompok acuh tak acuh dan tidak terdapat kelompok pendukung.

BAB  VI

KESIMPULAN  DAN SARAN

 

6.1      Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang dilakukan diperoleh hasil sebagai berikut.

1. Jenis kesenian tradisional (ketoprak, ludruk, wayang orang, dan wayang kulit) mempunyai kelompok pendukung paling sedikit.

2. Secara umum, remaja diSurabayakurang berminat terhadap kesenian tradisional.

3. Berdasarkan hasil wawancara dengan para remaja, mereka kurang berminat terhadap kesenian tradisional karena hal-hal berikut.

– jenis musik,

– jalan ceritanya kurang disukai

– tidak sesuai dengan selera remaja.

6.2      Saran-Saran

Berdasarkan hasil-hasil penelitian di atas, peneliti menyarankan:

1.  Sebaiknya, sedini mungkin kesenian tradisional diperkenalkan dengan cara memasukkan kesenian tradisional ke dalam kurikulum sekolah;

2. Hendaknya ada usaaha dari pemerintah untuk membuat wadah khusus guna menampung usaha-usaha pelestarian kesenian tradisional;

3. Hendaknya diusahakan penggunaan teknologi yang lebih canggih dan teknik-teknik pertunjukkan yang modern tanpa meninggalkan dasarnya;

4.  Hendaknya selalu dicari usaha pengembangan kesenian tradisional agar dapat selalu mengikuti perkembangan zaman.

 

Pelatihan 2

            Anda telah melihat contoh penulisan karya ilmiah, termasuk sistematika penulisannya. Diskusikan bersama teman sebangkumu untuk menentukan sistematika karya ilmiah di atas!

 

Sistematika

BAB I  PENDAHULUAN

1.1 ————————————————————–

1.2 ————————————————————–

 

BAB  II  ———————————————————–

2.1 —————————————–

2.1.1 ——————————————————-

2.1.2 ——————————————————-

2.1.3 ——————————————————

2.2 ———————————————————-

2.2.1 ———————————————————

2.2.2 ———————————————————-

2.2.3 ———————————————————-

 

BAB III  ————————————————————

3.1 —————————————————-

3.2 ——————————————————–

3.3 ——————————————————–

 

BAB  IV ———————————————-

4.1 —————————————————

 a. —————————————————-

 

b.  —————————————————-

c. ——————————————————-

4.2 ———————————————————

a. ————————————————–

b. ———————————————————–

4.3 ———————————————————-

4.4 ———————————————————-

1. ———————————————————

2.————————————————————

3.————————————————————

4. ————————————————————–

BAB  V  —————————————————-

1. ———————————————

2. —————————————————-

3. ———————————————————

 

BAB  VI  ————————————————–

6. 1—————————————————

6. 2 ———————————————————-

Pelatihan 3

 

Buatlah ringkasan laporan hasil penelitian di atas dengan menggunakan kalimat yang jelas!

 

Pelatihan 4

Buatlah komentar (6-7 kalimat) tentang hasil penelitiian tersebut baik itu komentar yang bersifat positif maupun komentar yang bersifat negatif!

Komentar positif

Komentar negatif

   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

C.  MEMBACA CEPAT

 

Setelah kegiatan ini diharapkan siswa dapat: (1) membaca cepat ± 300 kata per menit; (2) menjawab secara benar 75% dari seluruh pertanyaan yang tersedia; (3) mengungkapkan pokok-pokok isi bacaan

Membaca cepat adalah suatu keterampilan. Keberhasilan Anda dalam menguasai teknik ini sangat bergantung pada sikap Anda sendiri, tingkat keseriusan Anda, dan kesiapan untuk mencoba melatihkan teknik tersebut. Untuk itu Anda harus:

  1. Berkeinginan untuk memperbaiki;
  2. Merasa yakin bahwa Anda akan dapat melakukan hal itu.

1. Kegunaan Membaca Cepat

1)      Membaca cepat menghemat waktu;

2)      Membaca cepat menciptakan efisiensi;

3)      Semakin sedikit waktu yang diperlukan untuk hal-hal rutin, maka semakin banyak waktu tersedia untuk mengerjakan hal penting lainnya;

4)      Membaca cepat memiliki nilai yang menyenangkan/menghibur;

5)      Membaca cepat memperluas cakrawala mental;

6)      Membaca cepat membantu berbicara secara efektif;

7)      Membaca cepat membantu Anda menghadapi ujian/tes;

8)      Membaca cepat meningkatkan pemahaman Anda;

9)      Membaca cepat menjamin Anda selalu mutakhir

2. Refleksi Sikap Membaca

Setiap orang memiliki kemampuan membaca yang berbeda. Untuk mengukur kemampuan tersebut ikutilah latihan-latihan di bawah ini.

NO

ASPEK YANG DIPERHATIKAN

JUMLAH

KET.

YA TDK

1

Apakah kalian membaca dengan menggerakkan bibir?

2

Apakah kalian membaca dengan bersuara/vokalisasi?

3

Apakah kalian membaca berbisik?

4

Apakah kalian membaca dengan kepala bergerak mengikuti baris bacaan?

5

Apakah kalian  membaca dengan jari, pensil, atau alat Bantu lain untuk menunjuk baris bacaan?

6

Apakah kalian membaca dengan mengulangi beberapa kata ke belakang/regresi?

7

Apakah kalian membaca kata demi kata

8

Sulitkah kalian berkonsentrasi sewaktu membaca?

9

Apakah kalian cepat lupa isi bagian-bagian bacaan yang telah dibaca?

10

Apakah kalian tidak dapat dengan cepat menemukan ide pokok bacaan?

11

Apakah kalian memiliki sedikit waktu untuk membaca?

12

Apakah kalian belum dapat membaca cepat?

13

Apakah kalian membaca dengan pemahaman rendah?

14

Apakah kalian mengalami hambatan saat membaca karena ada kosakata yang tidak diketahui?

15

Apakah kalian membaca dengan kecepatan yang sama untuk berbagai jenis teks yang dibaca?

Jumlah

 

            Bagaimana kecenderungan yang selama ini Anda lakukan pada saat membaca? Semakin banyak Anda menjawab ya, berarti Anda harus banyak berlatih membaca..

Di bawah ini ada serangkaian pertanyaan kembali yang merupakan refleksi sikap membaca juga seperti serangkaian pertanyaan di atas. Jika kalian banyak menjawab ya berarti kalian mampu menjawab dengan baik.

NO

ASPEK YANG DIPERHATIKAN

JUMLAH

KET.

YA TDK

1

Apakah tujuan kalian membaca jelas?

2

Apakah yang kalian baca adalaha satuan-satuan pikiran kalinat?

3

Apakah kegiatan membaca adalah untuk menangkap ide?

4

Apakah kecepatan membaca kalian terapkan bervariasi/fleksibel untuk tiap jenis bacaan yang berbeda?

5

Kritiskah kalian dalam membaca?

6

Apakah yang kalian baca bervariasai?

7

Apakah bacaannya kaya kosa kata?

8

Apakah kalian tahu cara membaca yang benar?

Jumlah

 

 

 

 

 

3. Latihan Membaca Cepat

 

            Untuk mengukur kecepatan membaca di bawah ini disajikan rumus Kemampuan Efektif Membaca (KEM)!

1.      X                = n kpm

Wm           Si

2.  K    (60)  X   B         = n  kpm

Wd                 Si

Keterangan:

K         : jumlah kata yang dibaca

Wm      : Waktu tempuh baca dalam satu menit

Wd      : Waktu tempuh baca dalam satu detik

B          : Skor bobot perolehan tes yang dijawab dengan benar

Si         : Skor ideal (junlah soal)

Kpm    : kata per menit

Lakukanlah kegiatan berikut!

  • Berkelompoklah dengan teman Anda sebangku;
  • Ajaklah seorang teman untuk mengamati cara membaca Anda!
  • Jadikanlah pasangan Anda sebagai juri untuk mengamati segala tindakan yang Anda lakukan ketika membaca!
  • Mintalah pasangan Anda untuk mengukur waktu membaca Anda setepat mungkin (menit –detiknya)!
  • Setelah selesai membaca jawablah segera pertanyaan yang telah tersedia!
  • Setelah selesai mintalah dia untuk melaporkan hasil pengamatannya(termasuk menghitung KEM dan tindakan-tindakan yang telah Anda lakukan sewaktu membaca)!
  • Ulangilah hal yang sama secara bergantian!

 

Pelatihan 1

Jumlah kata                 : jumlah kata 228  kata

Sasaran                       : menggunakan penunjuk

 

Teknologi Penanaman Anggrek Bulan

 

            Dewasa ini anggrek bulan telah dibudidayakan secara komersial. Di Taiwan para pelaku bisnis bersama para petani bunga mampu mendirikan kompleks hamparan anggrek bulan seluas 3,3 hektar.  Mereka telah memproduksi 1,5 juta bibit dengan sasaran ekspor keNegara Jepang,Malaysia, Amerika Serikat, dan Negara-negara Eropa.

Lantas bagaimana denganIndonesia? Dari sisi peluang,Indonesiamempunyai peluang yang sama denganTaiwan. Hutan tropisIndonesiamenyimpan plasma nutfah anggrek bulan. Namun kenyataannya, system budidaya anggrek bulan belum dikembangkan secara sempurna. Padahal, hanya ditanam pada pot, asal dilakukan perawatan secara intensif, anggrek bulan sudah menghasilkan rupiah.

System penanaman anggrek bulan dalam pot dilakukan melalui tiga tahapan, yakni penyiapan pot dan media tanaman, pengisian medium tanah, dan penanaman. Selanjutnya, perawatan dilakukan dengan pemupukan dan pemberian hormone pertumbuhanan serta mengatur pembuangan.

Menurut pengakuan salah seorang penggemar anggrek, perawatan anggrek mulai bibit sampai dipindahkan ke dalam pot, kemudian dijual ke pasaran nilai keuntungan mencapai 36 juta rupiah lebih. Keuntungan ini terjadi bila pembibitan kultur jaringan dalam dua ratus botol dan setiap botol berisi 20 s.d. 25 bibit. Modal kerja yang dibutuhkan selama dua tahun mencapai 26,8 juta rupiah lebih. Setelah dibudidayakan , anggrek bulan mampu menghasilkan 3600 pot tanaman. Jika mencapai Rp17.500,00 per pot total penjualan mencapai 36 juta rupiah. Dengan demikian, rata-rata keuntungan harganya mencapai bersih Rp1,5 juta lebih tiap bulan.

Sumber: Agrobisnis, No. 410,Minggu IV, Februari 2001

Refleksi

Jumlah kata 228. Berapakah banyak waktu yang Anda gunakanuntuk menyelesaikan bacaan itu? Tentu Anda melakukannya dengan tidak asal cepat bukan? Cobalah minta komentar teman Anda atas perilaku Anda dalam membaca! Baiklah, untuk menguji pemahaman Anda, jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini. Ingat, Anda tidak boleh lagi membaca teks tersebut!

I.  Berilah tanda silang pada salah satu jawaban yang tepat!

 

  1. Menurut bacaan di atas, daerah-daerah sasaran ekspor anggrek bulan sebagai berikut, kecuali ….
    1. Jepang
    2. Amerika Serikat
    3. Malaysia
    4. Belanda
  1. Pertanyaan berikut sesuai dengan bacaan di atas kecuali …
  1. Dewasa ini anggrek bulan dibudidayakan secara komersial
  2. Peluang bisnis anggrek bulan diIndonesiasama denganTaiwan
  3. Keuntungan yang dihasilkan tidak sebanding dengan modal kerja yang dikeluarkan
  4. Anggrek bulan selain mudah dikembangkan juga cocok sebagai bunga pot
  1. Dengan demikian, rata-rata keuntungan bersih mencapai Rp1,5 juta lebih tiap bulan. Kalimat tersebut merupakan ….
  1. Simpulan
  2. Fakta
  3. Pendapat
  4. opini
  1. Pernyataan yang merupakan simpulan dari paragraph keempat bacaan “Bisnis Anggrek Bulan” adalah ….
  1. Anggrek bulan dijuluki puspa pesonaengantaiwan
  2. Anggrek bulan mudah dikembangkan dan cocok sebagai bunga potong
  3. Anggrek bulan diyakini berasal dariIndonesia
  4. Cirri khas anggrek bulan

5. Pernyataan yang berkemungkinan menjadi pendapat atas bacaan tersebut adalah …

  1. Peluang bisnisIndonesiasama Taiwan
  2. Menurut salah seorang pecinta anggrek bulan, perawatan anggrek bulan mulai bibit dipindahkan ke dalam pot, kemudian dijual ke pasaran akan memperoleh keuntungan besar
  3. Anggrek bulan dijuluki tertentu
  4. Dewasa ini anggrek bulan telah dibudidayakan secara komersial

6. Untuk memenuhi kebutuhan pasar dunia, dalam wacana di atas para pelaku bisnis diTaiwanmemproduksi sebanyak …

  1. 1,5 juta
  2. 17.500
  3. 63.000
  4. 36 juta

7. Keuntungan bersih yang diperoleh setiap bulan oleh petani adalah ….

  1. Rp1,5 juta
  2. Rp17.500
  3. Rp63.000
  4. Rp36 juta

8. Sistem penanaman anggrek bulan melalui …tahapan.

  1. 2
  2. 3
  3. 4
  4. 5

9. Menurut teks di atas setelah dua tahun, anggrek bulan mampu menghasilkan …pot tanaman.

  1. 1,5 juta
  2. 17.500
  3. 63.000
  4. 36 juta

10. Dari sekianNegara,Indonesiasebenarnya memiliki peluang yang sama dengan Negara … dalam hal budidaya anggrek bulan.

  1. Malaysia
  2. Amerika serikat
  3. Taiwan
  4. Jepang

II.  Hitunglah KEM yang Nada peroleh dengan rumus yang telah disediakan!

 

1.      X                = n kpm

Wm           Si

Pelatihan 2

Jumlah kata                 : jumlah kata 267  kata

Sasaran                       : motivasi membaca

Panen  Perdana  Kentang

            Setelah bertahun-tahun kurang perhatian pada budidaya tanaman kentang, petani di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, kini mulai panen perdana tanaman kentang. Tanaman kentang seluas 40 hektar di Kecamatan Bumijawa itu berlangsung akhir pecan lalu. Dengan beralih ke tanaman kentang, diharapkan keuntungan petani yang selama ini mengandalkan sayuran kol dan wortel makin meningkat.

Kepala bagian humas Kabupaten Tegal, M. Widodo, Kamis (26/12), mengatakan bahwa budidaya tanaman kentang itu diusahakan petaniyang tergabung dalam Kelompok Tani Bumi Mitra Usaha (BMU), desa Sukosari (Bumijawa) dengan PT Putra Mawar Tegal. Bibit kentangnya jenis granola (G3) dari pembibitan dataran tinggi Dieng.

“Hasilnya setelah dipanen cukup membanggakan, yakni satu petak ubin tanaman kentang atau areallimameter menghasilkan 17,2 kg kentang. Bila satu hektar terdapat 16 ubin, hasil panen 27,5 ton kentang,” ujar Widodo.

Ketua Kelompok Tani BMU H. Murdiyanto mengungkapkan, pertanian kentang di lereng Gunung Slamet selama ini dikuasai petani yang mengontrak lahan 40 hektar, biasanya petani local hanya menanam 10 hektar.

Petani local mulai tertarik menekuni pertanian kentang karena terdorong hasilnya yang semakin bagus di lahan Bumijawa. Petani kini memiliki lahan pembibitan kentang 9.000 meter persegi, yang bibitnya siap dipakai oleh petani peminat. Usaha ini semakin bergulir setelah kelompok tani mendapat dana sebesar Rp32 juta rupiah dari Badan Bimas Ketahanan Pangan Jateng.

Kepala Badan Bimas Ketahanan pangan Jateng, Bowo Setyadi menjelaskan, kelompok tani tersebut menghasilkan minimal 25 ton kentang per hektar. Dari produksi itu, 10 ton sebagai bibit, selebihnya untuk konsumsi. Dengan hanya bibit kentang, kelompok tani memperoleh tambahan modal Rp 150 juta.

Sumber: Kompas , 27 Desember 2002

Pilihlah jawaban yang paling tepat!

  1. Jenis tanaman yang dibudidayakan petani kabupaten tegal sebelum beralih ke tanaman kentang adalah ….
    1. Kol dan wortel
    2. Jagung dan padi
    3. Bawang dan onclang
    4. Tembakau dan gandum
  1. 2.       luas lahan pertanian di daerah Bumijawa, Kabupaten Tegal adalah ….
    1. 10 hektar
    2. 20 hektar
    3. 30 hektar
    4. 40 hektar
  1. 3.       Nama kelompok tani yang mengusahakan budidaya tanaman kentang di daerah Sukosari, bumiJawa, Kabupaten Tegal adalah ….
    1. Bima Alam Lestari
    2. Bumi Mitra Usaha
    3. Citra Usaha Tanii
    4. Bumi Alam Lestari
  1. 4.       Nama bibit kentang yang dibudidayakan petani Kabupaten Tegal adalah ….
    1. Granola
    2. Solanum
    3. Hibrida
    4. Green bean
  1. 5.       Hasil panen kentang dalam satu hektar adalah ….
    1. 17,2 ton
    2. 17,5 ton
    3. 27,2 ton
    4. 27,5 ton
  1. 6.       Dana bantuan dari Badan Ketahanan pangan Jateng kepada para petani kentang sebanyak ….
    1. 32 juta
    2. 36 juta
    3. 62 juta
    4. 66 juta
  1. 7.       Kemampuan produksi tanaman kentang dalam lima meter persegi adalah ….
    1. 5 kg
    2. 10 kg
    3. 15,7 kg
    4. 17,2 kg
  1. 8.       Paragraf ketiga pada teks di atas gagasan utamanya adalah ….
    1. Lokasi budidya kentang
    2. Bantuan dana untuk petani
    3. Pembentukan kelompok tani
    4. Kemampuan produksi kentang
  1. 9.       Yang menguasai pertanian di Lereng Gunung Slamet adalah….
    1. Pemilik lahan
    2. Pengontrak lahan
    3. Tengkulak
    4. Ketua kelompok tani
  1. 10.    Petani di kawasan lereng Gunung Slamet kebanyakan berasal dari …
    1. a.       Kabupaten Tegal
    2. b.      Kabupaten Garut
    3. c.       kabupaten  Pemalang
    4. d.       Kotatif Purwokerto

 

II.  Hitunglah KEM yang Nada peroleh dengan rumus yang telah disediakan!

 

1.      X                = n kpm

Wm           Si

D.  MENULIS  RANGKUMAN ISI BUKU

             Setelah kegiatan pembelajaran ini siswa diharapkan dapat (1) mendaftar pokok-pokok pikiran buku yang sudah dibaca; (2) membuat ringkasan dari seluruh isi buku; (3) mendiskusikan ringkasan untuk mendapatkan masukan dari teman.

 

            Ringkasan adalah paparan singkat mengenai suatu hal. Ringkasan dianggap benar apabila isi ringkasan secara garis besar sama dengan bacaan aslinya. Secara sederhana, ringkasan disusun dengan menggabungkan atau merangkaikan gagasan-gagasan utama paragraph. Meringkas sebuah buku pada dasarnya sama dengan membuat intisari buku. Intisari berarti berkenaan dengan hal-hal pokok atau saripatinya saja.               

Menulis sebuah rangkuman atau ringkasan sebuah buku erat kaitannya dengan membaca. Membaca yang dimaksudkan di sini adalah membaca pemahaman, yakni membaca untuk memahami isi bacaan.

Adabeberapa langkah cara memahami bacaan.

  • Bacalah bacaan yang disediakan tersebut dengan cepat untuk menemukan hal-hal yang Anda anggap penting dan berilah tanda garis bawah pada bagian yang penting.
  • Baca kembali dengan teliti agar Anda dapat memahami bacaan ini dengan baik.
  • Jawablah pertanyaan-pertanyaan yang disediakan untuk mengukur tingkat pemahaman yang telah Anda miliki.

a.  Menemukan gagasan utama dan gagasan penjelas

gagasan utama dalam paragraph merupakan gagasan pokok yang terkandung dalam paragraph. Gagasan utama paragraph biasanya terdapat dalam kalimat utama.gagasan utama dapat ditemukan dengan menghilangkan bagian atau membuang bagian yang tidak penting.  Kalimat utama biasanya berupa kalimat yang pernyataannya paling umum dalam sebuah paragraph. Dilihat dari tempatnya, kalimat utama pada umumnya berada di awal atau di akhir sebuah paragraph.

Karena masih bersifat umuum, gagasan utama perlu penjelasan atau rinccian. Rincian inilah yang disebut dengan gagasan penjelas. Gagasan penjelas dapat berupa rincian, contoh, perbandingan, atau pertentangan.

b.  Menyusun Ringkasan

berikut adalah cara-cara menulis rangkuman atu meringkas sebuah buku/artikel.

  • Rangkaikan gagasan utama yang Anda temukan dari buku/artikel tersebut.
  • Cocokkanlah  isi rangkuman dengan isi bacaan.
  • Kalau belum cocok, cobalah perbaiki ringkasan Anda.

Meringkas  artikel/buku dapat pula dengan cara di bawah ini!

Membaca artikel atau buku dapat dilakukan dengan menggunakan cara purpose (pembaca harus menentukan tujuan membaca. Berdasarkan tujuan itu, pada bagian mana dari buku itu yang perlu diberi penekanan) , overview (artinya membaca sekilas, yakni melakukan peninjauan awal secara sekilas mengenai keseluruhan artikel/buku, untuk melihat garis besar isinyadan pakah pembaca perlu membaca buku itu lebih lanjut atau tidak); interpret (menafsirkan artinya menafsirkan makna buku setelah membaca sekilas) note ( mencatat hal-hal penting);  test ( menguji diri sendiri mengenai apa yang sudah dibaca).

Pelatihan 1

Bekerjalah berdua dengan teman sebangkumu!

Pilihlah sebuah buku nonfiksi di perpustakaan. Bacalah buku tersebut! Carilah gagasan-gagasan pokok buku tersebut, setelah ketemu, buatlah ringkasannya!

Judul Buku       : ____________________________________________________

Penerbit            :  ____________________________________________________

Pengarang        :  ____________________________________________________

Tahun terbit      :  __________________________________________________

Pokok-pokok isi/buku:   _______________________________________________

_________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Ringkasan buku:

________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

 

 

  1. E.     IDENTIFIKASI UNSUR INTRINSIK CERPEN (ALUR, PENOKOHAN, DAN LATAR)

 

Setelah kegiatan pembelajaran ini diharapkan siswa dapat (1) mengidentifikasi alur , penokohan, dan latar cerpen yang didengar; (2) mendiskusikan alur, penokohan, dan latar  cerpen

 

Cerpen merupakan salah satu ragam prosa fiksi. Cerpen merupakan sebuah dunia symbol. Untuk mengkaji makna dan amanat cerpen kita harus mengkaji unsur-unsur pembangun cerpen itu. Di bawah ini akan dijelaskan unsur-unsur pembangun cerpen.

1. Memahami Alur

Sebuah cerita selalu berawal dan berakhir. Peristiwa-peristiwa yang jalin-menjalin dari awal sampai akhir cerita disebut plot atau alur. Sebagai sebuah rangkaian peristiwa, alur selalu menampilkan konflik-konflik, dari konflik-konflik kecil sampai dengan konflik-konflik besar, bahkan dalam alur dijumpai puncak-puncak konflik.

Konflik dapat berupa konflik internal (konflik batin/konflik diri) yaitu konflik yang dirasakan oleh seorang tokoh dan konflik eksternal. Konfliks eksternal dapat berupa konflik manusia dengan manusia, manusia dengan alam, maupun manusia dengan Tuhan.

2. Memahami Tokoh dan Penokohan

Tokoh merupakan motor penggerak alur. Tanpa tokoh alur tidak akan pernah samapai pada bagian akhir cerita.Adatiga jenis tokoh bila dilihat dari sisi keterlibatannya dalam menggerakkan alur, yaitu tokoh sentral, tokoh bawahan, dan tokoh latar.

Tokoh sentral merupakan tokoh yang amat sentral dalam menggerakkan alur. Ia merupakan pusat cerita, penyebab munculnya konflik. Sedangkan tokoh bawahan merupakan tokoh yang tidak begitu besar pengaruhnya terhadap perkembangan alur, walaupun ia terlibat juga dalam pengembangan alur. Kehadirannya hanyalag sebagai pelengkap latar, berfungsi menghidupkan latar.

Jika dilihat dari sifat tokoh terdapat tokoh protagonist dan tokoh antagonis. Tokoh protagonist merupakan tokoh yang memperjuangkan kebenaran dan kejujuran, tetapi tokoh antagonis justru melawan kejujuran dan kebenaran. Dalam cerita klasik konflik justru terjadi karena bertemunya tokoh protagonist dan tokoh antagonis. Akan tetapi, dalam sastra modern konflik tidak selalu dibangun dengan mempertemukan tokoh protagonist dan antagonis, tetapi terjadi karena adanya perbedaan, pendapat, pandangan, ideology, kehendak, dan sebagainya dari para tokoh.

Penokohan ialah cara pengarang menggambarkan atau melukiskan tokoh dalam cerita yang ditulisnya.Adadua jenis penokohan yaitu secara langsung atau deskriptif/analitik dan secara tidak langsung atau dramatic. Dalam penokohan secara deskriptif/analitik pengarang akan melukiskan secara langsung bagaimana  watak sang tokoh, bagaimana ciri-ciri fisiknya. Apa pekerjaannya., dan sebagainya.

Penokohan secara dramatic pengarang melukiskan secara tidak langsung gambaran sang tokoh. Sifat dan cirri fisik akan dilukiskan melalui reaksi tokoh lain terhadap tokoh sentral, melalui aktivitas tokoh sentral, melalui gambaran lingkungan sekitar tokoh sentral, melalui aktivitas tokoh sentral, dan melalui jalan pikiran tokoh sentral.

3. Memahami Latar

Latar atau setting merupakan lukisan tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa. Latar memberikan pijakan cerita secara konkret dan jelas, sangat penting untuk memberikan kesan realistis kepada pembaca, menciptakan suasana tertentu yang seolah-olah sungguh-sungguh ada.

Latar tidah hanya digambarkan secara fisik saja, tetapi dapat pula berwujud tatacara, adapt-istiadat, kepercayaan, dan nilai-nilai yang berlaku di tempat peristiwa yang biasa disebut latar spiritual.

Fungsi latar ada dua yaitu agar cerita lebih hidup dan menggambarkan situasi batin tokoh.

4. Memahami Sudut Pandang

Sudut pandang (point of view) dalam karya fiksi menyangkut siapa yang menceritakan, dari posisi mana peristiwa dan tindakan itu dilihat. Pemilihan bentuk persona selain mempengaruhi perkembangan cerita dan masalah yang diceritakan juga kebebasan, keterbatasan, ketajaman, ketelitian, dan keobjektifan terhadap hal-hal yang diceritakan. Ada dua cara penyudutpandangan yaitu cara orang pertama dan cara orang ketiga. Dalam cara orang pertama pengarang akan memakai aku/saya sebagai pencerita. Akibatnya seakan-akan pengarang menjadi tokoh dalam cerita yang ditulisnya. Pemilihan teknik orang pertama ini dilakukan apabila pengarang manakala ingin melukiskan konflik batin atau pergumulan psikologis secara lebih mendalam.

Dalam cara orang ketiga pengarang akan menceritakan peristiwa atau pengalaman orang ketiga, sehingga kata ganti yang dipakai adalah ia/dia/nama orang. Dalam penyudutpandangan jenis pengarang sungguh-sungguh berada di luar cerita.

5. Memahami Makna

Makna dapat ditemukan manakala cerita sudah dibaca secara keseluruhan. Jadi, makna dapat diartikan sebagai kesimpulan pembaca atas cerita yang dibacanya. .

Makna dalam cerita bias berupa makna perilaku tokoh, makna konflik yang berkembang, makna penyelesaian konflik, makna latar, dan makna penyudutpandangan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pelatihan 1

Bacalah cerpen di bawah ini. Kemudian analisislah unsure-unsur intrinsiknya dengan cara mengisi kolom yang telah tersedia!

 


PULANGNYA SEBUAH KELUARGA BESAR

Mohammad Diponegoro

 

            Ayahku Raden Sastrodisastro sudah siap duduk di atas jok andong, dengan destar dan jas tutup baru, tangannya memegang kendali. Kebanggaan yang selama ini terpupuk sejaksuratkak Sariningrum dating, kini kelihatan sedang mekar-mekarnya. Ayah ingin menyaisi sendiri andong yang akan menjemput puterinya yang sulung di setasiunkota. Ia duduk tegak memperhatikan Kimin, pembantu kami, membenah-benah pakaian kuda. Ayah kelihatan cukup sabar, rupanya ia kepingin muncul di depan puteri sulungnya dalam keadaan serba necis dan parlente. Aku duduk di sampingnya di jok depan, ikut kebagian rasa kegirangan yang rasanya tidak terkendalikan.

“Pos!” pegawai kelurahan meluncur di atas sepedanya masuk ke halaman. Ayah seketika mengangkat kepala dan kesabarannya memucat dari wajahnya. Ia berteriak kepada pengantar pos itu:”Suratuntuk siapa?”

“Telgram, Den Sastro.”

“Telgram?” hamper bersamaan ayah berseru dan meloncat ke tanah. Barangkali hanya setahun sekali paling banyak orang yang tinggal di desa pernah menerima telegram. Apa yang mungkin begitu tergesa-gesa di alam desa yang begitu tenteram? Tergopoh ayah menemui pegawai desa itu. “O, tentu dari sari. Mana telgeramnya? Untung aku belum berangkat kekota.”

Telegram itu gemresek di tangannya lalu ayah berseru: “Apa kataku! Telgram dari Sari.” Ayah terdengar menggerenyot, beberapa lama secara ajaib, perhatiannya rekat pada secarik kertas itu. Pegawai desa itu terlontar dari pikirannya ketika pamit lalu menggenjot sepeda dan menderingkan sepedanya meninggalkan halaman kami. Ayah mengacungkan telegram itu kepadaku, aku masih saja duduk di atas andong tidak sabar.

“Lan, dahlan, dengar kata mbakyumu.” Lalu ayah membaca:

“Tidak jadi naik kereta api. Akan dating tangggal dua puluh empat Oktober dengan … dengan apa ini? Dengan truk? Apa betul aku baca ini, Lan. Coba kaubaca.”

Kertas telegram itu kini beralih ke tanganku dan aku membaca dengan lancer dan pendek. “Dengan truk. Betul, Pak.”

Ayah menggelengkan kepala, tersenyum, seperti sedang menimbang-nimbang sesuatu yang tidak masuk akal. Direbutnya kembali kertas telegram dari tanganku ketika ia meloncat ke atas andong. Andong tergoncang dan kuda meringkik-ringkik. Kimin mengundurkan diri dengan tercengang.

“Aneh-aneh saja Sari. Apa maunya? Dating dengan truk? Mau boyong pindah rumah apa mau jual kambing?” sekarang ayah tertawa, sesuatu sedang terlepas dari hatinya, membumbung tidak terkkendali. “Dikiranya aku, ayahnya, sudah tidak punya andong? Jika perlu semualimaandong bias kukerikkan ke setasiun.” Dan kemudian ayah betul-betul ketawa seperti yang belum pernah kudengar dalam hidupku. Tangannya menarik kendali dan tersentak andong bergerak menuju pintu gerbang.

“Kita ke mana sekarang, Ayah?”

Kekota, Lan. Bagaimanapun kita kekota.”

***

Dalam perjalanan kekotaaku jadi teringat peristiwa sepuluh tahun yang lewat. Aku masih kecil waktu itu. Kepergian kakakku Sariningrum masih jelas terbayang  dalam ingatanku. Terlalu tajam pengaruhnya pada jiwaku, karena aku tidak siap menerima keadaan yang mendadak terujud di depanku. Aku terlalu gagap untuk seketika terjadi kesepian. Ibuku sudah lama meninggal jauh dalam kekaburan ingatanku. Ayahku ketika itu sering tidak ada di rumah. Dan ketika kakakku pergi aku tidak lagi punya kawan untuk bicara, untuk kutanyai tentang pelajaran sekolah. Dengan ganjul duniaku menjadi ganjil.

Pada suatu malam aku sedang belajar membaca ditunggui kkakakku. Lampu minyak gantung di atas meja sudah membuat mataku pedih dan letih. Berulang kali kakakku membetulkan bacaanku dan kurasa ia mulai tidak sabar. Aku jadi gelisah dan tambah melahirkan kesalahan. Kakakku berhenti merenda dan meletakkan pekerjaannya di atas meja. Tidak, seketika aku menoleh, aku tidak pernah melihat raut muka kakakku seperti malam itu. Matanya ganjil dan asing. Aku merasa mau menangis.

“Sari! Sari!” ayah terdengar berteriak dari ruangan depan, nyaring dan mendebarkan. Sesuatu yang aneh mendering dalam suaranya. Seorang yang sedang ngorong meminta minum dengan merengek dan memaksa.

Kakakku tersenyum padaku dan aku tidak lagi merasa mau menangis. Ia berkata dengan lembut: “Ayah panggil Kak Sari, Dahlan. Kau teruskkan membaca dulu.”

“Sari!” suara ngorong itu terdengar lagi.

“Sebentar, Pak,” kakakku sudah meninggalkan kursinya, pekerjaannya dan aku di depan buku. Aku lihat ia membenahkan pakaiannya. O, alangkah cantik Kak Sari ketika itu! Kemudian ia menghilang di balik kelambu pintu. Apa gerangan yang begitu mendesak dan ganjil mengiang-ngiang dalam suara ayah itu? Dengan ddiam-diam aku mengikuti kakakku ke ruang tamu. Disanatampak ayah tentang duduk menghisap rokok kretek, wajahnya terselubung berganti-ganti oleh jalur asap yang menggeliat-geliat. Rupanya suatu pikiran sedang memboboti kepalanya. Dari balik kelambu aku dengarkan percakapan mereka.

“Duduklah di sini, sari. Aku mau bicara padamu.” Suara ayah seperti sediakala seperti tidak terjadi apa-apa.

“Bapak sudah makan?”

“Sudah. Aku tadi makan di rumah bu lurah.”

“Bu Lurah?” pertanyaan itu diucapkan dengan kekuatiran seperti biasanya kudengar kakakku jika pulang dari pasar  menemukan sisa uang belanja ternyata kurang. “Apa soal sawah itu belum selesai?”

“Perkara sawah itu? O, sudah, sudah, maksudku aku tadi sudah makan di rumah bu lurah yang satunya, janda almarhum pak lurah dongkol.”

Kemudian ayah terdengar batuk-batuk lalu diam sejenak, seolah-olah semuanya itu dilakukan untuk menumbuhkan suasana baru,  membuka bambanan baru. “Begini, Sari, ya, ayah mulai. Kau sudah besarr, karena itu aku mau ajak rembugan. Aku piker, nanti jika kau sudah kawin, kau tentunya akan ikut suamimu. Lalu di rumah ini tinggal adikmu si Dahlan. Aku sendiri sering pergi ke sawah, ke kelurahan, ke kabupaten. Adikmu akan jadi sendirian di sini. Suara ayah lambat dan dalam dan jelas., diucapkan dengan sangat hati-hati, seakan-akan bobotnya membuatnya sulit untuk meluncur sendiri. Ayah mendehem beberapa kali lalu terdengar lagi: “Karena itu sebelum semua itu terjadi aku pikir sebaiknya Dahlan perlu seorang pengasuh lagi, maksudku seorang yang bias menggantikan ibumu.”

Ayah diam, kelelahan. Semuanya serasa menanti. Diam. Dan aku jadi gelisah mendengar napasku sendiri. Kemudian kakakku seperti meraba-raba berkata: “Ayah… apakah ayah kepingin kawin lagi?”

“Yaaah, boleh saja kaubilang begiru,” ayah menyahut. “tapi kau jangan salah paham, Sari. Yang kupikir ialah adikmu dan tentu saja kau sendiri. Karena itu aku minta pertimbangan. Kaulah yang akan bergaul setiap hari dengan ibumu yang baru itu.” Sekarang ayah menyalakan rokoknya dengan korek, mengisap dalam dan panjang lalu menghembuskan asap dan wajahnya seketika terselubung keajaiban kabut.

“Maksud Bapak, bu Lurah?” kakakku menebak seperti dengan tiba-tiba. Ayah tampak terperanjat dan mencoba menopengi wajahnya dengan tersenyum dan menggerenyot. Percobaan yang susah dan kekok.

“Kau sudah tahu, Sari?” katanya. “Sudah dengar selentang-selenting di desa?”renyotnya lalu ketawa. Ia rupanya merasakan sesuatu yang sekaligus menggelikan dan menyenangkan. Apa yang dilakukan Kak Sari? Aku mengintip dari pertemuan kain kelambu dan melihat kakakku menunduk. Kakakku menangis. Dan ayah tiba-tiba memotong gelak tawanya dan bertanya heran: “Hah! Kok malah nangis? Kalau kau tidak setuju, bilang saja tidak setuju.” Perkataan itu seperti barang yang telanjur dan ayah menyesal telah mengucapkannya.

“Bagaimana pendapatmu, Sari?”

Kemudian antara tertangkap dan lepas kudengar kata-kata kakakku dalam tangisnya: “Tega-teganya Bapak pada Sari. Bapak hanya memikirkan diri-sendiri.” Kemudian tangisnya menggulung perkataannya menjadi sama sekali tidak jelas. Ayah bangkit dari kursi dan mendekati kakakku.

“Nah-nah-nah, kau sudah salah paham, Sari. Aku sudah bilang, aku kawin tidak untukku. Tidak untukku saja, tapi untuk kepentingan adikmu dank au sendiri. Pekerjaanmu di rumah akan jadi lebih enteng dan pekerjaanmu dikotatidak akan terganggu.”

“Apa Bapak tidak memikirkan Sari?”

“Justru aku sekarang memikirkan kau!”

“Tidak!” unttuk pertama kali selama percakapan itu kakakku berteriak di depan ayah. Pertama kali dalam hidupnya.  “Sari sudah tambah tua dan belum kawin juga, Tapi Bapak sendiri sudah pikir mau kawin lagi?”

Ayahku berdiiri tegak seakan-akan mengelak sesuatu yang tiba-tiba ditamparkan pada wajahnya. Matanya mata orang yang tersengat dan menahan kesakitan. Ia menghela napas katanya: “Kau yang keliru. Aku sudah lama memiikirkan untuk mengawinkan kau. Tetapi beluum ada jejaka yang mau melamar. Apa pantas aku harus keluar-masuk desa mencari jejaka atau duda untuk jadi jodohmu? Bapakmu ini orang terhormat di sini, R. Sastrodisastro.Kantidak pantas? Dan kau sendiri tak pernah bilanh kau kepingin kawin dengan siapa. Nah, sekarang, coba, katakana kau mauu kawin dengan siapa?”

“Dengan siapa saja.”

Sekarang ayah betul-betul mengelak. Kedua tangan memeggang ikat kepala dan seperti orang terpukul berjalan terhuyung kembali ke kursinya. Ia berseru: “Masyaallah! Tobat-tobat-tobat! Kau aneh, Sari!”

***

Pada keesokan harinya aku tidak menjumpai lagi Kak Sari di rumah. Aku melihat ayahku menjadi bingung tapi tidak berkata apa-apa padaku. Akhirnya kuketahui bahwa kakakku telah pergi dari rumah tanpa diketahui tujuannya. Tidak ada juga beritanya. Aku merasa sangat sedih dan kesepian. Kenapa Kak Sari tega meninggalkan aku? Ayah kelihatan

makin tambah bingung setiap harinya dan sering merenung seorang diri. Akhirnya aku dititipkan oleh ayah pada pamanku. Seminggu sekali aku pulang menengok ayah. Setiap kali ayah tampak lebiih cepat menjadi tua. Dan setiap aku bertanya tentang Kak sari, ayah hanya menggelengkan kepala. Hanya suatu kali ia pernah berkata ketika aku tidak bertanya, seperti menggumam untuk membeberkan lamunannya sendiri: “Aku tahu Dahlan. Barangkali Sari sudah kawin dengan seorang jenderal. Jadi orang  besar dan lupa pada ayahnya.”

Demikianlah tahun berganti tahun, kami tidak pernah mendengar tentang kakakkuu Sariningrum. Sampai tiba hari itu. Setelah sepuluh tahun lewat tiba-tiba datingsuratdari kakakku. Aku gembira sekali dan ayahku lebih dari itu, bahkan hamper linglung karena terpapas sesuatu yang tidak pernah diduganya. Ia tak dapat menahan perasaannya, tangannya gemetar menunjukkansuratitu kepadaku.

“Lihat, Dahlan. Benar kataku. Sariningrum sudah kawin. Sudah punya keluarga. Lebaran ini ia mau datang kemari bersama keluarganya. Sepuluh hari sebelum lebaran…..

***

Akhirnya datanglah tanggal 24 Oktober yang kami nanti-nantikan. Tiga hari lagi lebaran akan tiba. Aku, ayah, pamanku dan keluarganya, serta beberapa orang tetangga sudah menanti di rumah. Hari ini Kak Sariningrum akan datang bersama keluarganya dengan naik truk. Sejak pagi tadi beberapa pemuda desa ditanam di persimpangan-persimpangann jalan sampai di jalan besar untuk mengintai kedatangan truk itu.

Menjelang ashar debu membumbung di ujung jalan desa. Beberapa suara di halaman rumah berlooncatan. “den Sastro, lihat ada truk!” dan ayyahku yang sudah tua itupun meloncat dari kursi dan berjalan cepat melintasi pekarangan sampai kek tepi. Memegang pagar dan pandanggannya melompati sawah-sawah menuju ke ujung jalan.

“Mana?Mana?” katanya berseru. “O, benar, Dahlan!  Kakakkmu Sari, Dahlan! Tentu itu Sari! Lihat!”

Debu membumbung sepanjang jalan seperti kain yang berkibar. Deru mesin truk itu makin jelas kedengaran. Lalu kemudian hamper aku tidak percaya terdengar nyanyian anak-anak yang giirang. Sebuah sekolah dasar sedang bersama-sama tamasya! Aku lihat ayang mendongong percaya –tidak percaya. Truk itu kini sudah dekat dan ayahku mendadak berteriak sambil berlari ke jalanan.

“Ya, itu Sari! Sari! Sari!”

Suaranya tenggelam dalam nyanyian anak-anak dan deru mesin.

Dan keluarga kami bertemu kembali. Perasaan canggung dan perasaan terlepas, tertahan dan dibiarkan meleleh cair.

“Pak, akhirnya Sari datang lagi, Pak, “ itu suara kakakku.

“Oh, Sariningrum, anakku,” suara ayah membawakan hatinya yang terharu. Lalu ayah menoleh pada seorang lelaki tampan di samping kakakku. “Ini suamimu? Siapa namanya?”

“Ya, Pak. Ini Mas Solihin.”

“Saya Solihin, Pak, “ hamper bersamaan lelaki itu menyahut.

Ayah menjabat tangan suami kakakku, katanya: “Kenalkan aku ayah Sari, R. sastrodisastro.” Aku menangkap rasa kebanggaan dalam kata perkenalan ayah itu. Ia mengawasi emnantunya dengan suatuu pemujaan, kemudian dengan ragu-ragu dan setengah bingung ia memperhatikan anak-anak kecil yang tadi turun dari truk dan kini ramai bermain dan bercekcok di sekitar kami. “Lalu anak-anak begini banyak ini siapa, Sari?”

Aku melihat bagaimana kakakku tertawa serempak dengan suaminya, lalu ia menyahut: “Ini semua cucu Bapak sendiri.”

Aku tidak tahu apakah dalam hidupnya ayahku pernah berteriak lebih nyaring dari ketika itu: “Ini? Ini semua? Semua ini cucuku? Masya Allah, Sari!”

Namun teriaknya itu tenggelam juga dalam  jerit-pekik cucu-cucunya.


 

 

Unsur  intrinsik

Deskripsi unsur intrinsic

Kalimat pendukung

Tokoh dan perwatakan Aku    :

 

 

Bapak  :

 

Sariningrum:

 

 

 
Alur  

 

 
Tema  

 

 
Latar Tempat  :

 

Waktu  :

 

Suasana:

 

 

 

 

Sudut pandang

 

   

Bacalah cerpen di bawah ini!


Peradilan Rakyat

Cerpen Putu Wijaya
Seorang pengacara muda yang cemerlang mengunjungi ayahnya, seorang pengacara senior yang sangat dihormati oleh para penegak hukum.

“Tapi aku datang tidak sebagai putramu,” kata pengacara muda itu, “aku datang ke mari sebagai seorang pengacara muda yang ingin menegakkan keadilan di negeri yang sedang kacau ini.”

Pengacara tua yang bercambang dan jenggot memutih itu, tidak terkejut. Ia menatap putranya dari kursi rodanya, lalu menjawab dengan suara yang tenang dan agung.

“Apa yang ingin kamu tentang, anak muda?”
Pengacara muda tertegun. “Ayahanda bertanya kepadaku?”
“Ya, kepada kamu, bukan sebagai putraku, tetapi kamu sebagai ujung
tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang dicabik-cabik korupsi ini.”
Pengacara muda itu tersenyum.
“Baik, kalau begitu, Anda mengerti maksudku.”

“Tentu saja. Aku juga pernah muda seperti kamu. Dan aku juga berani, kalau perlu kurang ajar. Aku pisahkan antara urusan keluarga dan kepentingan pribadi dengan perjuangan penegakan keadilan. Tidak seperti para pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang. Bahkan tidak seperti para elit dan cendekiawan yang cemerlang ketika masih di luar kekuasaan, namun menjadi lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan untuk menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya. Kamu pasti tidak terlalu jauh dari keadaanku waktu masih muda. Kamu sudah membaca riwayat hidupku yang belum lama ini ditulis di sebuah kampus di luar negeri bukan? Mereka menyebutku Singa Lapar. Aku memang tidak pernah berhenti memburu pencuri-pencuri keadilan yang bersarang di lembaga-lembaga tinggi dan gedung-gedung bertingkat. Merekalah yang sudah membuat kejahatan menjadi budaya di negeri ini. Kamu bisa banyak belajar dari buku itu.”

Pengacara muda itu tersenyum. Ia mengangkat dagunya, mencoba memandang pejuang keadilan yang kini seperti macan ompong itu, meskipun sisa-sisa keperkasaannya masih terasa.

“Aku tidak datang untuk menentang atau memuji Anda. Anda dengan seluruh sejarah Anda memang terlalu besar untuk dibicarakan. Meskipun bukan bebas dari kritik. Aku punya sederetan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan yang sudah Anda lakukan. Dan aku terlalu kecil untuk menentang bahkan juga terlalu tak pantas

untuk memujimu. Anda sudah tidak memerlukan cercaan atau pujian lagi. Karena kau bukan hanya penegak keadilan yang bersih, kau yang selalu berhasil dan sempurna, tetapi kau juga adalah keadilan itu sendiri.”

Pengacara tua itu meringis.
“Aku suka kau menyebut dirimu aku dan memanggilku kau. Berarti kita bisa bicara sungguh-sungguh sebagai profesional, Pemburu Keadilan.”
“Itu semua juga tidak lepas dari hasil gemblenganmu yang tidak kenal ampun!”
Pengacara tua itu tertawa.
“Kau sudah mulai lagi dengan puji-pujianmu!” potong pengacara tua.
Pengacara muda terkejut. Ia tersadar pada kekeliruannya lalu minta maaf.

“Tidak apa. Jangan surut. Katakan saja apa yang hendak kamu katakan,” sambung pengacara tua menenangkan, sembari mengangkat tangan, menikmati juga pujian itu, “jangan membatasi dirimu sendiri. Jangan membunuh diri dengan diskripsi-diskripsi yang akan menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam, karena kamu sangat diperlukan oleh bangsamu ini.”

Pengacara muda diam beberapa lama untuk merumuskan diri. Lalu ia meneruskan ucapannya dengan lebih tenang.

“Aku datang kemari ingin mendengar suaramu. Aku mau berdialog.”
“Baik. Mulailah. Berbicaralah sebebas-bebasnya.”

“Terima kasih. Begini. Belum lama ini negara menugaskan aku untuk membela seorang penjahat besar, yang sepantasnya mendapat hukuman mati. Pihak keluarga pun datang dengan gembira ke rumahku untuk mengungkapkan kebahagiannya, bahwa pada akhirnya negara cukup adil, karena memberikan seorang pembela kelas satu untuk mereka. Tetapi aku tolak mentah-mentah. Kenapa? Karena aku yakin, negara tidak benar-benar menugaskan aku untuk membelanya. Negara hanya ingin mempertunjukkan sebuah teater spektakuler, bahwa di negeri yang sangat tercela hukumnya ini, sudah ada kebangkitan baru. Penjahat yang paling kejam, sudah diberikan

seorang pembela yang perkasa seperti Mike Tyson, itu bukan istilahku, aku pinjam dari apa yang diobral para pengamat keadilan di koran untuk semua sepak-terjangku, sebab aku selalu berhasil memenangkan semua perkara yang aku tangani.

Aku ingin berkata tidak kepada negara, karena pencarian keadilan tak boleh menjadi sebuah teater, tetapi mutlak hanya pencarian keadilan yang kalau perlu dingin danbeku. Tapi negara terus juga mendesak dengan berbagai cara supaya tugas itu aku terima. Di situ aku mulai berpikir. Tak mungkin semua itu tanpa alasan. Lalu aku melakukan investigasi yang mendalam dan kutemukan faktanya. Walhasil, kesimpulanku, negara sudah memainkan sandiwara. Negara ingin menunjukkan kepada rakyat dan dunia, bahwa kejahatan dibela oleh siapa pun, tetap kejahatan. Bila negara tetap dapat menjebloskan bangsat itu sampai ke titik terakhirnya hukuman tembak mati, walaupun sudah dibela oleh tim pembela seperti aku, maka negara akan mendapatkan kemenangan ganda, karena kemenangan itu pastilah kemenangan yang telak dan bersih, karena aku yang menjadi jaminannya. Negara hendak menjadikan aku sebagai pecundang. Dan itulah yang aku tentang.

Negara harusnya percaya bahwa menegakkan keadilan tidak bisa lain harus dengan keadilan yang bersih, sebagaimana yang sudah Anda lakukan selama ini.”

Pengacara muda itu berhenti sebentar untuk memberikan waktu pengacara senior itu menyimak. Kemudian ia melanjutkan.

“Tapi aku datang kemari bukan untuk minta pertimbanganmu, apakah keputusanku untuk menolak itu tepat atau tidak. Aku datang kemari karena setelah negara menerima baik penolakanku, bajingan itu sendiri datang ke tempat kediamanku dan meminta dengan hormat supaya aku bersedia untuk membelanya.”

“Lalu kamu terima?” potong pengacara tua itu tiba-tiba.
Pengacara muda itu terkejut. Ia menatap pengacara tua itu dengan heran.
“Bagaimana Anda tahu?”

Pengacara tua mengelus jenggotnya dan mengangkat matanya melihat ke tempat yang jauh. Sebentar saja, tapi seakan ia sudah mengarungi jarak ribuan kilometer. Sambil menghela napas kemudian ia berkata: “Sebab aku kenal siapa kamu.”

Pengacara muda sekarang menarik napas panjang.
“Ya aku menerimanya, sebab aku seorang profesional. Sebagai seorang pengacara aku tidak bisa menolak siapa pun orangnya yang meminta agar aku melaksanakan kewajibanku sebagai pembela. Sebagai pembela, aku mengabdi kepada mereka yang membutuhkan keahlianku untuk membantu pengadilan menjalankan proses peradilan sehingga tercapai keputusan yang seadil-adilnya.”

Pengacara tua mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.
“Jadi itu yang ingin kamu tanyakan?”
“Antara lain.”
“Kalau begitu kau sudah mendapatkan jawabanku.”
Pengacara muda tertegun. Ia menatap, mencoba mengetahui apa yang ada di dalam lubuk hati orang tua itu.
“Jadi langkahku sudah benar?”
Orang tua itu kembali mengelus janggutnya.

“Jangan dulu mempersoalkan kebenaran. Tapi kau telah menunjukkan dirimu sebagai profesional. Kau tolak tawaran negara, sebab di balik tawaran itu tidak hanya ada usaha pengejaran pada kebenaran dan penegakan keadilan sebagaimana yang kau kejar dalam profesimu sebagai ahli hukum, tetapi di situ sudah ada tujuan-tujuan politik. Namun, tawaran yang sama dari seorang penjahat, malah kau terima baik, tak peduli orang itu orang yang pantas ditembak mati, karena sebagai profesional kau tak bisa menolak mereka yang minta tolong agar kamu membelanya dari praktik-praktik pengadilan yang kotor untuk menemukan keadilan yang paling tepat. Asal semua itu dilakukannya tanpa ancaman dan tanpa sogokan uang! Kau tidak membelanya karena ketakutan, bukan?”
“Tidak! Sama sekali tidak!”
“Bukan juga karena uang?!”
“Bukan!”
“Lalu karena apa?”

Pengacara muda itu tersenyum.
“Karena aku akan membelanya.”
“Supaya dia menang?”

“Tidak ada kemenangan di dalam pemburuan keadilan. Yang ada hanya usaha untuk mendekati apa yang lebih benar. Sebab kebenaran sejati, kebenaran yang paling benar mungkin hanya mimpi kita yang tak akan pernah tercapai. Kalah-menang bukan masalah lagi. Upaya untuk mengejar itu yang paling penting. Demi memuliakan proses itulah, aku menerimanya sebagai klienku.”
Pengacara tua termenung.
“Apa jawabanku salah?”
Orang tua itu menggeleng.

“Seperti yang kamu katakan tadi, salah atau benar juga tidak menjadi persoalan. Hanya ada kemungkinan kalau kamu membelanya, kamu akan berhasil keluar sebagai pemenang.”

“Jangan meremehkan jaksa-jaksa yang diangkat oleh negara. Aku dengar sebuah tim yang sangat tangguh akan diturunkan.”

“Tapi kamu akan menang.”
“Perkaranya saja belum mulai, bagaimana bisa tahu aku akan menang.”

“Sudah bertahun-tahun aku hidup sebagai pengacara. Keputusan sudah bisa dibaca walaupun sidang belum mulai. Bukan karena materi perkara itu, tetapi karena soal-soal sampingan. Kamu terlalu besar untuk kalah saat ini.”

Pengacara muda itu tertawa kecil.
“Itu pujian atau peringatan?”
“Pujian.”
“Asal Anda jujur saja.”
“Aku jujur.”
“Betul?”
“Betul!”

Pengacara muda itu tersenyum dan manggut-manggut. Yang tua memicingkan matanya dan mulai menembak lagi.
“Tapi kamu menerima membela penjahat itu, bukan karena takut, bukan?”

“Bukan! Kenapa mesti takut?!”
“Mereka tidak mengancam kamu?”
“Mengacam bagaimana?”
“Jumlah uang yang terlalu besar, pada akhirnya juga adalah sebuah ancaman. Dia tidak memberikan angka-angka?”

“Tidak.”
Pengacara tua itu terkejut.
“Sama sekali tak dibicarakan berapa mereka akan membayarmu?”
“Tidak.”
“Wah! Itu tidak profesional!”
Pengacara muda itu tertawa.
“Aku tak pernah mencari uang dari kesusahan orang!”
“Tapi bagaimana kalau dia sampai menang?”
Pengacara muda itu terdiam.
“Bagaimana kalau dia sampai menang?”
“Negara akan mendapat pelajaran penting. Jangan main-main dengan kejahatan!”
“Jadi kamu akan memenangkan perkara itu?”
Pengacara muda itu tak menjawab.
“Berarti ya!”
“Ya. Aku akan memenangkannya dan aku akan menang!”

Orang tua itu terkejut. Ia merebahkan tubuhnya bersandar. Kedua tangannya mengurut dada. Ketika yang muda hendak bicara lagi, ia mengangkat tangannya.

“Tak usah kamu ulangi lagi, bahwa kamu melakukan itu bukan karena takut, bukan karena kamu disogok.”
“Betul. Ia minta tolong, tanpa ancaman dan tanpa sogokan. Aku tidak takut.”

“Dan kamu menerima tanpa harapan akan mendapatkan balas jasa atau perlindungan balik kelak kalau kamu perlukan, juga bukan karena kamu ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusiaan di mancanegara yang benci negaramu, bukan?”

“Betul.”
“Kalau begitu, pulanglah anak muda. Tak perlu kamu bimbang.

Keputusanmu sudah tepat. Menegakkan hukum selalu dirongrong oleh berbagai tuduhan, seakan-akan kamu sudah memiliki pamrih di luar dari pengejaran keadilan dan kebenaran. Tetapi semua rongrongan itu hanya akan menambah pujian untukmu kelak, kalau kamu mampu terus mendengarkan suara hati nuranimu sebagai penegak hukum yang profesional.”

Pengacara muda itu ingin menjawab, tetapi pengacara tua tidak memberikan kesempatan.

“Aku kira tak ada yang perlu dibahas lagi. Sudah jelas. Lebih baik kamu pulang sekarang. Biarkan aku bertemu dengan putraku, sebab aku sudah sangat rindu kepada dia.”

Pengacara muda itu jadi amat terharu. Ia berdiri hendak memeluk ayahnya. Tetapi orang tua itu mengangkat tangan dan memperingatkan dengan suara yang serak. Nampaknya sudah lelah dan kesakitan.

“Pulanglah sekarang. Laksanakan tugasmu sebagai seorang profesional.”
“Tapi…”

Pengacara tua itu menutupkan matanya, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Sekretarisnya yang jelita, kemudian menyelimuti tubuhnya. Setelah itu wanita itu menoleh kepada pengacara muda.
“Maaf, saya kira pertemuan harus diakhiri di sini, Pak. Beliau perlu banyak beristirahat. Selamat malam.”

Entah karena luluh oleh senyum di bibir wanita yang memiliki mata yang sangat indah itu, pengacara muda itu tak mampu lagi menolak. Ia memandang sekali lagi orang tua itu dengan segala hormat dan cintanya. Lalu ia mendekatkan mulutnya ke telinga wanita itu, agar suaranya jangan sampai membangunkan orang tua itu dan berbisik.

“Katakan kepada ayahanda, bahwa bukti-bukti yang sempat dikumpulkan oleh negara terlalu sedikit dan lemah. Peradilan ini terlalu tergesa-gesa. Aku akan memenangkan perkara ini dan itu berarti akan membebaskan bajingan yang ditakuti dan dikutuk oleh seluruh rakyat di negeri ini untuk terbang lepas kembali seperti burung di udara. Dan semoga itu akan membuat negeri kita ini menjadi lebih dewasa secepatnya. Kalau tidak, kita akan menjadi bangsa yang lalai.”

Apa yang dibisikkan pengacara muda itu kemudian menjadi kenyataan. Dengan gemilang dan mudah ia mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu. Bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh. Ia merayakan kemenangannya dengan pesta kembang api semalam suntuk, lalu meloncat ke mancanegara, tak mungkin dijamah lagi. Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster raksasa. Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. Hakimnya diburu-buru. Pengacara muda itu diculik, disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat. Tetapi itu pun belum cukup. Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah.

Pengacara tua itu terpagut di kursi rodanya. Sementara sekretaris jelitanya membacakan berita-berita keganasan yang merebak di seluruh wilayah negara dengan suaranya yang empuk, air mata menetes di pipi pengacara besar itu.

“Setelah kau datang sebagai seorang pengacara muda yang gemilang dan meminta aku berbicara sebagai profesional, anakku,” rintihnya dengan amat sedih, “Aku terus membuka pintu dan mengharapkan kau datang lagi kepadaku sebagai seorang putra. Bukankah sudah aku ingatkan, aku rindu kepada putraku. Lupakah kamu bahwa kamu bukan saja seorang profesional, tetapi juga seorang putra dari ayahmu. Tak inginkah kau mendengar apa kata seorang ayah kepada putranya, kalau berhadapan dengan sebuah perkara, di mana seorang penjahat besar yang terbebaskan akan menyulut peradilan rakyat seperti bencana yang melanda negeri kita sekarang ini?” ***


 

Pelatihan 2

Unsur  intrinsik

Deskripsi unsur intrinsic

Kalimat pendukung

Tokoh dan perwatakan Aku    :

 

 

 

Bapak  :

 

 

 

Sariningrum:

 

 

 

 
Alur  

 

 
Tema  

 

 
Latar Tempat  :

 

Waktu  :

 

Suasana:

 

 

 

 

Sudut pandang

 

   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tema 2

Jiwa patriot

 

A.  MENANGGAPI ISI PEMBICARAAN DALAM DISKUSI

Setelah kegiatan belajar mengajar ini diharapkan siswa dapat: (1) mengajukan pertanyaan; (2) menanggapi pembicara dalam bentuk kritikan atau dukungan; (3) menambahkan alasan yang dapat memperkuat tanggapan

Diskusi merupakan salah stu kegiatan bertukar pikiran atau penndapat untuk memecahkan suatu persoalan.  Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001:269), diskusi diartikan sebagai pertemuan ilmiah untuk bertukar pikiran mengenai suatu masalah. Oleh karena itu, peran serta setiap peserta diskusi sangat menentukann tujuan diskusi. Setiap peserta diharapkan ikut memikirkan, kemudian menyampaikan hasil pemikirannya ke dalam forum secara objektif dan dilandasi semangat  semangat persaudaraan.

Agar diskusi dapat berjalan dengan lancar, setiap peserta memperhatikan hal-hal berikut.

  • Mematuhi tata cara berdiskusi;
  • Bersikap rasional;
  • Menghargai pendapat peserta lain;
  • Tidak memotong pembicaraan peserta lain;
  • Menggunakan bahasa yang mudah ditangkap, kalimat-kalimat yang pendek, kalimat yang paling efektif;
  • Menjunjung tinggi sopan santun ;
  • Mengajukan tanggapan/sanggahan selalu disertai dengan alasan yang logis;

Menyampaikan tanggapan atas penjelasan teman dalam diskusi baik dilakukan pada saat bersamaan dengan kegiatan itu. Akan tetapi, kegiatan diskusi tentu dibatasi  oleh waktu. Oleh karena itu, tanggapan diskusi dapat disampaikan secara tertulis kepada teman yang menjadi pemrasaran dalam kegiatan diskusi itu. Tanggapan tertulis itu disebut memo. Istilah memo digunakan untuk tanggapan atau pernyataan yang dituliskan secara singkat. Istilah memo sebenarnya ditujukan pada bentuk surat singkat dalam suatu instansi mengenai  suatu hal. Akan tetapi, dalam perkembangannya, istilah memo mengalami perluasan arti, yang juga ditujukan untuk pengertian surat dengan pesan singkat.. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001) selain diartikan sebagaisurat singkat suatu instansi, memo juga diartikan sebagai bentuk komunikasi yang berisi saran, arahan, atau penerangan.

Tanggapan yang berupa memo ini sangat membantu dalam sebuah diskusi. Hal inii dikarenakan tidak semua sanggahan , pendapat, atau kritik dapat disampaikan secara langsung dalam bentuk diskusi. Hal-hal yang terdapat dalam sebuah memo adalah hari dan tanggal penulisan memo, isi pesan singkat, tanda tangan dan nama penulis memo dicantumkan secara lengkap (Kosasihh, 2004:146).

Perhatikan contoh berikut.

Memo

Dari      : Gillang Noor Nugraha

Untuk   :  Moh. Ghifary Noor Firdausy

Tanggapan

Saya kurang sependapat dengan penjelasan Anda. Anda mengatakan bahwa hiburan yang bersifat mistik sangat baik sebagai hiburan, sehingga banyak pemiinatnya. Saya piker, pendapat Anda hanya didasarkan atas selera pasar. Sebagai orang yang ikut bertanggung jawabterhadap pendidikan bangsa, seharusnya penayangan hiburan lebih ditekankan pada nilai didik, misalnya penanaman moral yang baik, budi pekerti, atau mempertajam logika dengan mengedepankan perkembangan iptek dan imtak. Oleh karena itu, menurut saya, jika tayangan hiburan masih bersifat seperti iitu, jelas kita akan semakin tertinggal dan terpuruk.

 

Pelatihan 1

PERNYATAAN

TANGGAPAN

Sebelum kemerdekaan, kehidupan wanita masih sangat terikat dan dibatasi oleh adat. Anak-anak perempuan yang terbelenggu oleh adat-istiadat lama hanya boleh memanfaatkan sedikit saja kemajuan pengajaran. Banyak peraturan yang mengikat kehidupan mereka. Salah satunya adalah adat-istiadat negeri ini  melarang keras anak-anak gadis keluar rumah (pada saat itu). ———————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————-
Menyadari betapa terbelakangnya kedudukan kaum wanita pada masa itu, Kartini berkeinginan untuk mengangkat derajat wanita melalui pendidikan, agar memperoleh hak dan kecakapan yang sama seperti kaum laki-laki. Oleh karena itulah, Kartini dianggap sebagai pelopor emansipasi wanita Indonesia yang berjuang untuk menuntut persamaan hak wanita melalui pendidikan. —————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————-
Kedudukan kaum wanita dalam masyarakat dianggap rendah, jika dibandingkan dengan kaum pria. Padahal Tuhan menjadikan laki-laki dan perempuan sebagai makhluk yang sama, begitupun juga jiwanya, hanya bentuknya yang berlainan. Karena itu, seharusnya kedudukannya juga tidak boleh dibeda-bedakan. ————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————
Dari bacaan-bacaan tersebut, Kartini semakin yakin bahwa wanita memegang peranan penting dalam kehidupan suatu bangsa. Dan dari Minnebriven Kartini mengetahui bagaimana Pemerintah Belanda menindas dan memeras Bangsa ini. Ia pun mengetahiu bagaimana buruknya sistem kepegawaian dan pendidikan yang dijalankan Pemerintah. Akhirnya, ia memprotes dalam suratnya kepada Stella Zeehandelar. Ia mengungkapkan rasa jengkelnya terhadap Pemerintah yang kurang memperhatikan dunia pendidikan. Dikatakannya bahwa sekolah yang ada sangat sedikit jumlahnya. Hanya ada sekolah guru dan sekolah dokter Jawa untuk anak-anak bangsawan. —————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————-
Masalahnya, wanita yang memikul tanggung jawab yang demikian besar itu, ternyata masih berada dalam keterbelakangan. Cara untuk mengatasinya ialah dengan memberikan pendidikan.. Pendidikan yang dimaksud Kartini ialah pendidikan Barat, namun ia tidak buta terhadap hal-hal dari Barat yang tidak cocok dengan kepribadian bangsanya. Ia hanya ingin mengambil dari barat hal-hal yang positif, yang dapat mengangkat derajat wanita bangsanya. Nilai-nilai budaya asli tetap dipertahankannya, sebab menurut Kartini, Eropa tidaklah segala-galanya sempurna. Ia tidak ingin menjadikan wanita Jawa (Indonesia) menjadi orang Jawa-Eropa. —————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————-

 

B.  MEMBACA INTENSIF EDITORIAL/TAJUK RENCANA SURAT KABAR UNTUK MENEMUKAN FAKTA DAN OPINI

Setelah kegiatan pembelajaran ini diharapkan siswa dapat (1) menemukan fakta dan opini  penulis tajuk rencana atau editorial; (2) membedakan fakta dengan opini; (3) mengungkapkan isi tajuk rencana/editorial

Editorial menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2007: 284) mempunyai beberapa pengertian.

  • Mengenai atau berhubungan dengan editor atau pengeditan
  • Artikel disuratkabar atau majalah yang mengungkapkan pendirian editor atau pimpinansuratkabar (majalah) tersebut mengenai beberpa pokok masalah; tajuk rencana.

Editorial atau tajuk rencana dalam sebuahsuratkabar merupakan kupasan terhadap informasi utama. Kupasan tersebut didasarkan pada sudut pandang redaksi yang bersangkutan, serta visi dan misisuratkabar atau majalah yang menaunginya.

Adabeberapa fungsi tajuk rencana/editorial:

  • Menjelaskan berita;
  • Mengisi latar belakang;
  • Meramalkan masa depan;
  • Merumuskan sebuah penilaian moral.

Keempat fungsi editorial tersebut untuk memengaruhi pendapat public. Proses memengaruhi tersebut hrus bersifat argumentative agar pembaca membenarkan dan mengikuti opini/pendapat yang dikemukakan oleh penulis dalam editorial tersebut.

Kepemimpinan di Tengah Bencana

Bencana yang melanda suatu bangsa, terbukti menguji sejauh mana kualitas kepemimpinan seseorang. Bagaimana seharusnya pemimpin memposisikan diri akan banyak dinilai dari ketepatan pernyataan, langkah, dan kebijakannya dalam menyikapi persoalan di seputar bencana tersebut, baik ketika memberi respon pada awal terjadinya peristiwa, kecekatan manajemennya, serta pilihan-pilihan kebijakan yang diambil pada masa-masa pemulihan, juga bagaimana substansi “keterlibatan” untuk in-charge di dalamnya.

Pemposisian diri itu menjadi actual dari dua contoh pemimpin dalam menyikapi bencana. Presiden Cile Sebastian Pinera mendapat respek dan pujian dunia karena sikap dan langkah-langkahnya ketika memimpin sendiri penyelamatan puluhan petambang yang terjebak direruntuhan pertambangan. Apa yang dilakukan dinilai menginspirasi, membangun pancaran maslahat bagi rakyatnya untuk menyentuh relung-relung kehidupan lebih luas –tak terbatas pada episode penyelamatan itu.

Kedua, respons Ketua DPR Marzuki Alie yang mengejutkan mengenai tsunami di Mentawai, Sumatera Barat. Di tengah duka mendalam: kematian lebih dari 400 jiwa, serta ratusan orang yang belum diketahui nasibnya, pucuk pimpinan wakil rakyat itu mengatakan, bencana tersebut merupakan konsekuensi dari mereka yang hidup di tepi pantau. Ia justru mempertanyakan mengapa tidak memilih pindah ke tempat lain. Kita sangat bisa memahami pernyataan seperti itu berpotensi mengundang ketersinggungan bagi siapapun.

Sikap standar bagi seorang pemimpin dalam merespon terjadinya bencana mestinya adalah bagaimana mengekspresikan ketulusan simpati, empati, dan compassion (rasa sepenanggungan). Kemasannya bisa bermacam-macam, mulai dari ucapan, gesture, diksi, tindakan, sikap, hingga pengambilan keputusan dalam menentukan kebijakan. Poin-poin itu menunjukkan hakikat “keterlibatan” dalam persoalan. Yakni “berada di dalam,” bersama-sama, menjadi bagian dari kondisi kesulitan dan kedukaan yang dihadapi para korban.

Masih banyak contoh, karena pilihan diksi yang tidak tepat, suara hati yang diungkapkan tanpa penghayatan manjing ajur-ajer, atau keberjarakan psikologis seorang pemimpin dengan public, munculah aneka “kejutan” seperti dalam kasus Marzuki Ali. Bahkan, meminjam istilah Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Purbaningrum, kita merasakan “manajemen lidah” belum dijalankan dengan baik. Persoalannya bukan sekadar citra, tetapi bagaimana ikut merasakan kondisi saudara-saudara kita yang didera nestapa.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun akan dicatat memberi inspirasi, jika dalam tragedy Mentawai dan letusan Gunung Merapi ini secara efektif mengembangkan totalitas “keterlibatan” untuk mengentaskan rakyat di dua daerah bencana itu ke luar dari kondisinya sekarang. Setidak-tidaknya, ia memilih “bersama” mereka menggalang langkah dan kebijakan yang memberi solusi produktif. Pengendalian dan pengawalan manajemen penanganan para korban kiranya akan memberi gambaran kualitas kepemimpinan.

Tajuk Rencana Suara Merdeka, Sabtu, 6 November 2010

Pelatihan 1

Bacalah tajuk rencana di atas, kemudian isilah kolom-kolom dalam tabel di bawah ini sesuai dengan perintahnya!

Pokok-pokok isi tajuk rencana

Fakta

Opini

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

C.  MENULIS NOTULEN RAPAT

Setelah kegiatan pembelajaran ini ddiharapkan siswa dapat: (1)  mengidentifikasi dua notulen rapat atau lebih; (2) mencatat perbedaan dan persamaan antara dua notulen  rapat atau lebih; (3) menemukan pola penulisan notulen rapat yang lengkap; (4) menulis notulen rapat; (5) mendiskusikan notulen rapat yang telah dibuat

            Notula adalah catatan singkat mengenai jalannya persidangan (rapat) serta hal yang dibicarakan dan diputuskan.

Seorang notulis dalam forum rapat bertugas mencatat hasil-hasil rapat itu dalam bentuk notulen. Notulen berisi rangkuman hasil pembicaraan dalam rapat secara menyeluruh, ringkas, padat, dan sistematis. Seorang notulis hendaknya mempunyai keterampilan menyimak dan menulis sehingga mampu menangkap seluruh pembicaraan dan menuliskannya dalam notulen secara sistematis.

Bacalah notulen rapat di bawah ini!

ORGANISASI SISWA INTRA SEKOLAH

SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 3 REMBANG

Jalan Gajah Mada 8 Rembang, telepon (0295) 691280

NOTULEN RAPAT

Hari, tanggal     : Kamis, 11 Nopember 2010

Tempat : Ruang OSIS SMA N3 Rembang

Waktu  :           : 10.00 – 11.30 WIB

Susunan Acara:

  1. Pembukaan
  2. Sambutan Kepala sekolah
  3. Pembentukan Panitia Wisata Siswa
  4. Lain-lain
  5. Penutup

Hasil Rapat       :

  1. Rapat dibuka ketua OSIS SMA N3 Rembang pukul 10.00
  2. Sambutan Kepala Sekolah berupa saran agar pelaksanaan wisata siswa ini dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, baik dari perencanaan, pelaksanaannya, sampai dengan pelaporan.
  3. Susunan Panitia Wisata Siswa

Ketua Panitia    : Hidayatus Sholihin

Wakil Ketua     : Andi Indira

Sekretaris         : Ratri Wulandari

Bendahara        : Ardelia Annisa

Seksi-seksi       :

    • Transportasi                             : Guntoro, Imam
    • Konsumsi dan Akomodasi        :  Lintang Yulia, Andi Wahyudi
    • Dokumentasi                            : Moh. Yusuf
    • Objek Wisata                           : Anita Rahmawati
    • Perlengkapan                            :  Damami Agam
    • P3K                                         :  Gillang Noor
  1. Lain-lain

Guntoro Kelas XI IPS 1 mengusulkan agar piknik ini dilaksanakan sesuai keuangan yang dimiliki siswa/wali murid. Usul ini disetujui oleh forum rapat. Giselya mengusulkan agar wisata siswa membawa hasil maka setiap kelompok siswa wajib membuat laporan. Usul inipun disetujui.

  1. Penutup

Rapat ditutup dengan bacaan hamdalah oleh Ketua OSIS SMA N3 Rembang pukul 11.30 WIB.

Notulis,

Galuh Purwandani

Pelatihan 1

Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan tepat!

  1. Tulislah bagian-bagian notulen berdasarkan contoh notulen di atas!
  2. Menurut kamu adakah bagian notulen yang dapat ditambahkan? Jika ada tambahkannlah!

Pelatihan 2

Dengan menemukan pola notulen/bagian notulen yang lengkap, ringkas, dan sistematis, tulislah notulen rapat dengan data kegiatan sebagai berikut!

 

D. NILAI-NILAI BUDAYA, MORAL, DAN SOSIAL DALAM CERPEN

Setelah kegiatan pembelajaran ini diharapkan siswa dapat : (1) menemukan nilai moral, budaya, dan social dalam cerpen; (2) mendiskusikan nilai-nilai tersebut

Nilai-nilai sebuah cerpen merupakan realisasi dari fungsi cerpen sebagai media pendidikan bagi pembaca. Jadi, selain untuk menghibur, cerpen juga berfungsi untuk mengajari pembaca akan nilai-nilai kehidupan.

Nilai-nilai kehidupan dalam sebuah cerpen tidak disampaikan secara langsung oleh pengarang. Oleh karena itu, untuk memahaminya seorang pembaca harus mengetahui dan memahami cerita dalam karya sastra tersebut secara keseluruhan. Nilai-nilai moral menurut Nurgiyantoro (2002:320) , moral dalam cerita dimaksudkan sebagai suatu saran yang berhubungan dengan ajaran moral tertentu yang bersifat praktiis, yang dapat diambil lewat cerita yang bersangkutan ooleh pembaca.

Nilai-nilai dalam sebuah cerpen mengandung pelajaran yang berharga untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari para pembaca atau penikmat sastra.

Bacalah cerpen di bawah ini!


Lelaki dan Perahunya Yang Dikutuk Menjadi Batu

Oleh Sunaryono Basuki Ks
Sudahkah kau mendengar kisah tentang seorang lelaki yang dikutuk menjadi batu bersama perahu dan segala isinya? Ketika Oedipus dilahirkan, orang tuanya mengirim orang untuk bertanya kepada Orakel Dephi, yang menjawab dengan jujur tentang masa depan.
“Berhati-hatilah. Anak ini kelak akan membunuh ayahnya dan mengawini ibunya.”
Maka, ayah yang bijak menyuruh orang membunuhnya agar bencana tak bakal terjadi. Namun, que sera sera, apa yang bakal terjadi terjadilah. Si bayi yang berwajah lembut itu diselundupkan keluar kerajaan oleh pesuruh yang tak tega harus melaksanakan perintah membunuh bayi tak berdosa.

Maka jadilah Oedipus pemuda yang merasa punya orang tua yang harus diabdi, kedua orang tua angkat yang tak sedarah dengannya. Lelaki muda yang berhati lembut itupun pergi ke Orakel Dephi dan bertanya:

“Wahai yang bijaksana, yang mengetahui tentang apa yang akan terjadi, katakanlah padaku tentang nasibku di masa yang akan datang.”

“Pemuda yang gagah perkasa, berhati-hatilah, dan dengarkan baik-baik kata-kataku ini. Engkau akan membunuh ayahmu dan mengawini ibumu.”
“Duh, Gusti, alangkah laknat anak ini, menyudahi hidup ayahnya sendiri, dan Duh Gusti, haruskah aku menjalani nasib yang nista, yang menjijikkan dengan mengawini ibuku sendiri. Tidak! Aku harus menghindari itu semua!”

Maka, tanpa mengucap pamit Oedipus lari meninggalkan negeri yang disangka negerinya. Di tengah perjalanan dia bertengkar dengan seorang lelaki yang menunggang kuda, membunuhnya, dan bertemu dengan Sphinx yang ditaklukkannya, dan disambut rakyat Thebes, jadilah dia raja baru dan mewarisi

Sang Ratu yang ayu. Semua itu sudah kau dengar, dan tentang lelaki yang tak peduli tentang nasibnya di masa depan sehingga dikutuk menjadi batu, kau pun pasti sudah mendengar kisahnya.

Tetapi inilah kisah tentang lelaki yang meninggalkan negerinya, mengembara ke negeri jauh sebagai awak kapal dan kemudian kembali sebagai raja kapal yang kaya raya. Pulang ke desa dia menyembah ibunya yang tua renta dan miskin, serta memperkenalkannya pada seorang putri yang dibawanya dari negeri China.

“Inilah ibuku,” katanya, membimbing tangan istrinya, “Bersujudlah ke ujung kakinya. Dialah perempuan yang mempertaruhkan jiwanya melahirkan diriku, menumpahkan darah di tanah kelahiranku ini.”

Lalu, putri ayu mencium kaki ibu mertuanya yang penuh debu, mengharap restu dan kasih seorang ibu.

“Anakku,” katanya dengan suara gemetar, “siapakah perempuan yang kau bawa pulang ini?”

“Dia adalah istriku, Ibu, seorang putri bangsawan dari negeri China,” katanya dengan bangga.

Perempuan itu matanya sudah rabun, dipandangnya perempuan ayu yang bersimpuh di depannya, rambutnya lebat hitam, terurai sampai ke pinggang.

“Duh, anakku,” kata perempuan itu. “Kenapa kau tak minta izinku?”

“Kenapa Ibu? Tidakkah Ibu berkenan menerima putri ayu ini? Adakah cacatnya, wataknya. Lihatlah alangkah lemah lembutnya dia. Kata-katanya pun tiada ada celanya.”

“Berani-beraninya kau melanggar adat kita, wahai anakku.”
“Adat yang manakah yang tak kuturuti, ya, Ibu?”
“Tidakkah pernah kukatakan padamu tentang pantangan yang sudah diwariskan oleh raja-raja kita? Tidakkah kau dengar kisah raja Jawa yang jatuh pamornya

lantaran menikah dengan putri pujaannya yang adalah saudara tuanya? Kita ini bangsa muda, anakku, harus menghormati leluhur kita jauh di sana. Tulang-belulang kita belumlah kuat, tak sebanding dengan tulang istrimu. Akan hancurlah percampuran yang tak setara itu, sebab engkau menggagahi saudari tuamu sendiri.”

“Ampunilah anakmu ini, ya Ibu. Doakanlah agar kutukan itu tak terjadi pada kami. Kami berniat suci untuk membina keluarga yang Ibu restui. Restuilah kami agar kami dapat meneruskan garis keluarga yang sementara berhenti pada tegak hamba ini.”

Perempuan tua itu memegang kedua bahu putri ayu kemudian dengan suara gemetar berkata: “Bangunlah anakku. Tegaklah pada kedua belah kakimu dan pandanglah perempuan tua ini.”

Dengan patuh putri ayu tegak menatap wajah perempuan tua itu yang telah keriput, rambutnya yang jarang sudah berwarna putih tak bercampur hitam. Di

mata perempuan itu putri ayu melihat mata ibunya, yang berlinangkan air mata. Di mata itu pula terbayang wajah ayahnya yang dengan pandangan bengis melepaskan kepergiannya bersama lelaki yang dicintainya itu.

“Kalau engkau pergi, pergilah, dan jangan sekali-kali kembali menginjakkan kaki di negeri ini. Pergilah jauh bersama ombak, dan engkau akan selamanya dihempas ombak yang datang dari tengah laut, memandang jauh ke utara, memimpikan negeri yang telah kau tinggalkan, yang tak mungkin kau rengkuh kembali. Pergilah sampai halilintar nanti bergelegar dan langit terbelah mewartakan amarah para leluhurmu. Tunggulah saatnya sampai kau tak lagi dapat mengingat masa lalumu karena hatimu sudah menjadi batu bersama tangan dan tubuhmu.”

Alangkah kejamnya kutukan yang telah diucapkan oleh ayahnya, dan kutukan itu makin menyata di mata perempuan tua yang sekarang menjadi ibu mertuanya, seolah dia mampu menyaksikannya datang makin dekat ke arah perahu batu yang dihempas air laut di pantai dilepas sebuah pura yang terletak di sebuah bukit batu.

Tubuhnya bergetar melihat kedua belah mata perempuan tua itu yang menampilkan batu karang memanjang yang selalu dihempas ombak, seolah sebuah perahu yang tiang-tiang utamanya telah patah. Di mata itu dia juga melihat badai, dan perahu yang terombang-ambing oleng dalam ayunan ombak yang tak henti-hentinya menerpa.

“Tabahlah, anakku. Bagaimanapun juga, kau adalah anakku, sudah menjadi anakku sendiri, dan apa yang sudah terjadi memang harus dilakoni. Kutukan dan hukuman tak bisa dielak tetapi bisa dimohon untuk tak semena-mena menghancurkan raga dan jiwa kita. Marilah ikut ibu memohon kepada Hyang Gusti Kang Murbeng Dumadi, Gusti yang memulai menghamparkan langit dan bumi bagi kita semua. Tiada kekuatan satu pun yang dapat menandingi kekuatan-Nya yang tak terbatas, sebab manusia hanyalah ciptaan-Nya yang hanya mencoba menyamai-Nya

Namun, mustahil dapat menjadi kekuatan yang maha raksasa. Marilah menundukkan kepala kita, ya anakku, memohon kepada-Nya agar kutuk itu diperingan dan tak sampai menghancurkan kebahagiaanmu bersama suami dan kelak bersama anak-anakmu.”

Lalu, mereka pun pergi ke tepi laut, dan perempuan itu duduk tepekur di pasir pantai.

“Kumpulkanlah lidi dan ranting-ranting kecil, buah ceri dan ketela pelepah pisang bawalah kemari,” katanya, sementara anak dan menantunya pergi melaksanakan permintaan perempuan tua itu.

Lalu, dari lidi, ranting, dan pelepah pisang perempuan tua itu membangun sebuah perahu kecil, lengkap dengan tiang utama dan layar yang disobekkan dari bajunya. Di atas perahu dinaikkan seorang pelaut yang tubuhnya dibuat dari ketela dan kepalanya dari buah ceri. Lalu, mereka bertiga mendekat ke air laut.

“Layarkanlah perahu ini, anakku,” katanya. “Kalian berdua, layarkanlah dia.”
Mereka berdua berpegangan tangan dan melayarkan perahu kecil itu yang pelahan dihempas kecipak ombak kecil.

Tiba-tiba langit diselimuti awan gelap yang menyungkup langit dan petir sambar-menyambar. Perahu yang mulai bergerak ke tengah itu dalam kilatan petir nampak membesar dan membesar, dan akhirnya sebuah perahu sempurna lengkap dengan tiang utama dan layar yang masih tak sempat diturunkan, oleng diterjang badai ombak. Terdengar angin dari arah utara seolah teriakan lelaki yang sedang marah, dalam aum gemuruh badai menggila. Hujan deras mengguyur sekujur badan perahu, dan terakhir kilat utama menyambar perahu, mematahkan tiang utama dan menjatuhkan layar yang tak sempat terkembang ke air laut. Dan perahu yang oleng dalam cahaya kilat dalam gelap itu berubah menjadi batu, terbujur memanjang dan terdampar di pantai di depan pura yang berdiri kokoh di bukit batu, membatu bersama penumpangnya.

Ketika badai reda dan langit terang kembali, matahari menyinari batu karang yang terbujur memanjang, seolah sebuah perahu yang telah membatu.

“Itulah perahu yang menjalani kutuk itu. Suara ayahmu yang murka telah hilang ditiup angin, kembali ke arah utara.”

Perempuan tua itu tetap bersimpuh di atas pasir. Putri ayu memegangi tubuhnya yang lesu agar tak jatuh menyentuh batu-batu tajam di pantai itu. Lelaki gagah itu duduk bersila menghaturkan sembah ke langit, bersyukur karena perahu kecil itu sudah berubah menjadi batu dan perahunya

sendiri selamat memuat harga oleh-oleh untuk orang sekampung.

“Kasih sayang Ibu telah menyelamatkan kami berdua. Terima kasih kami, ya Ibunda. Tidak ada yang lebih mulia dari hati seorang ibu, dan Ibu telah memberikan kemuliaan itu kepada kami berdua. Sekarang, izinkanlah kami mengemban amanat ayahanda untuk meneruskan alir darah yang sementara berhenti di tubuhku ini.”

Perempuan itu membuka matanya dan mencoba duduk dengan punggung tegak.

“Syukurilah peristiwa hari ini, anakku,” katanya dengan suara lemah.

“Ya, Ibu. Kami bersyukur dapat lepas dari kutuk dan siksa,” kata mereka berdua.
Masih dengan suara lemah, perempuan itu melontarkan kata-kata yang menggetarkan jiwa mereka.
“Tapi ini bukan akhir kisahnya, anakku. Masih ada yang akan tiba, yang lebih dahsyat, yang harus kamu tanggung berdua.”
“Duh, Ibu, apalagi yang akan menimpa diri kami?”
“Itulah yang aku tak tahu,” kata perempuan tua itu.
“Tak mungkinkah kami dihindarkan sekali lagi dari malapetaka?”
Perempuan itu memandang mereka dengan matanya yang tak lagi menangkap cahaya muka kedua anaknya.

“Telah terkuras tenagaku, sudah tak kuasa aku menyalurkan daya ke atas dunia fana ini. Tempatku adalah para-para cahaya, tak lagi di atas batu padas dan pasir pantai. Lihatlah ke atas awan dan akan

terlihat gemintang yang berkedip. Salah satu di antaranya adalah ibu, yang selalu melihatmu di kala malam, mengenang hari-hari yang sudah lewat, yang selalu merindukanmu.”

Dan perempuan tua itu memejamkan matanya buat selama-lamanya meninggalkan senyum yang memancarkan kecantikan jiwanya. Lelaki dan putri itu membakar jenazahnya dengan upacara yang layak dan menaburkan abunya ke laut, lalu memanggil kembali arwahnya untuk dibawa masuk ke dalam pura dalem.

Lalu, peristiwa yang lebih dahsyat dari perahu yang berubah menjadi batu, kapankah akan terjadi? Lalu, peristiwa macam apakah yang akan terjadi?

Dari hari ke hari keduanya menunggu peristiwa yang tak dijelaskan bentuk dan waktunya., sampai lahir putra sulung mereka, disusul oleh putri, dan putra lagi, dan putri lagi.

Sampai pada suatu hari, sebuah kapal dari negeriChina dengan benderanya kepala naga yang berkibar mendekati pantai di mana mereka berdua tinggal, di kampung yang baru saja tumbuh. Tak ada ombak tak ada angin dan badai, namun kapal itu berhenti jauh agak ke tengah laut.

Bererapa buah sekoci diturunkan ke laut, dengan beberapa orang pelaut mengayuh sekoci itu ke pantai.

“Tolonglah kami, Tuan Muda,” kata lelaki itu dalam bahasa China, kepada lelaki yang kini sudah menjadi petani. Lelaki itu dapat mengingat sejumlah kata yang dipungutnya dalam kunjungannya ke negeri istrinya dan menjawabnya dengan sebuah pertanyaan:

“Apa yang harus aku lakukan?”
“Kapal kami terdampar. Tolonglah kami agar kami dapat melanjutkan perjalanan kami kembali.”
“Siapakah tuanmu, ya tamu kami.”
“Kami adalah anak buah Tuan Teh, Tuan muda.”
“Mengapa kalian datang kemari?”
“Kami hanya singgah mencari putri Tuan Teh yang telah melarikan diri dengan seorang pemuda dari negeri jauh. Kami diperintah untuk membawa kembali tuan putri.”
“Apakah dia The Giok Nio?”
“Bagaimanakah Tuan tahu?”
“Akulah suami putrimu, yang telah melahirkan empat orang putra putriku. Akankah kau membawa kembali dia ke negerimu?”

Parapelaut itu menghunus pedangnya bersiap hendak menyerang. Lelaki itu pun menghunus kerisnya, dan para lelaki itu undur sampai kaki mereka masuk ke dalam air laut.

“Lihatlah, hai para tamuku!” kata lelaki itu, kemudian mengacungkan kerisnya tinggi-tinggi. terdengar petir menyambar dan

laut mengganas dan ombak menggoncangkan kapal. Tiba-tiba langit cerah kembali dan terdengar suara teriakan dari arah perahu. Terlihat orang memberikan tanda yang mengatakan bahwa kapal mereka tak lagi terdampar.

Parapelaut itu surut, undur dan menghaturkan penghormatan.
“Terima kasih Tuan Muda.”
“Sampaikan pada Tuanmu bahwa sang putri selamat tak suatu apa dan berbahagia dengan suami dan anak-anaknya.”
Mereka memberi hormat dan kembali menuju sekoci yang bergegas dikayuh kembali menuju perahu.

Lelaki itu seolah mendengar bisikan dari Ibu, di langit di antara bintang-bintang. Dengan memejamkan matanya lelaki itu menggumamkan:
“Terima kasih Ibu, telah kau ubah kutuk menjadi perbuatan mulia. Semoga ayah mertuaku dapat menerima kenyataan ini.”
Dan, malam itu, di atas perahu, lelaki itu bersama istri dan empat orang anaknya diundang pesta perjumpaan dengan keluarga yang telah berpisah, jauh dipisahkan oleh lautan.***

Pelatihan 1

Diskusikanlah dengan teman sebangkumu nilai-nilai moral, social, da budaya yang terdapat dalam cerpen di atas!

Isilah tabel berikut sesuai dengan perintahnya!

Nilai Budaya

Nilai Moral

Nilai Sosial

1.________________

__________________

2.________________

__________________

3.________________

__________________

1.________________

__________________

2.________________

__________________

3.________________

__________________

1.________________

__________________

2.________________

__________________

3.________________

__________________

 

Pelatihan 2

Perhatikan kutipan cerpen di bawah ini! Kemudian isilah kolom-kolom di bawah ini berdasarkan hasil diskusi kalian !

“Tentu saja. Aku juga pernah muda seperti kamu. Dan aku juga berani, kalau perlu kurang ajar. Aku pisahkan antara urusan keluarga dan kepentingan pribadi dengan perjuangan penegakan keadilan. Tidak seperti para pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang. Bahkan tidak seperti para elit dan cendekiawan yang cemerlang ketika masih di luar kekuasaan, namun menjadi lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan untuk menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya. Kamu pasti tidak terlalu jauh dari keadaanku waktu masih muda. Kamu sudah membaca riwayat hidupku

yang belum lama ini ditulis di sebuah kampus di luar negeri bukan? Mereka menyebutku Singa Lapar. Aku memang tidak pernah berhenti memburu pencuri-

pencuri keadilan yang bersarang di lembaga-lembaga tinggi dan gedung-gedung bertingkat. Merekalah yang sudah membuat kejahatan menjadi budaya di negeri ini. Kamu bisa banyak belajar dari buku itu.”

Pengacara muda itu tersenyum. Ia mengangkat dagunya, mencoba memandang pejuang keadilan yang kini seperti macan ompong itu, meskipun sisa-sisa keperkasaannya masih terasa.

“Aku tidak datang untuk menentang atau memuji Anda. Anda dengan seluruh sejarah Anda memang terlalu besar untuk dibicarakan. Meskipun bukan bebas dari kritik. Aku punya sederetan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan yang sudah Anda lakukan.

Dan aku terlalu kecil untuk menentang bahkan juga terlalu tak pantas untuk memujimu. Anda sudah tidak memerlukan cercaan atau pujian lagi. Karena kau bukan hanya penegak keadilan yang bersih, kau yang selalu berhasil dan sempurna, tetapi kau juga adalah keadilan itu sendiri.”

Nilai Budaya

Nilai Moral

Nilai Sosial

1.________________

__________________

2.________________

__________________

3.________________

__________________

1.________________

__________________

2.________________

__________________

3.________________

__________________

1.________________

__________________

2.________________

__________________

3.________________

__________________

 

E. MEMENTASKAN TOKOH DALAM DRAMA

Setelah kegiatan pembelajaran ini diharapkan siswa dapat: (1) menghayati watak tokoh yang akan diperankan; (2) mengekspresikan dialog para tokoh dalam pementasan drama; (3) menanggapi penampilan dialog para tokoh dalam pementasan drama

Setiap kali hendak melakuukan pementasan drama, langkah pertama yang harus dilakukan ialah mencari dan memilih naskah. Setelah nnaskah ditentukan akan dilanjutkan dengan kegiatan penafsiran naskah tersebut yang disusul kemudian dengan pelatihan membaca naskah tersebut. Jadi, aktivitas membaca naskah. Jadi, aktivitas membaca naskah drama bukanlah aktivitas yang asing bagi para actor karena mereka memang akan melakukannya sebelum mereka berlatih gerak dan bloking.

Langkah-langkah pembacaan naskah drama berbeda dengan aktivitas pembacaan sebuah cerpen. Artinya, dalam pembacaan naskah drama pun tokoh dan memahami konflik serta puncak konflik dalam alur.

Alangkah bagusnya kalau masing-masing actor memiliki karakter vocal yang berbeda agar nuansa karakter tokoh jelas dapat dibedakan. Dalam drama radio misalnya, jika karakter vocal para pembaca teks itu mirip, pendengar akan kesulitan mengidentifikasi siapa tokoh yang sedang tampil itu.

Bacalah naskah drama “Bapak” ini dengan kelompok Anda. Ingat, kekuatan vocal dan karakter vocal akan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan baca drama.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pelatihan 1

Perhatikan teks drama berikut ini!

Perankanlah drama di bawah di bawah ini!

BAPAK

(Drama dua babak)

  1. Soelarto

Para Pelaku:

Bapak, usia 51 tahun

Si Sulung, usia 28 tahun

Si Bungsu, usia 24 tahun

Perwira, usia 26 tahun

Bagimu kemerdekaan bumi pusaka

Drama ini terjadi pada tanggal 19 Januari 1949, sebulan sesudah tentara Kolonial Belanda melancarkan aksi agresinya yang kedua dengan merebut ibukota RepublikIndonesia,Yogyakarta.

Tentara Kolonial Belanda telah pula siaga untuk melancarkann serangan kilat untuk merebut sebuahkotastrategis yang hanya dipertahankan oleh satu batalyon Tentara Nasional Indonesia.

Dikotaitulah Si Bapak dikagetkan kedatangan putra sulungnya yang mendadak muncul setelah bertahun tanpa kabar berita.

Si Sulung telah kembali dengan membawa sebuah usul yang amat amat sangat mengagetkan Bapak.

Waktu itu seputar jam 10.00, si Bapak yang sudah lanjut usia, jalan terus-menerus merongrong pikirannya.

Bapak              : Dia putera sulungku telah kembalii pulang. Dan sebuah usul diajukan, segera   mengungsi ke daerah pendudukan yang serba aman tenteram. Hem, ya, ya. Usulnya dapat kumengerti karena ia terbiasa bertahun-tahun hidup disana. Dalam sangkar. Jauh dari deru prahara. Bertahun mata hatinya digelapbutakan oleh nina bobok, lele buai si penjajah. Bertahun semangatnya dijinakkan oleh suap roti keju. Celaka, ooo betapa celaka nian. Si bungsu senyum mendatang.

Bungsu : Ah, Bapak rupanya lagi ngomong seorang diri.

Bapak              : Ya, anakku, terkadang orang lebih suka ngomong pada diri sendiri. Tapi bukankah kau tadi bersama abangmu?

Bungsu             : Ya, sehari kami tamasya mengitari seluruh penjurukota. Saying sekali…kami tidak berhasil menjumpai Mas….

Bapak              :  Tunanganmu?

Bungsu             : Ah, dia selalu sibuk dengan urusan kemiliteran melulu. Bahkan ketika kami mendatangi asramanya, ia tak ada. Kata mereka, ia sedang rapat dinas. Heheh, seolah-olah seluruh hidupnya tersita untuk urusan-urusan militer saja.

Bapak              : Kita sedang dalam keadaan darurat perang, Nak. Dan dalam keadaan begini, bagi seorang prajurit  kepentingan Negara ada di atas segala. Bukan saja seluruh waktunya, bahkan juga jiwa raganya. Tapi eh, mana abangmu sekaranG?

Bungsu             : Oo, rupanya dia begitu rindu pada bumi kelahirannya. Seluruh penjurukotadipotreti semua. Tapi kurasa abang akan segera tiba. Dan sudahkan Bapak membawa usul yang diajukannya itu?

Bapak              : Itulah. Itulah yang hendak kuputuskan sekarang ini, Nak.

Bungsu             : Nah, itu dia!

Bapak              : Siapa?

Si Sulung dating dengan mencangklong pesawat potret, mengenakan kacamata hitam. Terus duduk, melepaskan kacamata dan meletakkan pesawat potret di atas meja.

Sulung              : Huhuh,kotatercintaku ini rupanya sudah berubah wajah. Dipenuhi penghuni baju seragam menyandang senapan. Dipagari lingkaran kawat berduri. Dan wajahnya kini menjadi garang berhiaskan laras-laras senapan mesin. Tapi di atas segalanya,kotatercintaku ini masih tetap memperlihatkan kejelitaannya.

Bapak              : Begitulah, N ak, suasanakotayang sedang dicekam keadaan darurat perang.

Sulung              : Ya pertanda akan hilang keamanan, berganti hur u-hara  keonaran. Dan mumpung masih keburu waktu, bagaimana atas keputusan Bapak atas usulku itu?

Bapak              : Menyesal sekali, Nak ….

Sulung              : Bapak menjawab dengan penolakan, bukan?

Bapak              : Ya!

Bungsu             : Jawaban Bapak sangat bijaksana.

Sulung              : Bijaksana?! Ya, kau benar manisku! Setidak-tidaknya demikianlah anggapanmu, karena bukankah secara kebetulan tunanganmu itu adalah seorang perwira TNI di sini. u-haraapi maaf, bukan maksudku menyindirmu, adikku saying.

Bungsu             : Ah, tidak mengapa. Kau hanya kellihatan keletihan. Mengasolah dulu, ya, Abang. Mengasolah, kau begitu capek tampaknya. Bapak, biar aku pergi belanja dulu untuk hidangan makan siang nanti.

Si Bungsu pergi, Si Sulung mengantar dengan senyum. u-hara

Bapak              : Nak, pertimbangan bukanlah karena masa depan adikmu seorang. Juga bukan karena masa depan sisa usiaku.

Sulung              : Hem, karena rumah dan tanah pusaka ini barangkalai, ya, Pak?

Bapak              : Sesungguhnya, nak, lebih karena itu.

Sulung              : Oh, ya?! Apa itu ya, Bapaak?!

Bapak              : Kemerdekaan.

Sulung              : Kemerdekaan?! Kemerdekaan siapa?

Bapak              : Bangsa dan bumi pusaka.

Si Sulung tertawa.

Sulung              : Bapak yang baik. Bertahun sudah aku hidup di daerah  pendudukansanabersama beribu bangsa awak yang tercinta. Dan aku seperti juga mereka, tidak pernah merasa jadi budak belian ataupun tawanan perang. Ketahuilah, ya, Bapak, disanakami hidup merdeka.

Bapak              : Bebaskah kau menuntut kemerdekaan?

Sulung              : Hoho, apa yang mesti dituntut! Kami disanamanusia-manusia merdeka.

Bapak              : Bagaimana kemerdekaan menurut engkau, nak?

Sulung              : Hem. Disanapunya wali Negara, bangsa awak. Disanasegala lapang kerja terbuka lebar-lebar bagi bangsa awak. Di atas segalanya, kami disanahidup dalam damai. Rukun berdampingan antara si putih dan si awak….

Bapak              : Dan di atas segalanya pula, disanasi putih menjadi yang dipertuan. Dan sebuah bendera asing jadi lambing kedaulatan, lambing kuasa penjajahan. Dapatkah itu kau artikan suatu kemerdekaann?

Sulung              : Baik-baik. Tapi, ya, Bapak, kita bukan politisi.

Bapak              :   Nak, setiap patriot pada hakikatnya adalah seorang politikus jua. Kendati tidak harus berarti menjadi seorang diplomat, seorang negarawan. Dan, justru karena kesadaran dan pengertian politiknyya itulah, seorang patriot akan senantiasa membangkang terhadap tiap politik penjajahan. Betapa pun manis bentuk lahirnya. Renungkanlah itu! Nak!. Dan marilah kuambil contoh masa lalu. Bukankahh dulu semasa kita masih dalam alam Hindia Belanda, kita hidup serba kecukupan dalam sandang pangan. Tapi,

Nak, apakah jaminan perut kenyang, kecukupan sandang pangan, kesejahteraan hidup keluarga dalam suasana aman tenteram dan masa pensiun yang enak, sudah dengan sendirinya berarti hidup dalam kemerdekaan? Tidak, anakku! Kemerdekaan tidak ditentukan oleh semua itu. Kemerdekaan adalah soal harga diri kebangsaan. Ia ditentukan oleh kenyataan, apakah sesuatu bangsa menjadi yang dipertuan mutlak atas bumi pusakanya sendiri atau tidak. Ya, anakku renungkanlah kebenaran ucapanku ini. Renungkanlah ….

Sulung              : Menyesal, ya, Bapak. Rupanya kita berbeda kutub dalam penafsiran makna ….

Bapak              : Namun, kau, Nak, kau wajib merenungkannya. Sebab, aku yakin kau akan mampu menemukan titik simpul kebenaran ucapanku.

Sulung              : Baik-baik. Itu akan aku renungkan, mungkin kelak aku akan membenarkan tafsir Bapak. Tapi sekarang ini dan dalam waktu mendatang yang singkat, aku belum bersedia untuk mempertimbangkannya. Lagipula, kita sekarang diburu waktu. Karenanya kumohon Bapak segera berkenan sekali lagi mempertimbangkan usulku. Setidak-tidaknya demi kedamaian hidup masa tua Bapak juga. Bahkan sebenarnya juga demi masa depan adikku satu-satunay itu. Tapi karena dia lebih memilih dan memberati masa nikahnya dengan seorang perwira TNI, terpulanglah kepada kehendaknya sendiri. Cuma, telah kupesankan kepadanya, agar ia segera saja pindah ke pedalaman yang masih jauh dari jangkauan peluru meriam. Karena kurasa wajahkotatercintaku ini tak lama lagi akan hancur lebur ditimpa kebinasaan perang.

Bapak              : Nak, apapun yang etrjadi aku akan tetap bertahan di sini. Dan bila mereka melanda kotaini, Inyaallah akupun akan ikut angkat senjata. Bukan karena rumah atau tanah waris. Tapi karena kemerdekaan bumi pusaka. Ya,, mungkin sekali pembelaanku akan kurang berarti. Namun, dalam setitik amal baktiku itulah, kutemukan bahagia dalam sisa usiku. Dan kalaupun aku mesti mati untuk itu, niscayalah aku ikhlas mati dalam damai di hati. Nah, kaupun tahu aku tidak pernah memaksakan kehendakku kepada anak-anakku. Bila ada anakku yang yakin masa depannya ada di daerah pendudukan akan lebih membahagiakan hidupnya, silakan pergi. Begitulah, bila adikmu mantap untuk mengungsi kesana, silakan pergi bersamamu. Tapi adikmu dibesarkan dalam alam kemerdekaan, jadi dia tentulah dapat menilai arti kemerdekaan. Karenanya, aku yakin ia tidak akan pernah ragu untuk menentukan ke mana cinta hidupnya akan dibawa. Dan kurasa bukanlah soal pernikahannya dengan seorang perwira TNI yang menjadi dasar timbang rasa, timbang hatinya. Tapi pengertian cintanya pada kemerdekaan bumi pusakanya!

Sulung              : Ah, Bapak terpanggang oleh api sentiment patriotisme. Ya, ya aku memang dapat mengerti, lantaran dulu Bapak pernah jadi buronan pemerintah Hindia-Belanda. Bahkan sampai-sampai almarhumah Bunda wafat dalam siksa kesepian dan kegelisahan karena Bapak selalu keluar masuk penjara. Dan, kini rupanya Bapak menimpakan segala dendam itu pada pemerintah kerajaan. Bapak, sebaiknya lupakanlah masa lalu. Lupakanlah semua duka cerita itu.

Bapak              : Anakku sayang, kebencianku pada mereka, dulu, sekarang, dan besok, bukanlah karena dendam pribadi. Tidak! Pembangkanganku dulu, sekarang, dan besok, bukanlah karena sentiment, tapi karena keyakinan.

Ya, keyakinan bahwa mereka adalah penjajah. Ya, keyakinan bahwa mereka adalah penjajah. Keyakinan bahwa membangkang penjajah adalah suatu tindak mulia, tindak hak. Untuk itulah aku rela dalam menderita dan korbankan segalanya, Nak. Dan aku bangga untuk itu. Juga almarhumah Bundamu, Nak. Karena ia tahu dan sadar akan arti pengorbanannya. Tidak akan pernah tersia. Meskipun takkan ada bintang jasa dan tugu kenangan baginya….

Sulung              : Lepas dari setuju atau tidak, aku kagumi Bapak dalam meneguhi keyakinan. Ya, lepas dari setuju atau tidak, aku kagumi kesabaran dan ketabahan almarhumah Bunda. Juga pada adikku seorang yang begitu tinggi kesadaran pengertiannya, begitu agung cintanya pada kemerdekaan, meski tafsirannya adalah tafsiran yang Bapak rumuskan. Dan ya, kita memang musti berbangga diri dalam meneguhi cinta dan keyakinan masing-masing. Tapi, ya, Bapak, usulku tak ada sangkut pautnya dengan masalah-masalah kebanggaan-kebanggaan pribadi. Usulku Cuma untuk keselamatan pribadi.

Bapak              : Kau benar, usulmu memang tak bersangkut-paut dengan kebanggaan-kebanggaan pribadi. Tapi usulmu itu langsung menyentuh keyakinan-keyakinan pribadi. Dan menurut jalan pikiran keyakinanku, usulmu itu wajib ditolak. Mutlak! Sebab mengorbankan keyakinanku, bagiku nilai rasanya sungguh teramat nista. Tengoklah sejarah, lihatlah betapa para ksatria Muslim syahiid dalam membela dan meneguhi keyakinannya. Betapa membela dan meneguhi keyakinannya. Betapa pun kaum nasrani begitu pasrah mati dikoyak-koyak singa di zaman Nero. Ya, mereeka yang Muslim dan Nasrani sama mati ikhlas mati syahid menurut anggapannya, daripada mengorbankan keyakinan-keyakinan yang mereka teguh.

Sulung              : ya, bila memang Bapakk begitu teguh pada pendirian yang Bapak anut, apa boleh buat ….

Bapak              : tapi, Nak, izinkan aku Tanya. Bagaimana sikapmu dalam perjuangan pembangkangan kita melawan penjajah?

Sulung              : Sudah kunyatakan tadi, bahwa antara kita ada perbedaan kutub, perbedaan dalam merumuskan tafsir makna. Kita menempuh jalan yang berbeda. Bapak memilih jalan pembangkangan, aku sebaliknya. Konsekuensinya memang berat amat. Satu tragedy. Dan menurut tanggapanku, tragedy yang terjadi dan bakal terjadi di sini menjadi tanggung jawab kaum ekstrimis, dan pihak yang sekeyakinan dengan Bapak.

Bapak              : Sayang sekali, Nak, kita tegak pada dua kutub yang bertentangan secara asasi. Tapi adalah keliru bila kau menimpakan kesalahan dan tanggung jawab segala duka cita pada pihak kami, nak. Kami cinta damai, tapi adalah pasti, lebih memberati kemerdekaan! Dan bila pihak kaliam membenarkan tindak paksa, tindak kekerasan dalam menindas gerak perjuangan kemerdekaan, maka pihak kamipun membenarkan tindak pembangkangan bersenjata. Bagaimana pun juga, kedudukan kamiu adalah bertahan diri. Nak, sejarah membuktikan bahwa sejak kaum penjajah menjangkahi bumi pusaka kitaa, merekalah yang menciptakan segala sengketa antara sesama kita. Politik penjajahan merealah yang menghasilkan dduka cerita di tanah air. Ya, di mana saja. Adalah kaum penajajah yang menjadi biang keladi dan yang bertanggung jawab atass segala duka cita bangsa yang terjajah!

Sulung              : Begitu pendapat Bapak? Memang Bapak ada hak penuh untuk berpendapat demikian itu.

Bapak              : Nak, keyakinanmu salah. Sadarlah, Nak!

Sulung              : Salah bagi Bapak, benar bagiku. Dan, aku sadar benar akan hal itu. Dan dengan penuh kesadaran pula, aku bersedia menanggung segala resikonya.

Si Sulung melangkah ke dalam.

Bapak              : Ya, memang keyakinan tidak bisa dipaksakan. Tidak juga oleh seorang bapak pada anak kandung sendiri. Namun, bagaimanapun jua, aku telah mengingatkannya.

Dari dalam rumah kedengaran suara-suara isyarat pesawat pemancar isyarat. Bapak tersentak keheranan. Dengan penuh curiga Bapak melangkah ke dalam .

Si Bungsu muncul dengan mencangklong tas penuh berisi bungkusan makanan dan sayur-mayur.

Bungsu             : Ee… ke mana semuanya ini….

Di luar kedengaran orangmengentuk-ngetuk pintu, permisi.

Perwira            : Maafkan, aku  tidak sempat menemani ….

Bungsu : Lupakanlah. Yang penting, seskarang Mas sudah berada di sini.

Perwira            : Di mana abangmu, Dik? Tentulah ia amat jengkel padaku, bukan? Karena sejak kedatangannya di sini, ia selalu tidak berhasil dalam usahanya mengenalku. Ya, akupun sangat ingin mengenalnya. Dapatkah kini aku memperkenalkan diri?

Bungsu : Tentu. Dan itu sudah kewajibanmu, Mas.

Mendadak dari dalam kedengaran tembakan pistol beberapa kali. Si Bungsu dan Perwira tersentak kaget.

Bungsu : Kau dengar, Mas?

Perwira            : Tembakan pistol.

Bungsu : Dari dalam rumah….

Perwira            : Pasti ada sesuatu yang tidak beres, di dalamsana. Adakah Bapak memiliki senjata api itu, Dik?

Bungsu : Setahuku, tidak.

Perwira            : Abangmu barangkali?

Si Bungsu mendadak muncul dengan pistol di tangan kanan dan sebuah map tebal di tangan kiri. Mereka saling menatap denagn heran tegang. Si Bapak meletakkan map di atas meja, pistol diletakannya di atasnya.

Bapak              : Pistol ini milik putra sulungku…

Bungsu : Bapak apa yang terjadi?

Bapak  : Aku…aku telah menembak mati abangmu, anak kandungku pribadi.

Si Bungsu menjerit.

Bungsu : Tapi …tapi bagaimana mungkin Bapak bertindak begitu ….

Bapak              : Bagaimanapun juga, aku telah melakukannya dengan penuh kesadaran.

Bungsu : Apa, apa dosa Abangku seorang?

Si Bapak tenang duduk, berusaha menguasai diri. Lalu menatap kea rah Perwira yang masih terpaku keheranan.

Bapak              : Nak, lihatlah ada alat-alat apa sajakah di kamar dalamsana.

Bungsu : Bapak, jawablah tanyaku tadi. Katakanlah apa dosa, apa salah abang?

Si Bapak terdiam. Si Bungsu terisak pilu. Perwira cepat pergi ke dalam. Sejenak sepi, selain sedu-sedan si Bungsu. Kemudian perwira muncul pula dengan wajah memucat, tangan kanan mencangkong alat peneropong, tangan kiri mengepit lipatan peta militer dan pistol isyarat.

Bapak              : Apa yang kau temukan disana…

Perwira            : Sebuah alat pemancar isyarat radio. Dan yang kubawa ini….

Barang-barang diletakkan di atas meja.

Perwira            : pistol isyarat, peta militer yang secara terperinci menggambarkan denahkotaini, lengkap dengan tempat-tempat instalasi-instalasi militer, kubu-kubu pertahanan kita di sini.

Si Bapak menoleh kea rah si bungsu yang masih tersedu.

Bapak              : Kau dengar sendiri, Nak? Abangmu seorang pengkhianat.

Si Bapak gemetar tubuhnya dan suaranya menggemetar.

Bapak              : Dia anak kandungku, pengkhianat!

Mata si Bapak terkaca basah, berulang kali menggumamkan kata-kata “pengkhianat”. Dengan menahan amarah campur kepedihan hati, si Bapak mengeluarkan sebuah potret ukuran kartu pos dari dalam map yang tadi di bawanya. Potret diperlihatkan kepada si Bungsu dan Perwira.

Bapak              : Lihat-lihat! Dia dalam seragam kolonila, dengan pangkat Letnan! Lengkap dengan bintang-bintang jasa khianatnya menghiasi dada.

Si Bungsu menghentikann sedu-isaknya, cepat merebut potret dari tangan si Bapak. Gemetar si Bungsu menatap potret. Kemudian seolah potret itu pun terlepas sendiri jatuh ke lantai. Si Bungsu menutupkan kedua belah tangannya pada wajahnya beriring suara melengking pasrah.

Bungsu : Abang!

Bapak              : Tak perlu ia diratapi, Nak!

dan deraian air mata kepedihannya.

Bapak              : Bawa! Di dalamnya penuh dengan dokumen-dokumen rahasia militer. Mungkin sekali juga, kunci sandi dinas rahasia tentara colonial. Sebab dia ternya opsir dalam Dinas Rahasia Tentara Kerajaan.

Bapak              : Nah, izinkan kubertanya. Apa yang akan kalian lakukan terhadapnya, sekiranya ia sampai tertangkap kalian?

Perwira            : Hukum tembak sampai mati.

Bapak              : Itu sudah terlaksana, dengan tanganku pribadi.

Bungsu : Tapi, kenapa musti Bapak sendiri yang menghakimi.

Bapak              : Karena, dia anak kandungku pribadi. Karena aku cinta padanya. Ya karena cintaku itulah, aku tidak rela ia meneruskan langkah sesatnya. Langkah khianatnya, harus ya, wajib dihentikan. Meskipun dengan jalan membunuhnya. Tapi dengan kematiannya, aku telah menyelamatkan jiwanya dari kesesatan hanya sampai sekian. Dengan kematiannya berakhirlah pula kerja nistanya sebagai pengkhianat. Ya, sekali ini aku terpaksa memaksakan kehendakku  pada anak kandungku sendiri. Dan dengan kekerasan dalam bentuk pembunuhan! Itu kulakukan tanpa dorongan dendam. Tanpa semangat kebenciian pada pribadi almarhum. Dan itu akan aku pertanggujawabkan, dunia-akhiirat. Dia anak kandungku pribadi. Tapi cinta kebapaankuada batasnya. Karena aku lebih cinta pada bagimu kemerdekaan bangsa dan bumi pusaka. Dan bagimu kemerdekaan, sekali anak kandungku kujadikan tumbal sesaji. Bila saja ia pahlawan, hendaklah ia gugur syahid di pangkuan Ibu kemerdekaan. Bila ia pengkhianat, matilah ia di tanganku pribadi. Dan celakalah ia, karena ia telah memilih kematian yang paling aib. Mati dalam khianat.

Si Bapak menoleh ke arah Perwira.

Bapak              : Tolonglah, Nak bawa kemari jenazah almarhum.

Perwira cepat melangkah ke dalam. Si Bapak menghampiri si Bungsu.

Bapak              : Bagaimanapun juga, abangmu kini telah lepas dari cengkeraman tindak khianat.

Bungsu : Oo, Bapak, betapa memelas kemalangan hidupnya. Betapa memelas.

Bapak              : Belas kasihanilah dia, sebagaimana kita menaruh belas kasihan pada jiwa-jiwamalang.

Perwira muncul dengan mengemban jenazah si sulung yang sudah diselimuti kain. Si Bapak memberi isyarat agar jenazah diletakkan ke lantai. Si Bungsu masih dengan mata berkaca basah menghampiri jenazah si Sulung. Dan dengan berlutut ia menyingkap selimut, ditatapnya wajah jenazah dengan berlinang. Lalu dengan gemetar, kain diselimutkan lagi menutupi wajah jenazah. Sambil bangkit si Bungsu menggumam lirih.

Bungsu : Sesungguhnya manusia itu kepunyaan Tuhan Yang Maha Esa dan kepadaNya jualah manusia kembali.

Perwira mengeluarkan notes dari saku celananya.

Perwira            : Ini buku harian mendiang, yang tadi kutemuan dari sakunya. Dan inilah catatannya yang terakhir … 18 Januari 1949. semua laporan sudah diterima di Markas Besar, beres. Tinggal kirim tanda OK, besok pagi. Operasi Badai bias dilaksanakan menurut rencana X, 19 Januari, jam 12.00. Dropping Zone di perbatasan utarakota, aman. Cukup diterjunkan satu kompi pasukan paying. Untuk mendobrak pertahanan TNI di jalan raya 1, cukup dikerahkan satu squadron tank. Sasaran artileri 3 derajat barat lautkota. Keempat batalyon Tjiger Brigade digerakkan serentak, menembus pertahanan sayap kanan kiri TNI pada jalan raya 1 dan 2.

Bapak              : Sekarang tanggal 19 Januari?!

Perwira            : Kekuatan kita Cuma satu batalyon. Sekaran jam 11.30….

Terdengar deru pesawat-pesawat terbang. Mereka sama tersentak.

Bapak              : Mereka dating. Cepatlah bertindak. Dan kau anakku, ikutlah bersama bakal suamimu.

Bungsu : Bapak Juga…

Bapak              : Tidak! Aku tidak akan pergi. Aku akan tetap di sini. Mereka pasti akan segera kemari. Mereka akan menjumpai jenazah abangmu. Dan, aku akan bikin perhitungan dengan mereka. Pistol ini akan memadailah usaha itu.

Bapak              : Tidak! Bapak musti ikut kami.

Terdengar ledakan bom-bom menggemuruh, bersusul tembakan meriam-meriam.

Bapak              : Cepat pergilah! Cepat!

Perwira yang telah mengambil barang-barang sitaan, cepat-cepat menarik si Bungsu. Keduanya berlari keluar, tapi henti sejenak di ambang.

Perwira            : Selamat tinggal, ya, Bapak.

Bungsu : Selamatlah ya Bapak.

Bapak              : Selamat berjuang. Berbahagialah. Lahirkanlah pahlawan-pahlawan Tuhan bersama kalian. Selamat berkjuang!

Perwira dan si Bungsu menhilang pergi. Ledakan-ledakan, tembakan-tembakan kian dekat menggemuruh. Bersusul tembakan gencar. Si Bapak dengan tenang menghampiri jenazah. Dibukanya kain yang menutup bagian wajah jenazah, sejenak ditatap dengan penuh keharuan.

Bapak              : Damailah rohmu di alam baka. Tuhan akan mengampuni siapa saja yang dikehendaki-Nya. Karena sesungguhnya Tuhan Maha Pengampun dan mengampuni dosa tiap hamba-Nya.

Wajah jenazah kembali ditutupkan. Lalu dengan tenang si Bapak menghampiri meja, mengambil pistol. Tenang membuka kunci pistol. Dan dengan gerak tenang pula melangkah kea rah ambang dengan senjata di tangan.

Bapak              : Sekarang, telah tiba saatnya bagiku untuk bikin perhitungan dengan si biang keladi yang menimpaku duka cerita selama berabad di tanah air. Sekarang setelah tiba saatnya bagiku untuk berikan pengorbananku yang terbesar bagimu, ya, kemerdekaan bumi pusaka!

SELESAI

 

Nilailah penampilan temanmu sesuai dengan kolom di bawah ini!

Pedoman Penyekoran:

No

Uraian

Kriteria Ketepatan

Benar

Setengah

Salah

1

Penghayatan

20

10

5

2

Pelafalan

20

10

5

3

Vokal

20

10

5

4

Penampilan

20

10

5

5

Penguasaan panggung

20

10

5

Total skor

100

50

25

Pelatihan 2

Lakukanlah kegiatan berikut ini!

  • Bekerjalah berdua dalam kelompok
  • Identifiasianlah karakter para tokoh yang ada dalam teks drama di atas dengan mengisi table di bawah ini!

No

Nama Tokoh

Karakter Tokoh

Data dari Tek Drama

1 Bapak
2 Sulung
3 Bungsu
4 Perwira

Tema 3

Kucintai budaya negeriku

A.  MENGHAYATI PERAN  DALAM BERMAIN PERAN

Setelah kegiatan ini diharapkan siswa dapat: (1) memerankan drama dengan memperhatikan penggunaan lafal, intonasi, nada/tekanan, mimik/gerak-gerik  yang tepat sesuai dengan watak tokoh; (2) menanggapi peran yang ditampilkan dalam pementasan drama

Waluyo (2001:109) menjelaskan bahwa berperan adalah menjadi orang lain sesuai dengan tuntutan lakon drama. Berperan harus memperhatikan hal-hal berikut ini.

  1. kreasi yang dilakukan pemain drama (actor atau aktris);
  2. peran yang dibawakan harus bersifat allamiah dan wajar;
  3. peran yang dibawakan harus disesuaikan dengan tipe,gaya, jiwa, dan tujuan dari pementasan;
  4. peran yang dibawakan harus disesuaikan dengan periode tertentu dan watak yang harus dipresentasikan.

Banyak ahlii yang mengemukakan teknik memerankkan drama. Berikut akan dijelaskan teknik memerankan drama menurut Oscar Brocket dalam Waluyo (2001:116-119). Menurut Oscar Brocket, dalam latihan acting terdapat tujuh langkah yang harus dilakukan, yaitu sebagai berikut.

  1. Latihan Tubuh

Latihan tubuh mengacu pada latihan ekspresi fisik. Berlatih bergerak secara luwes, berdisiplin terhadap peran yang dibawakan, dan ekspresif sesuai dengan watak peran, umur peran, dan keadaan social peran yang dimainkan. Latihan tubuh sering kali dilakukan dengan memberikan latihan dasar acting, seperti: menari, balet, senam, atau silat.

  1. Latihan Suara

Latihan suara dapat diartikan latihan mengucapkan suara secara jelas dan nyaring. Dapat juga berarti latihan penjiwaan suara. Warna suara harus disesuaikan dengan watak peran, umur peran dan keadaan social peran yang dimainkan. Nada suara juga harus diatur sehingga membedakan peran yang satu dengan peran lainnya. Yang terpenting adalah suara itu harus jelas, nyaring, mudah ditangkap, komunikatif, dan sesuai artikulasinya.

  1. Latihan Observasi dan Imajinasi

Actor dalam memerankan seorang tokoh harus sungguh-sungguh menghayati dan memahami karakter tokoh tersebut dengan penuh kejiwaan. Agar dapat sungguh-sungguh menghayati karakter tokoh yang diperankan actor mulai mengobservasi setiap watak, tingkah laku, dan motivasi orang-orang yang dijumpainya. Jika ia harus memerankan watak dan tokoh tertentu, maka observasi difokuskan pada tokoh yang mirip atau sama. Jika memungkinkan, observasi dilakukan dalam waktu yang lama sehingga dapat mengamati tokoh tersebut secara mendetail.

Hasil observasi tersebut dihidupkan dengan imajinasi dan ingatan emosi actor sehingga dapat ditampilkan secara meyakinkan, benar-benar hidup dan bernilai estetis.

  1. Latihan Konsentrasi

Konsentrasi diarahkan untuk melatih actor membenamkan dirinya ke dalam watak dan pribadi tokoh yang dibawakan. Konsentrasi sangat penting dalam penjiwaan peran karena dengan kekuatan konsentrasinya, actor dapat memusatkan diri pada saat pentas. Seorang actor harus merasa bahwa dunianya ada dalam pentas tersebut. Konsentrasi harus dimulai sejak latihan pertama dan ditingkatkan menjelaang masuk pentas serta selama pementasan

  1. Latihan Teknik

Latihan teknik di sini berkaitan dengan latihan masuk, memberi isi, memberikan tekanan, mengembangkan permainan, penonjolan, ritme, timing yang tepat dan hal lain berkaitan dengan penyutradaraan. Pengaturaan tempat pentas, pergeseeran actor lain ke sisi berikutnya, posisi actor, teknik jalan, teknik loncat, atau teknik bergerak lainnya merupakan bagian dari latihan teknik. Seorang actor harus membuat penonton menyaksikan aktingnya dengan tepat dan jelas.

  1. Sistem Akting

Seorang actor harus berlatih acting. Berkaitan dengan hal ini, ada dua pendekatan dalam menghayati peran, yaitu metode dan teknik. Metode berhubungan dengan latihan sukma atau latihan “unsure Dalam”. Pendekatan teknis berhubungan dengan teknik bermain yang merupakan factor luar atau fisik.

Bidang acting ada tiga, yaitu: teknik (fisik), mental (intelektual), dan emosi (spiritual). Bidang acting yang bersifat teknis, misalnya: latihan pernafasan, latihan vocal, dan latihan penonjolan. Latihan mental berupa latihan watak dengan menganalisis watak dari sudut fisik, psikis, dan social;  memahami pikiran; feeling; action; dan hubungannya dengan permainan serta peran yang lain. Emosi dalam drama harus dilatih. Seorang actor harus menghadirkan emosinya sesuai dengan tuntutan lakon.

  1. Memperlancar Skill dan Latihan

Memperlancar skill dan latihan memerlukan imajinasi. Dengan adanya imajinasi, semua latihan yang sifatnya seperti menghafal dapat dikuasai dengan lancer dan tampak seperti kejadian sebenarnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pelatihan 1

Bacalah teks drama “Bunga Rumah Makan” dengan seksama! Kemudian praktikanlah!

Bunga Rumah Makan

Utuy Tatang Sontani

Panggung merupakan ruangan rumah makan, dilengkapi dengan tiga stel kursi untuk tamu, lemari tempat minuman, rak kaca tempat kue-kue, meja tulis beserta telepon, radio, dan lemari es. Pintu ke dalam ada di belakang dan pintu keluar ada di depan sebelah kiri.

 

ADEGAN 3

Ani

(ke belakang sambil bernyanyi kecil)

Pengemis

(Masuk perlahan-lahan dengan kaki pincang, setelah di dalam melihat ke kiri-ke kanan, kea rah tempat kue-kue, kemudian menuju rak itu dengan langkah biasa, tangannya membuka tutup stoples hendak mengambil kue)

Ani

(tampil dari belakang) hai!

Pengemis

(cepat menarik tangannya)

Ani

Engkau mau mencuri, ya?

Pengemis

(menundukkan kepala)

Ani

Hamper tiap engkau dating ke sini, engkau kuberi uang. Tak nyana, kalau sekarang berani dating di sini dengan maksud mencuri.

  Pengemis

Ampun, Nona, ampun.

Ani

Mau sekali lagi kau mencuri?

Pengemis

Saya takkanmencuri bila saya punya uang.

Ani

Bohong!

Pengemis

Betul, Nona, sejak kemarin saya belum makan.

Ani

Mau kau bersumpah, bahwa engkau tak hendak mencuri lagi?

Pengemis

Demi Allah, saya takkan mencuri lagi, Nona. Asal….

Ani

Tidak. Aku tidak akan memberi lagi uang kepadamu.

Pengemis

(sedih) Ah, Nona. Kasihanilah saya.

Ani

Tapi, kenapa kau tadi mau mencuri?

Pengemis

(sedih) Tidak, Nona, saya tidak akan lagi. Dan saya sudah bersumpah. Ya, saya sudah bersumpah.

Ani

(mengambil uang dari laci meja) Awas, kalau sekali lagi engkau  mencuri!

 

 

 

 

 

ADEGAN 4

Sudarman

(Masuk menjinjing tas kulit, melihat kepada pengemis) Mengapa engkau ada di sini? Ayo, keluar!

Pengemis

(diam menundukkan kepala)

Sudarman

(kepada Ani) Mengapa dia dibiarkan masuk, An?

Ani

Hendak saya beri uang.

Sudarman

Tak perlu! Pemalas biar mati kelaparan. Padahal, dia ke sini mengotorkan tempat semata.

Ani

(melemparkan uang kepada pengemis) Nih! Lekas pergi.

Pengemis

Terima kasih, Nona. Moga-moga Nona panjang umur.

Sudarman

Lekas pergi dan jangan dating lagi di sini!

Pengemis

(pergi ke luar dengan kaki pincang)

(Sumber: Horison SastraIndonesia4: Kitab Drama)

Pelatihan 2

Jawablah pertanyaan di bawah ini!

  1. Permasalahan apa yang tergambar dalam drama di atas?
  2. Sebutkan latar terjadinya peristiwa dalam drama di atas?
  3. Menurut pendapatmu, apakah peran tokoh Ani dan Sudarman dalam drama di atas? Apakah hubungan antara keduanya?
  4. jika drama di atas dipentaskan, gambarkan kostum yang dikenakan tokoh-tokohnya?
  5. Buatlah gambar latar (setting) panggung berdasarkan gambaran isi drama di atas!

Pelatihan 3

Tokoh Perwatakan Bukti Kalimat
Ani    

 

Pengemis    

 

Sudaran    

 

 

B.  MEMBACA BUKU BIOGRAFI

Setelah kegiatan pembelajaran ini diharapkan siswa dapat: (1) Mengungkapkan hal-hal yang menarik tentang tokoh dalam buku biografi yang dibaca; (2) merefleksikan tokoh dengan diri sendiri; (3) menemukan tokoh yang mirip pada tokoh lain; (4) menemukan hal-hal yang bisa diteladani tentang tokoh tersebut

Biografi adalah riwayat hidup (seseorang) yang ditulis oleh orang lain (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2001:155). Jika biografi ditulis sendiri dinamakan autobiografi. Biografi lebih kompleks daripada sekedar daftar tanggal lahir, tanggal kematian, dan data-data pekerjaan.

Lebih dari itu, biografi bercerita tentang perasaan tokoh saat mengalami peristiwa yang disebutkan dalam biografi tersebut. Secara umum biografi berisi narasi perjalanan kehidupan seorang tokoh, deskripsi kegiatan, dan peristiwa yang dialaminya, ekspresi termasuk gagasan, perasaan, dan pandangan hidupnya. Biografi sangat penting untuk dibaca karena di dalamnya terkandung nilai pendidikan atau moral bagi pembacanya

Bacalah biografi di bawah ini!

Susi Susanti

Peraih Emas Pertama Olimpiade

Parapenggemar olahraga bulu tangkis pasti tidak asing dengan Susi Susanti. Dia dapat dikatakan sebagai maestro bulu tangkis wanitaIndonesiayang memiliki prestasi mengagumkan sepanjang kariernya. Masa keemasannya di dunia bulu tangkis berlangsung cukup panjang. Semua prestasi  yang diraihnya berpuncak pada Olimpiade Barcelona, Spanyol, 1992. kala itu, Susi Susanti berhasil meraih medali emas. Itu sekaligus merupakan medali emas pertama yang berhasil diraihIndonesiadi ajang olahraga tingkat dunia ittu.

Prestasi yang mengharumkan nama bbangsa juga diukir oleh Susi dengan meraih sederetan kejuaraan. Dia menjuarai All England sebanyak empat kali (1990, 1991, 1993, 1994). Juga di kejuaraan Dunia tahun 1993, serta puluhan gelar seri grand prix . sang juara yang mempunyai semangat pantang menyerah ini selalu menjadi ujung tombak tim Piala Sudirman dan Piala Uber.

Kiprah Susi Susanti di dunia olahraga bulu tangkisIndonesiamemang luar biasa. Dalam setiap pertandingan, Susi senantiasa menunjukkan sikap tenang, bahkan terlihat tanpa emosi sama sekali pada saa-saat angka penentuan.

Semangatnya yang pantang menyerah meski angkanya tertinggal jauh dari lawan, membuat banyak pendukungnya menaruh kepercayaan besar bahwa Susi pasti menang.

Kegigihan dan ketekunan perempuan kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat, 11 Februari 1971 ini turut menyumbang sukses pada tahun 1989. ketika itu,Indonesiamerebut Piala Sudirman untuk pertama kalinya. Dia pun turut menorehkan sukses saat merebut Piala Sudirman untuk pertama kalinya. Dia pun turut menorehkan sukses saat merebut Piala Uber tahun 1994 dan 1996 setelah piala itu absent lama dariIndonesia.

SejakSD, Susi memang suka bermain bulu tangkis. Kebetulan, orang tuanya sangat mendukung dan memberinya kebebasan untuk menjadi atlet bulu tangkis. Setelah menang di kejuaraan yunior, ia pindah dari Tasikmalaya keJakarta. Meski saat itu masih duduk di bangku SMP kelas 2, ia sudah berpikir untuk menekuni dunia bulu tangkis.

Kegiatan Susi berbeda dengan remaja lainnya karena ia tiinggal di asrama dan bersekolah di sekolah khusus untuk atlet.

Ia mengaku menjadi kuper karena hanya berteman dengan sesame atlet. Maklumlah, sebagai atlet, jadwal latihannya tergolong sangat padat. Hari Senin sampai Sabtu, latihan dilakukan dari pukul 07.00-11.00, lalu dilanjutkan lagi pukul 15.00-19.00.

Sementara itu, kegiatan seperti makan, tidur, dan lain-lain ada aturannya sendiri. Susi tidak diperbolehkan memakai sepatu dengan hak tinggi agar kkakinya terhindar dari kemungkinan keseleo. Jalan-jalan ke mall pun hanya bias dilakukannya pada hari Minggu. Itu pun jarang karena ia sudah terlalu lelah latihan.

Bagi Susi Susanti, tidak ada pilihan lain selain harus selalu disiplin dan berkonsentrasi untuk menjadi juara. Ia menyadari bahwa unttuk meraih prestasi, memang dibutuhkan perjuangan dan pengorbanan. Kini, Susi Susanti sudah merasakan buah keisiplinannya berkat menjadi atlet.

(Sumber: www. Tokoh Indonesia.coom.)

Pelatihan 1

Bacalah kutipan buku biografi di atas! Kerjakan soal-sola di bawah ini!

  1. Iisilah tabel biodata dari tokoh yang buku biografinya kalian baca!
Nalma  Lengkap  
Tempat tanggal lahir  
Pekerjaan  
Status  
Alamat tempat kerja  
Nama suami/istri  
Nama ayah  
Jumlah saudara  
Nama ibu  
Riwayat Pendidikan  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. 2.      Catatlah hal-hal  yang perlu diteladani dari tokoh tersebut!
No Hal-hal yang patut diteladani Contoh kalimat (kalimat yang memuat keteladanan)
1

 

   
2

 

   
3

 

   
4

 

   

 

 

 

 

  1. 3.      Catatlah hal-hal yang Anda sukai dari tokoh tersebut!
No Hal-hal yang Anda sukai dari tokoh Contoh kalimat
1

 

   
2

 

 

 

 

 
3

 

 

 

 

 

 

 

C.  IDENTIFIKASI NOVEL INDONESIA DAN HIKAYAT

Setelah kegiatan ini diharapkan siswa dapat: (1) mengidentifikasi unsur intrinsik dan ekstrinsik hikayat, novel Indonesia dan novel terjemahan sebagai bentuk karya sastra; (2) menjelaskan unsur intrinsik dan ekstrinsik hikayat, novel Indonesia dan novel terjemahan; (3) membandingkan unsur intrinsik  dan ekstrinsik hikayat, novel Indonesia dan novel  terjemahan

 

Bandingkanlah unsur intrinsik novel dan hikayat di bawah ini!

Bacalah kutipan novel Ayat-Ayat Cinta di bawah ini!

1. Gadis Mesir Itu Bernama Maria

Tengah hari ini, kota Cairo seakan membara. Matahari berpijar di tengah petala langit. Seumpama lidah api yang menjulur dan menjilat-jilat bumi. Tanah dan pasir menguapkan bau neraka. Hembusan angin sahara disertai debu yang bergulung-gulung menambah panas udara semakin tinggi dari detik ke detik. Penduduknya, banyak yang berlindung dalam flat yang ada dalam apartemen-apartemen berbentuk kubus dengan pintu, jendela dan tirai tertutup rapat.

Memang, istirahat di dalam flat sambil menghidupkan pendingin ruangan jauh lebih nyaman daripada berjalan ke luar rumah, meski sekadar untuk shalat berjamaah di masjid. Panggilan azan zhuhur dari ribuan menara yang bertebaran di seantero kota hanya mampu menggugah dan menggerakkan hati mereka yang benar-benar tebal imannya. Mereka yang memiliki tekad beribadah sesempurna mungkin dalam segala musim dan cuaca, seperti karang yang tegak berdiri dalam deburan ombak, terpaan badai, dan sengatan matahari.

Ia tetap teguh  berdiri seperti yang dititahkan Tuhan sambil bertasbih tak kenal kesah. Atau, seperti matahari yang telah jutaan tahun membakar tubuhnya untuk memberikan penerangan ke bumi dan seantero mayapada. Ia tiada pernah mengeluh, tiada pernah mengerang sedetik pun menjalankan titah Tuhan.

Awal-awal Agustus memang puncak musim panas.

Dalam kondisi sangat tidak nyaman seperti ini, aku sendiri sebenarnya sangat malas keluar. Ramalan cuaca mengumumkan: empat puluh satu derajat celcius! Apa tidak gila!? Mahasiswa Asia Tenggara yang tidak tahan panas, biasanya sudah mimisan, hidungnya mengeluarkan darah. Teman satu flat yang langganan mimisan di puncak musim panas adalah Saiful. Tiga hari ini, memasuki pukul sebelas siang sampai pukul tujuh petang, darah selalu merembes dari hidungnya. Padahal ia tidak keluar flat sama sekali. Ia hanya diam di dalam kamarnya sambil terus menyalakan kipas angin. Sesekali ia kungkum, mendinginkan badan di kamar mandi.

Dengan tekad bulat, setelah mengusir segala rasa aras-arasenaku bersiap untuk keluar. Tepat pukul dua siang aku harus sudah berada di Masjid Abu Bakar Ash-Shidiq yang terletak di Shubra El-Khaima, ujung utara Cairo, untuk talaqqipada Syaikh Utsman Abdul Fattah. Pada ulama besar ini aku belajar qiraah sab’ahdan ushul tafsir. Beliau adalah murid Syaikh Mahmoud Khushari, ulama legendaris yang mendapat julukan Syaikhul Maqari’ Wal Huffadh Fi Mashr atau Guru Besarnya Para Pembaca dan Penghafal Al-Qur’an di Mesir. …

Ayatollah Khomeini benar, Amerika itu setan! Setan harus dienyahkan!” katanya berapi-api. Orang Mesir memang suka bicara. Kalau

Sudah bicara ia merasa paling benar sendiri. Aku diam saja. Kubiarkan Ashraf berbicara sepuas-puasnya. Hanya sesekali, pada saat yang tepat aku menyela. Sesekali aku menyapukan pandangan melihat keadaan sekeliling. Juga ke luar jendela agar tahu metro sudah melaju sampai di mana. Sekilas ujung mataku menangkap perempuan bercadar biru mengeluarkan mushaf dari tasnya, dan membacanya dengan tanpa suara. Atau mungkin dengan suara tapi sangat lirih sehingga aku tidak mendengarnya. Orang-orang membaca Al-Qur’an di metro, di bis, di stasiun dan di terminal adalah pemandangan yang tidak aneh di Cairo. Apalagi jika bulan puasa tiba.

 

Metro sampai di Maadi, kawasan elite di Cairo setelah Heliopolis, Dokki, El-Zamalek dan Mohandesen. Sebagian orang malah mengatakan Maadi adalah kawasan paling elite. Lebih elite dari Heliopolis. Tidak terlalu penting membandingkan satu sama lain. Nama-nama itu semuanya nama kawasan elite. Masing-masing punya kelebihan. Dokki terkenal sebagai tempatnya para diplomat tinggal. Mohandesen tempatnya para pengusaha dan selebritis. Sedangkan Maadi mungkin adalah kawasan yang paling teratur tata kotanya. Dirancang oleh kolonial Inggris. Jalan-jalannya lebar. Setiap rumah ada tamannya. Dan dekat sungai Nil. Tinggal di Maadi memiliki prestise sangat tinggi.

Prestise-nya seumpama tinggal di Paris dibandingkan dengan tinggal di kota-kota besar lainnya di Eropa. Itu keterangan yang aku dapat dari Tuan Boutros, ayahnya Maria yang bekerja di sebuah bank swasta di Maadi. Masalah prestise memang sangat subjektif. Orang yang tinggal di kawasan agak kumuh Sayyeda Zaenab merasa lebih prestise dibandingkan dengan tinggal di kawasan lain di Cairo. Alasan mereka karena dekat dengan makam Sayyeda Zaenab, cucu Baginda Nabi Saw. Demikian juga yang tinggal di dekat masjid Amru bin Ash. Mereka merasa lebih beruntung dan selalu bangga bisa tinggal di dekat masjid pertama yang didirikan di benua Afrika itu.

Begitu pintu metro terbuka, beberapa penumpang turun. Lalu beberapa orang naik-masuk. Mataku menangkap ada tiga orang bule masuk. Yang seorang nenek-nenek. Ia memakai kaos dan celana pendek sampai lutut. Wajahnya tampak pucat. Mungkin karena kepanasan. Ia diiringi seorang pemuda dan seorang perempuan muda. Mungkin anaknya atau cucunya. Keduanya memakai ransel. Pemuda bule itu memakai topi berbendera Amerika dan berkaca mata hitam. Ia juga hanya berkaos sport putih dan celana pendek sampai lutut. Yang perempuan memakai kaos ketat tanpa lengan, you can see. Dan bercelana pendek ketat. Semua bagian tubuhnya menonjol. Lekak-lekuknya jelas. Bagian pusarnya kelihatan. Ia seperti tidak berpakaian. Mereka berdua mengitarkan pandangan. Mencari tempat duduk. Sayang, tak ada yang kosong. Beberapa orang justru berdiri termasuk diriku.

Aku tersenyum pada Ashraf sambil berkata,

“Ashraf kau mau titip pesan pada Presiden Amerika nggak?”

“Apa maksudmu?”

“Itu, mumpung ada orang Amerika. Minggu depan mereka mungkin sudah kembali ke Amerika. Kau bisa titip pesan pada mereka agar presiden mereka tidak bertindak bodoh seperti yang kau katakan tadi.”

Ashraf menoleh ke kanan dan memandang tiga bule itu dengan raut tidak senang. Tiba-tiba ia berteriak,

Ya Amrikaniyyun, la’natullah ‘alaikum!”

Kontan para penumpang yang mendengar perkataan Ashraf itu melongok ke arah tiga bule yang baru masuk itu. Gerakan persis anak-anak ayam yang kaget atas kedatangan musang di kandangnya. Kusisir wajah orang-orang Mesir. Raut-raut kurang simpati dan tidak senang. Apalagi pakaian perempuan muda Amerika itu bisa dikatakan tidak sopan. Orang-orang Mesir memang menganggap Amerika sebagai biang kerusakan di Timur Tengah. Orang-orang Mesir sangat marah pada Amerika yang mencoba mengadu domba umat Islam dengan umat Kristen Koptik. Amerika pernah menuduh pemerintah Mesir dan kaum muslimin berlaku semena-mena pada umat Koptik. Tentu saja tuduhan itu membuat gerah seluruh penduduk Mesir. Bapa Shnouda, pemimpin tertinggi dan kharismatik umat Kristen Koptik serta merta memberikan keterangan pers bahwa tuduhan Amerika dusta belaka. Sebuah tuduhan yang bertujuan hendak menghancurkan sendi-sendi persaudaraan umat Islam dan umat Koptik yang telah kuat mengakar berabad-abad lamanya di bumi Kinanah.

Ayat-Ayat Cinta oleh habiburrahman El Shirazy

Sekarang, bacalah Hikayat Johar Manikam Dilarikan Zenggi di bawah ini!

Johar Manikam Dilarikan Zenggi

Johar Manikam hendak mengunjungi ayah-bundanya di Baghdad. Akkan tetapi, di tengah jalan, Perdana Menteri yang mengiringkan dia berkhianat sehingga putri itu melarikan dirinya. Seorang saudagar membawa dia ke rumahnya.

Syah Johan, suami Johar Manikam, menyuruh hambanya, Ishak, mencari putri itu.

Sebermula diceritakan oleh yang empunya cerita inii, setelah beberapa lamanya Ishak mencahari Putri Johar

Manikam itu, ia pun sampailah ke kampung saudagar tempat tuan putri menumpang itu. Maka berjalanlah ia pada jalan raya, melihat-lihat ke sana kemari sehingga sampailah ke rumah saudagar itu.

Adapun pada masa itu, saudagar Putri Johar Manikam kebetulan lagi duduk di hadapan pintu peranginan itu dengan terselubung, sebab sepi. Tiba-tiba, terlihat oleh Ishak akan putri itu; maka diperamat-amatinya hendak diketahuinya salah benar pemandangannya itu.

Maka oleh Ishak diceritakannyalah segala hal-ihwal yang telah terjadi di negeri Damsyik pada waktu ia keluar dari situ. Sekamunya habis dipersembahkannya; dan lagi bahwa Sultan Syah Johan sangat berduka cita, mengenangkan adinda itu. Segala khabar itu pun didengarkan oleh Putri Manikam sambil menangis, air matanya bercucuran. Maka sembah Ishak, “Sekarang, Patik  telah bertemu dengan Tuanku. Silakanlah pulang ke negeri Damsyik dengan segera.” Sabda putri itu, “Jikalau demikian bicaramu, malam sekarang, datanglah engkau kemari. Kita berjalan malam-malam.” Sembah Ishak, “Mana-mana perintah, Patik junjung, Tuanku.” Maka Putri Johar Manikam pun npergilah mendapatkan saudagar itu, hendak bermohon pulang ke negerinya.

Hatta, terkenanglah putri itu akan kebaikan saudagar itu, dengan berlinang-linang air matanya, sambil mengatakan terima kasih. Maka hari pun petanglah. Maka datanglah Ishak dengan kudanya. Setelah malam, bersedialah ia akan berangkat. Maka dinantinya lambat Putri Johar Manikam datang sebab berkata-kata dengan saudagar. Maka Ishak pun mengantuklah matanya, lalu tertidur. Seketika lagi hujan rintik-rintik pun turun, serta gelap-gulita sehingga suatu pun tiada yang kelihatan lagi. Maka putri itu, sebab sudah  hendak berangkat, turunlah ia dari atas rumah saudagar, mencahari Ishak yang lagi tidur dengan nyadarnya itu. Maka bertemulah putri itu dengan kuda Ishak tertambat pada tiang rumah. Lalu, naik putri ke atas kuda itu sambil berseru-seru memanggil Ishak, tetapi serunya itu tiadalah kedengaran kepada Ishak sebab sangat nyenyaknya ia tidur.

Syahdan, dengan takdir Allah Ta’ala, datanglah seorang zenggi pencuri, lalu bertemu dengan seekor kuda. Maka segera diurainya tali kuda itu, lalu dibawanya berjalan pulang ke rumahnya. Adapun Putri Johar manikam tiada tahu bahwa zenggi pencuri itu yang membawa dia, melainkan disangkanya Ishak juga yang menuntun  kuda itu.

Hatta, hujan pun makin lama makin lebar turunnya serta dengan ribut. Maka Putri Johar Manikam duduklah berselimut di atas kuda itu, berdiam sepanjang jalan. Beberapa lamanya berjalan itu, sampailah mereka itu ke atas sebuah bukit, tempat kediaman zenggi itu….

Pelatiham 1

Nilai

Aspek yang Dinilai

Novel Ayat-Ayat Cinta

Hikayat Johar manikam Dilarikan Zenggi

Sosial

 

  1. Interaksi antartokoh
  2. Kedudukan tokoh dalam kelas masyarakat
  3. Dominasi kaum lelaki
  4. Pandangan kaum lelaki terhadap perempuan
a. ————————————————-

b. ————————————————-

c. ————————————————

d.————————————————–

a. ———————————————–

b. ———————————————–

c. ———————————————–

d.————————————————

Budaya
  1. Nama-nama tokoh
  2. Nama-nama tempat
  3. Sikap dan pandangan hidup tokoh
a. ————————————————-

b. ————————————————-

c. ————————————————-

 

a. ———————————————–

b. ———————————————–

c. ———————————————–

Pelatihan 2

  Unsur Intrinsik Kalimat Pendukung
1. Perwatakan: 1. Asraf:

———————————————–

2. Johar Manikam: ———————————————————————–

1. —————————————————————————————————————————————————————

2. ———————————————————————————————————————————————————————————————————————–

2. Pilihan Kata-kata 1. Hikayat Johar Manikam …

 

 

 

2. Novel Ayat-Ayat Cinta

 

 

 

 

1. ——————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————–

2. ——————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————–

3. tema 1. Hikayat Johar Manikam …

 

2. Novel Ayat-Ayat Cinta

 

1. ——————————————————————————————————————————————————————2——————————————————————————————————————————————————————-
4. setting 1. Hikayat Johar Manikam …

 

2. Novel Ayat-Ayat Cinta

1. ——————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————–

————————————————–

2. ——————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————–

5. Pusat pengisahan 1. Hikayat Johar Manikam …

 

2. Novel Ayat-Ayat Cinta

1. ——————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————–

————————————————–

2. ————————————————————————————————————————————————————————————————————————-

Tema 4

Tumbuhkan jiwa patriotisme

A.  MENULIS LATAR DRAMA BERDASARKAN PENGALAMAN

Setelah kegiatan ini diharapkan siswa dapat: (1) mendaftar pengalaman sendri yang menarik; (2) menarasikan pengalaman sendiri dalam bentuk adegan drama; (3) menghadirkan latar yang mendukung adegan

Bagian ini berisi teknik penulisan drama, yaitu (1) menciptakan setting/latar, (2) melakukan eksplorasi (pengamatan dan pencatatan), (3) menulis latar, (4) menciptakan tokoh, (5) mendeskripsikan tokoh, (6) meletakkan tokoh dalam latar, (7) menciptakan tokoh berbicara, (8) penempatan semua elemen-elemen bersama-sama menjadi scenario dasar, (9

) membuat scenario.

  1. Menciptakan Setting/latar

Setting dipaparkan oleh penulis naskah drama berdasarkan pengamatan. Pengamatan ini berikutnya dideskripsikan menurut keadaan yang sesungguhnya. Semakin terinci pengamatan yang dilakukan semakin jelas pula setting yang dipaparkan dalam sebuah naskah drama . Setting dalam naskah drama ini akan ditindaklanjuti oleh penata panggung. Berikut contoh setting.

Sebuah studio yang gelap di suatu apartemen. Di situ tergeletak sebuah ranjang usang. Di sebelahnya berdiri sebuah kursi. Tak ada perabot rumah tangga lain. Di dalam ruangan kecil di sebuah kamar  ada bak cuci, dua bongkok papan kayu baker. Di sebelahnya ada pemantik api. Di ruang tengah ada lemari esnyang sudah berkarat.Adasebuah lemari pajangan kecil. Hanya ada sebuah jendela di apartemen itu. Korden baru tetapi harganya murah, tergantung di jendela itu. Sebuah jembatan darurat yang bisa dilipat, tertutup, dan terkunci. Apartemen itu mempunyai tiga pintu, satu pintu ke kamar mandi, satu untuk ke wc, dan satunya untuk keluar.

  1. Eksplorasi

Eksplorasi artinya menjelajahi tempat-tempat yang kemungkinan besar dikehendaki untuk dijadikan setting. Yang harus diperhatikan pada saat melakukan eksplorasi ini adalah latar fiscal, Anda saringkegiatan setiap orang denagn segala aktivitasnya. Anda pergunakan  dan Anda kembangkan kepekaan (respon) panca inderaAnda semaksimal mungkin dengan tujuan mencatat sebanyak mungkindetail tempat tersebut,

  1. Setting/latar

Anda mengobservasi sebuah lingkungan baik yang sekarang Anda amati maupun lingkungan masa lampau yang Anda ingat-ingat. Kemudian Anda susun daftar respon (tanggapan) panca inedera Anda terhadap detil-detil lingkungan tersebut. Dari daftar tersebut tulislah deskripsi pendek, tetapi tajam, hidup, dan segar mengenai suatu lingkungan tertentu.

  1. Menciptakan Tokoh

Deskripsi tokoh dalam drama biasanya ditulis seperti deskripsi latar, misalnya sebagai berikut:

ROIMA, suami JULINI. Punggungnya bungkuk akibat waktu kecil jatuh dari atas pohon. Ia berusia 43 tahun, berpandangan kuat, blak-blakan. Ia berusaha semampu mungkin untuk selalu berpandangan optimistic, tetapi selalu menganggap remeh orang malas.

  1. Tokoh-Tokoh Anda Berbicara: Monolog

Halaman Anda berusaha menemukan dua orang tokoh yang saling berhubungan secara antagonistic. Tokoh-tokoh tersebut Anda ambil dari inventarisasi dalam latihan menciptakan tokoh. Anda tulis tokoh berdurasi tiga menit untuk masing-masing tokoh (1 halaman dengan 1 spasi ketik). Setelah dua monolog itu Anda tulis lengkap Anda mengcasting (memilih peran) di antara kedua teman anggota kelompok Anda, teman yang lain mendengarkan monolog.

  1. Penempatan semua elemen menjadi scenario drama

Untuk menulis scenario lakukan langkah-langkah berikut.

  • Tulislah scenario dasar;
  • Lanjutkan dengan menulis serangkaian adegan dalam draf;
  • Tulis kembali draf pertama (menyusun adegan);
  • Bacalah secara berulang-ulang!

Jika Anda merasa kurang puas dengan hasil yang telah Anda tulis, maka tidak ada cara lain kecuali menulis adegan-adegan itu berisi konflik-konflik yang kuat dan jelas. Dalam menuulis adegan Anda perlu memeriksa kembali urutan/waktu dengan acuan latar masa lampau yang Anda pungut dari tahapan latihan menciptakan latar. Yang perlu senantiasa diperhatikan adalah menjaga keseimbangan konflik yang terjadi di antara mereka.

Pelatihan 1

  1. Daftarlah pengalaman hidup Anda yang paling menarik (3 sampai 5 peristiwa)!
  2. Ingat-ingatlah kembali latar atau tempat/waktu/suasana saat kejadian-kejadian/peristiwa tersebut Anda alami! Kemudian tuliskanlah deskripsi latarnya (3 peristiwa!

B.  MENULIS NASKAH DRAMA

Setelah kegiatan pembelajaran ini diharapkan siswa dapat: (1) menulis teks drama dengan menggunakan bahasa yang sesuai untuk; (2) mendeskripsikan perilaku manusia melalui dialog; (3) menghidupkan konflik; (4) memunculkan penampilan (performance)

Buatlah cerpen di bawah ini menjadi sebuah naskah drama! (Satu kelompoklimaorang)

SATU PERSAHABATAN DALAM HIDUPKU

Oleh: Nhunu

Aku sedang berjalan kearah luar gang rumahku menuju sekolah. Tetapi sebelum aku berangkat sekolah, aku harus menunggu Dina yang sedang menuju kearah depan gangku. Kulihat kedepansanatetapi tidak seorangpun tampak, ketika aku sedang menunggu Dina, aku

melihat dua orang teman sekelasku berjalan kearahku. Ya… itu Lila dan Uswah. “ Hey Nad… kamu kaq belum berangkat sekolah seh?!!

“ Tanya Lila kepadaku.“ owh iya neh aku sedang menunggu Dina. “ Jawabku.“ ohh kamu sedang menunggu Dina, tapi Nad 10 menit lagi sekolah masuk tau!! Kamu ga takut telat??? “ Tanya Uswah kepadaku.“ ya udah kalau geto kita berangkat sekolah bareng ya?!! “ pintaku kepada Lila dan Uswah.          Merekapun mengiyakan ajakanku dan segera melangkahkan kaki untuk menaiki angkutan umum yang akan mengantarkan kami kesekolah.

**** “

NADIAAA…!!! “ teriak Dina sambil melangkahkan kaki dengan cepat kearahku.“ Eh… Dina?!! ““ Eh… Dina, Eh… Dina lagi, kamu koq ninggalin aku seh Nad??? Tadi tuh aku kerumahmu tapi kata kakakmu, kamu baru aja berangkat!!! ““ Mmm…Sorry deh, abis kamu lama seh “.“ iiihh…kanudah aku bilang tunggu sampai aku datang?!! ““ iya…iya…sorry, udah donk jangan marah marah terus, kaya nenek – nenek aja!!! “.“ enak aja! Kamu tuh yang kaya nenek – nenek!!! “ jawab Dina dengan tampang kesalnya.           Melihat Dina mau marah-marah lagi, akupun berlari meninggalkan Dina menuju kelas dan duduk ditempatku, Dinapun berteriak – teriak sambil berlari-lari kecil kearahku dan melanjutkan ocehan – ocehan yang tadi tertunda.           Aku dan Dina bersahabat sejak duduk disekolah menengah pertama kelas 1 hingga duduk disekolah menengah kejuruan kelas 2. Orang tuaku sangat akrab dengan Dina, begitupun sebaliknya. Sudah seperti saudaraku sendiri.

****“

Lila… Uswah… “ panggilku. “ ya Nad, ada apa?!! “ jawab Lila.“ nanti pulang bareng ya!!! “. “ oh itu, liat nanti aja ya!!! “ jawab Lila.“ oce dehh, Mmm… tapi besok berangkat bareng lagi ya??? Aku tunggu kalian berdua di tempat tadi, oce?!! “. “ oceee…!!! “ jawab mereka berdua dengan kompak.           Semenjak kami sering pulang dan berangkat sekolah bersama, kami menjadi semakin akrab. Tidak hanya pulang dan berangkat sekolah saja kami bersama tetapi kemanapun dan acarapun kami selalu terlihat bersama. Dan sejak saat itulah satu persahabatan dalam hidupku tersulam kembali.

****“

koq Lila, Dina dan Uswah agak beda ya?? Apa mereka sedang ngerjain aku ya?!! “ aku duduk termenung dikelas yang masih kosong.   “ Mmm… mungkin hanya perasaan aku saja kale ya?!! “ ujarku dalam hati.           Aku merasa beberapa hari ini Lila, Dina dan Uswah agak cuek kepadaku. Mungkin karena sebentar lagi hari ulang tahunku. Padahal aku merasa karena mereka cuek kepadaku. “ Eh Nad… bengong aja kamu!!! “ ujar Uswah membuyarkan lamunanku.   “ ah nggak koq!!! ““ oya Nad, besokhari minggu teman – teman sekelas ngajakinkita lari pagi bareng. Kamu ikutkan? “ Tanya Dina.  “ gat au deh, lihat besok aja ya?!! MALEEZZ tau, masa liburan gene masih keluar juga…! Acara kelas lagee!!! ““ Nad pokoknya kamu harus ikut, kalau ga ikut dapet hukuman loh. “ Ujar Lila menakutiku.  “ Memangnya anak SD… masih ada hukuman, udah pokoknya lihat bezok aja deh, ya.. ya..!!!

“.“ YOII !!! “ jawab Uswah dengan singkat.           Aku sudah menduga pazti mereka merencanakan sesuatu untukku esok hari. Aku merasa sangat penasaran dan agak sedikit takut.  “ Aduh aku dating nggak ya besok??? Pasti mereka belez dendam deh ke aku karena kemarin yang nerjain mereka adalah aku!!! “ ucapku dalam hati.“ udah deh lihat besok aja…! Kalau aku dijemput ya aku pergi, tapi kalau aku ga dijemput ya aku nggak pergi!!! “ kataku dalam hati lagi dengan memejamkan mata untuk tidur walaupun dengan sedikit perasaan gelisah.

Tik…Tok…Tik…Tok…, tepat jam 12 malam tiba – tiba aku terbangun karena mendengar suara telepon berdering. Akupun dengan segera mengangkatnya. “ Hallo… “ sapaku.Tak ada jawaban dari seberang.“ Hallooo… “ aku menyapa sekali lagi.Masih tidak ada jawaban jawaban juga.  “ HAPPY BIRTHDAY TO U HAPPY BIRTHDAY TO U HAPPY BIRTHDAY HAPPY BIRTHDAY, HAPPY BIRTHDAY NADIA…!!! Terdengar nyanyian dari seseorang di seberangsana.“thanks ya!!! “ aku terharu.“ Met ultah Nadia! Ketujuh belas ya? Semoga kamu tambah dewasa, tambah cantik dan tambah gokil!!! “ ujar Isti.“ Paztee..!! ““ Nad sorry neh aku ga bias telepon kamu lama – lama soalnya aku ngantuk! Kamu met tidur ya Nad, sorry ganggu, bye Nadia…!!! ““ Bye!!! “           Isti adalah kakak kelas disekolahku. Dia sangat baik kepadaku tetapi sejak ia lulus aku jarang sekali bertemu dengan sia mungkin bias dibilang tidak pernah lagi. Ya… mungkin dia sibuk dengan kegiatan barunya.

****“

iiihh.. Alarm berisik banged seh!!!Kanmasih ngantuk?!! “ gerutuku.          Akupun segera bangun dan beranjak merapikan diri. Walaupun berat dan malas sekali rasanya tetapi pagi ini aku harus pergi karena sudah mempunyai janji untuk lari pagi bersama teman sekelasku. Walaupun aku tahu kalu hari ini mereka sudah mempunyai rencana untuk mengerjaiku. “ Assalamu’alaikum…!!! ““ Wa’alaikumsalam… “ jawabku sambil membukakan pintu.“ Hey Nad?!! ““ Hey! ““ Gimana udah siap belum? Teman – teman udah nunggu kamu tuh!! ““ Iya.. Iya.. sabar donk!!! “ kataku sambil melangkahkan kakiku kearah timur.           Ternyata teman – teman sekelasku tidak dating semua pagi ini dan ternyata dugaanku tentang semua itu salah, merekatidak mengerjaiku. Aku merasa sangat senang. “ Upss.. tapi tunggu sebentar, sebuah telur mendarat dengan tepat diatas kepalaku!!! “. Akupun berteriak dan mengejar-ngejar Uswah dan teman yang lainnya. Merekapun semua berlari menjauhiku.

****

” Assalamua’laikum…!!! Uswah… Uswah… “ Ucapkku setelah sampai didepan pintu rumahnya.“ Wa’alaikumsalam… ohh… Nadia, ayo masuk dulu Nad!!! “.          Uswah mempersilahkan aku masuk kedalam rumahnya. “ Tunggu sebentar ya nad, aku mau siap – siap dulu, nanti bila Lila dan Dina datang kita bias langsung berangkat kesekolah..! ““ iya.., tapi jangan pake lama, nanti aku jamuran lagi?!! “ jawabku sambil tersenyum kecil.

Tidak lama setelah Uswah berseragam sekolah rapi, Lila dan Dinapun datang. Aku dan Uswah segera keluar rumah dan memakai sepatu dengan cepat. “ yoo.. kita berangkat “ ucap Uswah setelah kami berpamitan dengan orang tuanya. Lalu kami bertiga menganggukan kepala dengan serempak sambil tertawa.

Diperjalanan menuju sekolah, seperti biasa kami berempat bercerita dan bercanda tanpa merasakan teriknya matahari yang menyengat tubuh, karena kami terlalu asyik dengan candaan konyol Uswah yang membuat perut kami terasa sakit. Alangkah senangnya kami setiap hari seperti ini, selalu bersama – sama.           Ketika angkutan umum yang kami tumpangi sudah mengantarkan sampai tujuan dan pergi berlalu. Tiba – tiba Lila berbicara dengan kerasnya dan membuat aku, Dina dan Uswah kaget.    “ HEYY!!! Udah jam12.30 loh!!! “ Lila berusaha memberi tahu bahwa kami sudah terlambat masuk sekolah. Kami berlari – lari saling mendahului, sambil tertawa dan berbicara, “ tungguin donk, jangan cepet – cepet?!! “. Huh… lelahnya kami setelah berlari-larian. Kami berjalan perlahan menuju kelas dan sampailah didepan pintu kelas, lalu mengetuk pintu dan membuka dengan mengucapkan salam, lalu mencium tangan guru yang memang sudah duduk lebih awal sebelum kami datang.

Kami mengawali hari dengan terlambat masuk sekolah yang memang bias di bilang ritinitas kami setiap harinya. Dan sekarang waktunya kami memandangi papan tulis yang penuh dengan huruf dan berbaris membuat shaf dan banjar. 1 jam, 2 jam, 3 jam, begitu bosannya kami belajar, hingga akhirnya bel istirahatpun berbunyi.     “ Akhirnya istirahat juga…!!! “. Kataku dalam hati.“ Nad, La, Din keluar yoo, Laperr nehh!!! “ ajak Uswah.           Kamipun berdiri lalu berjalan keluar kelas menuju tempat yang bisa menghilangkan rasa lapar dan haus. “ Makan… Makan…!!! Kita mau makan apa neh??? “ Tanya Uswah dengan bawelnya dan ketidak sabaran dia menunggu jawaban kami.“ Terserah deh “ ucap Dina dengan singkatnya.           Tanpa menunggu jawaban dari aku dan Lila, Uswah pun mengambil bakwan dan memasukkannya kedalam mulut, lalu dilanjutkan Lila, aku dan Dina. Setelah selesai makan, kamipun beranjak menuju masjid untuk melaksanakan shalat ashar.

Waktu istirahatpun berakhir. Kami berempat memasuki kelas yang memang sudah ramai dengan teman – teman sekelas kami. Melanjutkan pelajaran yang tertunda. Iseng – iseng saat guru menjelaskan, aku menjaili Uswah dengan mengikat ujung jilbabnya. Teman – teman yang berada dibelakangku  tertawa – tawa dan berkata “ Dasar Jail?!! “. Aku hanya senyum – senyum kecil saja karena takut Uswah menyadarinya.           Bel pulang berbunyi, waktu kami pulang. Menaiki angkutan umum bersama, lalu berpisah ditengah perjalanan. “ aku duluan ya…!, Bye…bye….!!! “ ucapku sambil melambaikan tangan kepada Lila, Dina dan Uswah.

Selama ini kami selalu bersama, baik susah maupun senang kami lewati bersama dan kami bersahabat cukup lamanya. Tetapi kenapa sudah beberapa hari ini, aku merasa persahabatan kami agak merenggang. Aku bersama dengan Lila sedangkan Uswah bersama dengan Dina. Aku merasa ada pembatas antara kami. Kepercayaan sedikit hilang. Banyak hal yang aku dan Lila sembunyikan ataupun sebaliknya Uswah dan Dina. Aku merasa cukup kehilangan dan sedih. “Adaapa dengan persahabatan kami saat ini?? “ tanyaku dalam hati.“ apa penyebab ini semua, apakah bisa kami seperti dulu lagi, bercanda tawa dengan lepasnya tanpa adanya pembatas antara kami? “ sekali lagi aku bertanya pada diriku, tetapi sampai saat ini aku belum mendapatkan jawabannya.

Kupandangi foto dalam bingkai, foto kami berempat. Aku, Lila, Dina dan Uswah. Sungguh satu persahabatan dalam hidupku yang begitu indah dan mengasyikan. Satu hal yang kusesali saat ini, “ mengapa aku harus egois dan diam saat melihat persahabatan ini hancur??! “ sesalku dalam hati.           Perjalanan hidup memang panjang. Membawa pertemuan dan perpisahan. Hari ini aku bertemu, besok aku berpisah. Namun seiring waktu berjalan kita tetap harus menjalani hidup ini dan memikirkan tujuan masa depan kita. Walaupun persahabatan ini bukan yang pertama bagiku, tetapi satu persahabatan inilah yang dapat membuat hari – hari dalam hidupku menjadi lebih bermakna.

 
UJI  KOMPETENSI

I. Berilah tanda silang (X) pada huruf a, b, c, d, atau e sebagai jawaban yang benar!

Bacalah paragraph berikut dengan seksama!

1. Pernyataan umum dalam paragraph tersebut terdapat dalam kkalimat nomor ….

a. 1               b. 2                  c. 3                  d. 4                  e. 5

2. Dilihat dari letak kalimat utamanya, paragraph di atas dinamakan ….

  1. Paragraph deduktif
  2. Paragraph induktif
  3. Paragraph naratif
  4. Paragraph deskriptif
  5. Paragraph repetitive

3.

Isi pokok paragraph di atas adalah ….

  1. Filsafat wayang yang sarat dengan pesan-pesan moral dirusak dengan selingan hiburan
  2. Acara hiburan ini berlangsung sampai berjam-jam dan sesudah itu penonton banyak yang meninggalkan arena pertunjukan.
  3. Sisa waktu yang tinggal sedikit tidak cukup untuk membentangkan jalannya cerita sesuai dengan lakon yang dipergelarkan.
  4. Pertunjukkan wayang kehilangan intisarinya sebagai tuntunan hidup dan tinggal sebagai tontonan yang kurang berbobot.
  5. Penonton lebih tertarik dengan penampilan para pelawak dan penyanyi dangdut yang disisipkan dalam adegan-adegan Limbuk-Cangik dan Goro-Goro.

4. Dari paragraf di atas, apa sebenarnya yang diinginkan penulis?

  1. Tidak masalah wayang sebagai sarana hiburan.
  2. Tampilnya pelawak dan penyanyi dangdut merupakan tuntutan.
  3.  Wayang memang harus mengikuti selera penonton.
  4. Wayang harus tetap menjadi tuntunan hidup
  5. Wayang sekarang menjadi tontonan yang tidak berbobot

5. Bacalah dengan seksama!

Topik yang dibicarakan dalam teks tersebut adalah ….

  1. Keunikan pinisi
  2. Pembuatan pinisi
  3. Perbedaan pinisi dengan kapal modern
  4. Keahlian membuat pinisi
  5. Kehebatan pinisi

6.  Bacalah paragraph berikut dengan saksama!

  1. Bagaimanapun juga, limbah apapun berbahaya bagi lingkungan.
  2. Oleh karena itu, pencemaran di laut harus segera dihentikan.
  3. Meskipun demikian, dampaknya terhadap kestabilan di laut cukup besar.
  4. Aneh memang, limbah dari perumahan dapat mematikan kehidupan di laut
  5. Akan tetapi, limbah itu mengandung racun dengan kadar tinggi.

7. Hal-hal yang termasuk dalam tahap persiapan penulisan karya ilmiah secara tertib adalah ….

  1. Penentuan topic, pengumpulan data, penulisan kerangka
  2. Penentuan topic, penulisan kerangka, pengumpulan data.
  3. Pengumpulan data, penentuan topic, penulisan kerangka.
  4. Pengumpulan data, penulisan kerangka, penentuan topic.
  5. penulisan kerangka, penentuan topic, pengumpulan data.

8. Penulisan kerangkaTahap-tahap penulisan makalah secara urut adalah ….

  1. Persiapan, pengumpulan data, penyuntingan, penulisan.
  2. Pengumpulan data, persiapan, penulisan, penyuntingan.
  3. Persiapan, pengumpulan data, penulisan, penyuntingan.
  4. Pengumpulan data, persiapan, penulisan, penyuntingan.
  5. Persiapan, penyuntingan, pengumpulan data, penulisan.

9. Hal-hal yang termasuk dalam bagian pendahuluan karya ilmiah adalah ….

  1. Latar belakang, rumusan maslah, tujuan penelitian
  2. Latar belakang, tujuan penulisan, rumusan masalah.
  3. Rumusan masalah, latar belakang, tujuan penulisan.
  4. Rumusan masalah, tujuan penulisan, latar belakang.
  5. Tujuan penulisan, latar belakang, rumusan masalah.

10.

Isi paragraph di atas adalah ….

  1. Kaum wanita zaman dulu mempunyai kebiasaan unik.
  2. Kaum wanita zaman dahulu setiap hari mengunyah daun sirih.
  3. Sirih yang dikunyah dipadu dengan gambir, irisan buah pinang, daun kapur
  4. Menyirih mendatangkan efek hangat.
  5. Menyirih dapat mencegah beragam penyakit mulut dan gigi.

11.  Pendapat yang tepat terhadap pernyataan “mengkonsumsi jamu lebih baik daripada obat” karena di dalam jamu tidak ditemuukan efek samping adalah ….

  1. Pendapat itu masih perlu dibuktikan terlebih dahulu.
  2. Saya mendukung 100% pendapat tersebut.
  3. Itu adalah pendapat yang menguntungkan perusahaan jamu.
  4. Saya sama sekali tidak setuju. Keduanya tetp mempunyai efek samping.
  5. Jamu itu pasti memiliki efek samping.

12. Perhatikan cuplikan drama berikut!

Sesuai cuplikan di atas, karakter Herman adalah ….

  1. Suka menghina
  2. Suka  marah
  3. Suka melucu
  4. Suka bercanda
  5. Suka memuji

13. Karakter Yanti sesuai cuplikan di atas adalah ….

  1. Tidak mudah tersiinggung
  2. Suka bergaul
  3. Suka memuji
  4. Suka marah
  5. Suka melucu

14. Bacalah paragraph berikut dengan saksama!

Kalimat sumbang patagraf di atas terdapat pada kalimat nomor ….

a. (1)                b. (2)                c. (3)                d. (4)                e. (5)

15. Menurut jenisnya, paragraph di atas dinamakan paragraph ….

  1. Deskripsi
  2. Eksposisi
  3. Argumentasi
  4. Narasi
  5. Persuasi

16.  Kalimat utama paragraph di atas terdapat pada kalimat nomor ….

a. (1)                b. (2)                c. (3)                d. (4)                e. (5)

17. Hal-hal yang bukan termasuuk cara agar diskusi dapat berjalan lancer, tertib, menarik, dan sampai pada tujuan adalah ….

  1. Mendukung pendapat dengan alas an, fakta, contoh, atau pendapat pakar.
  2. Mengikuti diskusi dengan baik, walaupun tidak ikut mengambil bagian menyampaikan pendapat.
  3. Berbicara setelah dipersilakan oleh moderator.
  4. Memperhatikan pembicaraan peserta lain.
  5. Mencoba memahami pendapat orang lain.

18. Bacalah paragraph berikut dengan saksama!

Amanat yang tersirat dalam kutipan sastra Melayu klasik terebut adalah ….

  1. Sebaiknya seorang istri bias berperilaku baik jika suami di rumah.
  2. Jangan menaruh dendam kepada siapapun.
  3. Jangan bertengkar antara suami-istri.
  4. Jangan berrprasangka buruk kepada istri sendiri.
  5. Jagalah kehormatan diri ketika suami pergi.

19. Nilai moral yang terkandung dalam kutipan sastra Melayu Klasik tersebut adalah ….

  1. Pertengkaran yang terjadi antara suami istri
  2. Perlunya seorang istri menjaga kehormatan dirinya
  3. Kecurigaan suami terhadap istrinya.
  4. Dendam yang tidak berkesudahan.
  5. Nasihat agar suami tidak terlalu cemburu kepada istrinya.

20.

Pertanyaan yang jawabannya terdapat dalam isi pembicaraan di atas adalah ….

  1. Mengapa Aceh jadi wilayah terbuka?
  2. Mengapa pemerintah mengizinkan pihak luar dating ke Aceh?
  3. Mengapa orang Aceh mau menerima perdamaian?
  4. Mengapa Aceh tidak sejak dulu menjadi wilayah terbuka?
  5. Apakah konflik itu tidak seharusnya diakhiri saja?

21. Tanggapan yang mendukung paragraph di atas adalah ….

  1. Sebenarnya pemerintah belum waktunya membuka wilayah Aceh.
  2. Pemerintah seharusnya membuka wilayah Aceh sedikit demi sedikit, jangan sekaligus.
  3. Keran air yang dibuka secara tiba-tiba tentu saja membahayakan.
  4. Bantuan masyarakat internasional kepada Aceh bersifat politis.
  5. Kebijakan pemerintah membuka wilayah Aceh sangat tepat.

22. pernyataan berikut yang termasuk ke dalam krutik yang baik adalah….

  1. Pendapat anda tentang bagaimana seharusnya sikap pemerintah dalam menangani Aceh, sama sekali tidak masuk akal.
  2. Pendapat Anda tentang bagaimana seharusnya sikap pemerintah dalam menangani Aceh sangat bertentangan dengan budaya Aceh.
  3. Pendapat Anda tentang bagaimana seharusnya sikap pemerintah dalam menangani Aceh harus didukung argumentasi yang dapat diterima semua pihak.
  4. Pendapat Anda tentang bagaimana seharusnya sikap pemerintah dalam menangani Aceh sudah baik. Hanya sebaiknya perlu dukungan argumentasi dan fakta yang kuat.
  5. Pendapat Anda tentang bagaimana seharusnya sikap pemerintah dalam menangani Aceh sangat emosional dan pasti ditolak rakyat Aceh.

23. Kegiatan yang termasuk tugas notulis adalah….

  1. Mencatat jalannya rapat serta hasil-hasil yang dicapai
  2. Mempersilakan peserta apat untuk berpendapat
  3. Menilai pendapat yang bagus dan yang kurang bagus
  4. Mencatat pendapat yang bias diterima
  5. Ikut mendukung pendapat yang masuk akal

24.

Bagian dari notulen di atas dinamakan…

  1. Susunan acara
  2. Jalannya rapat
  3. Identitas rapat
  4. Hasil rapat
  5. Nama rapat

25. Kamu berperan sebagai peserta dalam diskusi dengan topik “Membangun Aceh

Setelah Tsunami.” Pertanyaan yang tidak relevandenan topik tersebut adalah  ….

  1. Apakah partisipasi rakyat Aceh cukup positif terhadap pembangunan di daerahnya?
  2. Apakah pemerintah telah menyediakan dana dan para ahli yang cukup memadai untuk membangun wilayah itu?
  3. Apakah bantuan dunia terhadap pembangunan juga cukup positif?
  4. Apakah pemerintah Daerah Aceh mempunyai peran aktif terhadap pembangunan di Aceh?
  5. Apakah GAM sekarang benar – benar telah bubar?

26.

 

 

 

 

 

 

Bagian resensi di atas termasuk ….

  1. Latar belakang kepengarangan
  2. Ikhtisar cerita
  3. Identitas buku
  4. Keunggulan/kelemahan buku
  5. Kesimpulan

27.

 

 

 

 

 

 

Bagian resensi di atas termasuk ….

  1. Latar belakang kepengarangan
  2. Ikhtisar cerita
  3. Identitas buku
  4. Keunggulan/kelemahan buku
  5. Kesimpulan

28.

Kesimpulan bacaan di atas adalah ….

  1. Pendisiplinan itu mutlak diperluksn
  2. Pendisiplinan itu mustahil akan berhasil
  3. Ketidkdisiplinan menimbulkan erosi disiplin
  4. Erosi disiplin menimbulkan sedimentasi disiplin
  5. Nilai-nilai disiplin dapat diendapkan dalam masyarakat

29.

Kesimpulan dari penggalan prosa di atas adalah ….

  1. Kegiatan mengisi waktu kosong dapat melalaikan tugas utama.
  2. Akibat sopir yang bodoh, terjadi sesal yangd atangnya terlambat.
  3. Kurangnya komunikasi akan menghambat pekerjaan.
  4. Ketelitian sangat diperlukan oleh setiap sopir pribadi.
  5. TTS sarana iseng yang mengasyikkan bagi seorang sopir.

30. Perwatakan tokoh kutipan di atas (n0. 29) adalah …kecuali ….

  1. Ceroboh
  2. Gegabah
  3. Mudah terkejut
  4. Suka melamun
  5. Disiplin

31.

Informasi yang berkaitan dengan latar social budaya dalam penggalan prosa di atas adalah ….

  1. Seorang kusir sado harus cekatan dalam kerjanya.
  2. Penumpang sado boleh berbuat sekehendak hati.
  3. Seorang kusir sado harus menghormati penumpang yang berpakaian rapi.
  4. Hormat kepada seseorang tidak boleh didasarkan pada profesi/pekerjaannya.
  5. Kusir sado merupakan profesi yang tidak pantas untuk dihormati.

32. Bacalah kutipan tajuk rencana berikut ini dengan saksama!

Masalah yang disorot tajuk rencana di atas adalah ….

  1. Luas lautIndonesia
  2. Kekayaan sumber daya lautIndonesia
  3. Sumber daya kelautan yang harus dapat menyejahterakan rakyat
  4. Kemiskiinan yang masih banyak melanda masyarakat pesisir
  5. Kekayaan sumber daya kelautan yang hanya dinikmati sebagian rakyat

33. Simpulan tajuk rencana tersebut adalah ….

  1. Potensi sumber daya kelautanIndonesiasangat besar.
  2. Masih banyak rakyatIndonesiayang hidup di bawah garis kemiskinan
  3. Upaya mengentaskan kemiskinan memerlukan waktu dan kerja keras
  4. Negeri bahari yang kaya raya semestinya harus dapat menyejahterakan rakyat.
  5. Mengatasi kemiskinan sangat sulit.

34. Opini penulis dalam tajuuk rencana tersebut adalah ….

  1. LautanIndonesiaadalah sumber kehidupan.
  2. Koes Plus menyebutnya “kolam susu”.
  3. Negeri ini memang kaya sumber daya kelautan yang seharusnya menyejahterakan
  4. Hingga kini masih tercatat 32% dan 16,42 juta jiwa masyarakat pesisir hidup di bawah garis kemiskinan.
  5. Pengentasan kemiskinan memerlukan waktu, kerja keras karena komplikasi factor structural, cultural, dan natural sekaligus.

35. Untuk karya tulis yang bertema teknik bertanam tumbuhan tertentu, kerangka karya tulis yang baik ialah ….

  1. Pemeliharaan tanaman, pengaturan jarak tanam, pemilihan bibit, pemberantasan hama/penyakit, penanaman hasil.
  2. Pengaturan jarak tanaman; pemilihan bibit, pemberantasan hama/penyakit; pemeliharaan tanaman; pemanenan hasil.
  3. Pemberantasan hama/penyakit, pemeliharaan tanaman; pemilihan bibit; pengaturan jarak tanam; pemanenan hasil.
  4. Pemilihan bibit; pengaturan jarak jarak tanam; pemeliharaan tanaman; pemberantasan hama/penyakit; pemanenan hasil.
  5. Pemilihan bibit; pemeliharaan tanaman; pemberantasan hama/penyakit; pengaturan jarak tanam; pemanenan hasil.

36. Bacalah paragraph di bawahh ini!

Opini dalam paragraph di atas terdapat dalam kalimat nomor …

a. (1) dan (2)    b. (1) dan (3)    c. (1) dan (5)    d. (2) dan (4) e. (3) dan (5)

37. Susunan daftar pustaka menurut system baru adalah ….

  1. Keraf, Gorys, Prof.Dr. Tata Bahasa Indonesia. Nusa Indah: Ende. 1993.
  2. Keraf, Gorys. Tata Bahasa Indonesia. Ende: Nusa Indah. 1993.
  3. Keraf, Gorys. 1993. Tata Bahasa Indonesia. Nusa Indah: Ende.
  4. Keraf, Gorys. 1993. Tata Bahasa Indonesia. Ende: Nusa Indah.
  5. Prof. Dr. Keraf, Gorys. 1993. Tata Bahasa Indonesia. Ende: Nusa Indah.

38.

 

Kata penghubung yang tepat untuk menghubungkan kedua kalimat di atas adalah ….

  1. Jadi
  2. Akan tetapi
  3. Dengan demikian
  4. Oleh karena itu
  5. Kebalikannya

39. Keadaan memang sudah aman, … kita harus tetap waspada.

Kata yang tepat untuk melengkapi kalimat di atas adalah ….

  1. Namun
  2. Akan tetapi
  3. Dengan demikian
  4. Oleh karena itu
  5. Kebalikannya

40.

Bagian resensi di atas termasuk ….

  1. Latar belakang kepengarangan
  2. Ikhtisar cerita
  3. Identitas buku
  4. Keunggulan/kelemahan buku
  5. Kesimpulan

41.

Dalam susunan karya ilmiah dua paragraph di atas termasuk ke dalam ….

  1. Latar belakang
  2. Rumusan permasalahan
  3. Tujuan
  4. Manfaat penelitian
  5. Landasan teoretis

42.

Dua kalimat pertanyaan tersebut, dalam karya ilmiah termasuk dalam ….

  1. Latar belakang
  2. Rumusan permasalahan
  3. Tujuan
  4. Manfaat penelitian
  5. Landasan teoretis

43.

Dalam karya ilmiah paragraph di atas termasuk dalam ….

  1. Latar belakang
  2. Rumusan permasalahan
  3. Tujuan
  4. Manfaat penelitian
  5. Landasan teoretis

44.

Prosedur penelitian di atas di masukkan ke dalam bab …

  1. Pendahuluan
  2. Landasan teoretis
  3. Metode penelitian
  4. Hasil penelitian
  5. Penutup

45.

Bagian penelitian di atas dalam karya ilmiah dimasukkan ke dalam bab …

  1. Pendahuluan
  2. Landasan teoretis
  3. Metode penelitian
  4. Hasil penelitian
  5. Penutup

46. Hal yang tidak termasuk aspek untuk menentukan nilai budaya dalam novel adalah …

  1. Nama-nama tokoh
  2. Nama-nama tempat
  3. Kegemaran tokoh
  4. Tradisi yang dilakukan oleh masyarakat
  5. Sikap dan pandangan hidup para tokoh

47. Hal yang tidak termasuk unsiur intrinsik novel adalah ….

  1. Perwatakan tokoh        b. analisis tokoh            c. Latar tempat  d. Alur  e. tema

48. Cermati paragraph berikut!

Kalimat yang menyatakan akibat dalam paragraph tersebut adalah ….

a. (1)                b. (2)                c. (3)                d (4)                 e. (5)

49. Penulisan daftar pustaka berikut yang benar adalah ….

  1. Gorys Keraf. Diksi dan Gaya Bahasa. Gramedia Pustaka Utama.Jakarta. 1999.
  2. Gorys Keraf. 1999. Diksi dan Gaya Bahasa. Gramedia Pustaka Utama.Jakarta.
  3. Keraf, Gorys. 1999. Diksi dan Gaya Bahasa. Gramedia Pustaka Utama.Jakarta.
  4. Keraf, Gorys. 1999. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
  5. Gorys Keraf. 1999. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

50. Perhatikan saran dalam diskusi di bawah ini!

Kalimat sanggahan yang logis terhadap saran tersebut adalah ….

  1. Saya tidak setuju karena pendapat penyaji terlalu teoretis.
  2. Saya kurang sependapat dengan penyaji karena pendapatnaya terlalu mengada-ada.
  3. Saya tidak setuju dengan penyaji karena pendapatnya sulit dibuktikan
  4. Saya kurang sependapat dengan penyaji karena kenyataannya tidak sepenuhnya ddemikian
  5. Saya menolak pendapat penyaji karena masalah yang dibahas tidak masuk akal.


UJI  KOMPETENSI 2

 

I. Berilah tanda silang pada huruf a, b, c, d, atau e pada jawaban yang benar!

1.

Paragraph di atas menganduung hubungan antargagasan secara ….

  1. Khusus-umum
  2. Umum-khusus
  3. Parsial
  4. Generalisasi
  5. Perincian

2.

Paragraph di atas menganduung hubungan antargagasan secara ….

  1. Khusus-umum
  2. Umum-khusus
  3. Parsial
  4. Generalisasi
  5. Perincian

3. Berikut ini contoh pembuka sambutan dalam sebuah acara, kecuali ….

  1. Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa.
  2. Bapak Kepala SMA 3, Bapak/Ibuu Guru beserta Karyawan SMA 3, Bapak/Ibu orang tua/wali siswa  SMA 3, rekan-rekan siswa SMA 3 yang berbahagia.
  1. Selamat pagi teman-teman yang berbahagia. Pada hari ini kita akan mengadakan lomba lari.
  2. Atas dasar itu, maka kita hendaknya selalu waspada akan bahaya narkoba.
  3. Selamat siang, Saudara sekalian. Senang sekali saya bias berdiri di sini untuk memberikan sambutan.

4. Berikut ini penggunaan ragam bahasa tidakbaku, kecuali ….

  1. Indonesiaharus bekerja keras jika ingin kemajuan teknologinya.
  2. Untuk menjaga kedaulatannya,Indonesiamenambah kwantitas Armada di Kawasan Ambalat.
  3. Dalam ketenteraman, dikenal adanya hirarki komando dalam sebuah pemerintah.
  4. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode pendekatan pasar.
  5. Indonesiabelum juga menemukan langkah konkrit untuk mengatasi masalah pengangguran.

5. Berikut ini merupakan bagian dalam pendahuluan pada laporan hasil penelitian adalah ….

  1. Alat dan bahan
  2. Prosedur percobaan
  3. Gambar peralatan
  4. Hipotesis
  5. Hasil percobaan

6. Berikut ini kalimat yang menggunakan kata tidakbakuadalah ….

  1. Dia aktip dalam organisasi sekolah.
  2. Anak itu sangat aktif.
  3. Dia menjadi aktivis di kampungnya.
  4. Aktivitasnya sehari-hari hanya makan dan tidur.
  5. Ikutilah diskusi dengan aktif!

7. Kalimat yang menggunakan kata tidakbakuadalah ….

  1. Tahun ini pengangguran kian meningkat.
  2. Swadaya masyarakat di daerah akan terus ditingkatkan.
  3. Lapangan pekerjaan di sector perikanan akan ditingkatkan.
  4. Pemerintah berupaya mengurangi pengangguran.
  5. Jumlah pengangguran dapat dikurangi dengan penambahan lapangan pekerjaan.

8. Hal-hal yang diperhatikan seseorang dalam menulis laporan seperti berikut, kecuali ….

  1. Mempunyai kelengkapan data dan fakta.
  2. Bersikap objektif.
  3. Menentukan bahasa yang formal.
  4. Menggunakan bahasa yang formal.
  5. Laporan disusun secara logis dan sistematis.

9. Berikut ini aspek kebahasaan yang harus diperhatikan narasumber dan peserta diskusi, kecuali ….

  1. Kosakata
  2. Ungkapan
  3. Perumpamaan
  4. Pilihan bahasa
  5. Isi informasi

10. Inti dari kegiatan meringkas adalah berikut, kecuali ….

  1. Mempertahankan gagasan asli naskah
  2. Mengembangkan gagasan pengarang
  3. Merangkum hal-hal penting
  4. Meramu gagasan utama yang bersifat umum.
  5. Menyajikan intisari buku.

11. Cara membuat ringkasan adalah sebagai berikut, kecuali ….

  1. Menggunakan kaalimat panjang dan lengkap.
  2. Membaca naskah asli.
  3. Mencatat gagasan utama.
  4. Mencatat pokok-pokok pikiran
  5. Membuat reproduksi naskah.

12. Beberapa ketentuan tambahan dalam meringkas buku adalah sebagai berikut, kecuali ….

  1. Menggunakan kalimat tunggal.
  2. Meringkas kalimat menjadi frasa dan frasa menjadi kata.
  3. Menghilangkan fungsi kalimat yang tidak penting.
  4. Mempertahankan susunan gagasan asli naskah.
  5. Mengenal pribadi pengarangnya.

13. Sumber cerita penulisan biografi dapat berasal dari hal-hal berikut kecuali ….

  1. Keluarga
  2. Teman
  3. Dokumentasi foto
  4. Kabar  burung
  5. Kerabat dekat

14. Berikut ini adalah hal-hal yang harus ada dalam sebuah notula rapat, kecuali

  1. Tempat dan waktu
  2. Pembukaan
  3. Tanya jawab
  4. Penutup
  5. Laporan notula sebelumnya

15. Berikut ini hubungan makna yang benar adalah ….

  1. Bunga hiponim dari mawar
  2. Sakit hiponim dari sehat
  3. Cantik hiponim dari sehat
  4. Biru hiponim dari warna
  5. Bagus hiponim dari buruk

16. Berikut ini merupakan passangan kata yang memiliki hubungan makna homofon ….

  1. Bank-bang
  2. Teras-teras
  3. Bagus-jelek
  4. Cantik-indah
  5. Bisa-bisa

17. Kata-kata yang beroposisi mutlak adalah ….

  1. Kaya x miskin
  2. Datang x pergi
  3. Tinggi x pendek
  4. Besar x kecil
  5. Hidup x mati

18. Berikut ini hal-hal yang harus diperhatikan dalam diskusi, kecuali ….

  1. Bersikap rasional
  2. Bersikap sopan santun
  3. Menyertakan alas an yang logis dalam tanggapan
  4. Menghargai pendapat orang lain
  5. Menggunakan bahasa yang ambigu

19. Berikut ini istilah-istilah mediamassa, kecuali ….

  1. Redaksi
  2. Kolom
  3. Pojok
  4. Reportase
  5. Penulis

20. Salah satu hal yang harus diperhatikan dalam berdiskusi adalah ….

  1. Menyela pembicaraan orang lain
  2. Menggunakan bahasa yang ambigu
  3. Bersifat subjektif
  4. Mengajukan tanggapan/ sanggahan disertai alas an yang logis
  5. Tidak menghiraukan saran atau pendapat orang lain

21. Fungsi tajuk rencana adalah sebagai berikut, kecuali ….

  1. Menjelaskan berita
  2. Mengisi latar belakang
  3. Meramalkan masa depan
  4. Menyajikan fakta saja
  5. Merumuskan penilaian moral

22. Berdasarkan segi peranan atau tingkat pentingnya tokoh cerita dibedakan menjadi ….

  1. Tokoh utama dan tokoh tambahan
  2. Tokoh protagonist dan tokoh antagonis
  3. Tokoh sederhana dan tokoh bulat
  4. Tokoh statis dan tokoh berkembang
  5. Tokoh tipikal dan tokoh netral

23. Hal-hal yang terdapat dalam notula rapat adalah ….

  1. Konsumsi rapat
  2. Latar belakang masalah
  3. Peserta rapat
  4. Kekurangan rapat
  5. Ketidaklancaran rapat

24. Berikut ini aspek kebahasaan yang harus diperhatikan narasumber dan peserta diskusi, kecuali ….

  1. Kosakata
  2. Ungkapan
  3. Perumpamaan
  4. Pilihan bahasa
  5. Isi informal

25. “Kebanyakan warga Bekasi tidak minum air sumur atau air pompa.”

Kesimpulan yang tepat atas pernyataan di atas adalah ….

  1. Masyarakat sudah modern
  2. Air tanah disanabanyak kadar besinya
  3. Masyarakatnya menggunakan air minum isi ulang
  4. Air minum isi ulang murah harganya
  5. Disanaterdapat banyak tempat penyulingan air.

26. Berikut ini bagian-bagian bab pendahuluan sebuah karya tulis, kecuali

  1. Latar belakang masalah
  2. Perumusan masalah dan tujuan penelitian
  3. Metode pengumpulan data
  4. Ruang lingkup penelitian dan manfaat penelitian
  5. Pembatasan istilah dan sistematika penyajian

27. Berikut ini adalah kalimat yang ambigu….

  1. Rata-rata yang gila kerja tidak merasa sakit kendati sedang sakit
  2. Suami-istri itu bertengkar mulut setiap hari
  3. Suami istri-itu sedang dirawat di rumah sakit
  4. Ibu Maria adalah seorang perancang busana terkenal
  5.   Ibu Maria adalah seorang perancang busana wanita

28. “Orang pintar minum tolak angin.”

Jika yang dimaksudkan adalah “seseorang itu pintar minum tolak angin” penempatan tanda jeda yang tepat adalah ….

  1. /Orang /pintar minum tolak angin//
  2. /Orang pintar/ minum tolak angin//
  3. /Orang pintar minum/ tolak angin//
  4. /Orang pintar minum tolak/ angina//
  5.  /Orang pintar minum tolak angin//

29. Penutup dalam karya tulis ilmiah umumnya berisi ….

  1. Kesimpulan
  2. Metode penelitian
  3. Latar belakang penelitian
  4. Populasi dan sampel
  5. Landasan teori

30. Berikut ini hal-hal yang terdapat dalam memo, kecuali ….

  1. Isi pesan singkat
  2. Tanda tangan dan nama penulis
  3. Tanggal penulisan
  4. Biodata penulis
  5. Ditujukan kepada

31. Ambigu berarti …

  1. Bermakna tunggal
  2. Bermakna denotative
  3. Bermakna ganda
  4. Bermakna konotatif
  5. Bersinonim

32. Isi pendahuluan dalam karya tulis ilmiah adalah sebagai berikut, kecuali …

  1. Tujuan penelitian
  2. Manfaat penelitian
  3. Pembatasan istilah
  4. Perumusan masalah
  5. Jenis penelitian

33. Karya tulis ilmiah hendaknya ditulis dengan prosedur berikut, kecuali ….

  1. Menggunakan kalimat efektif
  2. Menggunakan kata-kata denotative
  3. Menggunakan kalimat yang mudah dimengerti
  4. Menggunakan bahasa formal
  5. Menggunakan kalimat ambigu

34. Nilai yang berkaitan dengan perilaku baik-buruk disebut ….

  1. Nilai moral
  2. Nilai religius
  3. Nilai sosial
  4. Nilai estetika
  5. Nilai edukatif

35. Perhatikan kalimat berikut!

Kota itu terletak beberapa batu jauhnya dari sini.

Kata batu merupakan ungkapan yang mengandung arti ….

  1. Mil
  2. Contoh
  3. Sombong
  4. Mengambil perbandingan dengan
  5. Tidak diselesaikan

36. Sebaiknya kita becermin pada sejarah.

Kata becermin diartikan ….

  1. Mengambil perbandingan dengan
  2. Berkaca
  3. Melihat bayangan sendiri
  4. Suka membanggakan diri
  5. Mengakali/menipu

37. Peribahasa “Diam seribu bahasa” bermakna ….

  1. Tidak dapat bicara
  2. Tidak mengeluarkan perkataan sepatah katapun
  3. Tidak dapat berbahasa
  4. Tidak menggunakan seribu bahasa
  5. Tidak mengeluarkan kata-kata

38. Berikut ini aspek kebahasaan yang harus diperhatikan narasumber dan peserta diskusi, kecuali ….

  1. Kosakata
  2. Ungkapan
  3. Perumpamaan
  4. Pilihan bahasa
  5. Isi informasi

39. Hal-hal yang harus diperhatikan seseorang dalam menulis laporan, seperti berikut, keculai….

  1. Mempunyai kelengkapan data dan fakta
  2. Bersikap objektif
  3. Menentukan bahasa yang formal
  4. Menggunakan bahasa yang formal
  5. Laporan disusun secara logis dan sistematis

39. Penyampaian hasil penelitian hendaknya memperhatikan hal-hal berikut, kecuali ….

  1. Menggunakan bahasa yang jelas dan mudah dipahami
  2. Menggunakan bahasa yang lugas
  3. Menggunakan ungkapan dan peribahasa
  4. Menggunakan kalimat yang tidak berbelit-belit
  5. Menggunakan kalimat sederhana dan tata bahasabaku

40. Tajuk rencana bertujuan untuk ….

  1. Memberikan fakta pada publik
  2. Memengaruhi pendapat publik
  3. Menampilkan berita pada publik
  4. Menyampaikan kejadian sejelas-jelasnya
  5. Mengemukakan berita secara menyeluruh

41. Berikut ini hal-hal yang berkaitan dengan ejaan …

  1. Pemakaian huruf kapital
  2. Pemakaian tanda baca
  3. Penulisan kata
  4. Pemakaian kata yang pas
  5. Penulisan huruf miring

42. Unsur sejarah dan unsur kemasyarakatan yang terdapat dalam suatu karya sastra dapat kita kategorikan dalam unsur ….

  1. Instrinsik
  2. Ekstrinsik
  3. Estetika
  4. Majas
  5. setting

kesuksesan bukanlah sebuah anugrah, melainkan sebuah keberhasilan yang harus diperjuangkan!

Maka gapailah!

Posted in: Uncategorized